Gudang Penuh, Serapan Gabah Anjlok
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Gudang Penuh, Serapan Gabah Anjlok

Disinyalir gudang Bulog Jatim, Jateng dan Jabar penuh dan menyebabkan anjloknya serapan gabah petani di tiga propinsi tersebut dalam bulan Juli, Agustus dan September 2016, walaupun target serapan gabah pada ketiga propinsi tersebut belum terpenuhi.

Data yang dihimpun Kementrian Pertanian (Kementan) per 5 September 2016, Serapan beras di Provinsi Jabar, Jateng dan Jatim baru mencapai 438.724, 451.922 dan 581.011 ton dari target sebesar 650.000, 615.000 dan 1.050.000 ton sampai dengan akhir tahun.

Pada tahun ini, serapan tertinggi rata rata dicapai pada bulan Mei 101.471 ton untuk Jabar, 100.558 ton untuk Jateng, dan 133.275 ton untuk Jatim.

Selanjutnya serapan mulai anjlok pada Juli dan Agustus, yang mencapai hanya 40 persen dibandingkan serapan pada April-Mei.

Anjloknya serapan gabah ini ternyata tidak sejalan dengan potensi panen pada bulan-bulan ke depan. Pada kondisi potensi produksi melimpah dan srapan eanjlok selanjutnya dikhawatirkan mempengaruhi harga gabah di tingkat petani melorot.

Serap gabah Petani (Sergap) adalah kegiatan strategis yang dirancang Kementan dan Mitra Strategisnya, utamanya Bulog dalam rangka pengendalian harga gabah di tingkat petani dan beras di tingkat konsumen.

Manakala harga gabah di bawah Harga Pembelian Pemenrintah (HPP), Bulog diwajibkan untuk menyerap dengan harga HPP.

Jika yang terjadi sekarang serapan gabah Bulog anjlok dan tidak mampu diangkat kembali, dikhawatirkan harga pembelian gabah ditingkat petani oleh pihak lain selain Bulog akan merosot tajam.

Kondisi ini tentu akhirnya mempengaruhi target stok Bulog 3,9 juta ton pada tahun 2016, dan menurunnya kesejahteraan petani.

Winarno Tohir, Ketua KTNA menyesalkan kondisi anjloknya serapan gabah oleh Bulog tersebut. Pasalnya Bulog adalah pemain besar dan mitra utama petani, sedangkan yang lain kecil-kecil. “Kalau serapan Bulog anjlok dan terus berlanjut, ini akan mengecewakan petani,” katanya di Jakarta, Jumat (16/9).

Oleh karena itu, menurut Winarno harus segera diambil langkah konkrit. Kalau tidak segera, harga gabah anjlok dan petani tidak bersemangat lagi. Upaya Kementan untuk memenuhi produksi perlu dihargai dengan penyerapan dan pengendalian harga di tingkat petani, apalagi pada 3 provinsi ditambah Sulawesi Selatan, potensi panen pada bulan-bulan ke depan masih tinggi sampai akhir tahun.

“Jika gudang Bulog penuh, maka dari provinsi surplus, yaitu Jatim, Jabar, Jateng dan Sulsel, produksi berasnya harus di-move out (dipindahkan) ke provinsi yang masih minus,” katanya.

Untuk efisiensi distribusi, moving out ini harus bersifat regional, daerah di timur di distribusikan ke timur dan yang di barat didistribusikan ke barat.

Alternatif lain untuk jangka menengah dan panjang, Bulog agar segera merencanakan membangun gudang-gudang baru dilengkapi infrastruktur yang memadai pada sentra-sentra produksi padi. (sak)