Gus Ipul Jenguk Pasien Facial Cleft
KESEHATAN PERISTIWA

Gus Ipul Jenguk Pasien Facial Cleft

Wakil Gubernur Jatim Drs H Saifullah Yusuf memberi dukungan dan perhatian penuh bagi Tutik Handayani, penyandang kelainan facial cleft yang dirawat di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Surabaya. Perhatian ditunjukkan dengan mengunjungi Tutik di Ruang Inap RSUA, Mulyorejo Surabaya, Selasa (23/08).

Gus Ipul, sapaan akrabnya, dengan penuh hangat menghibur dan memberi semangat pada Tutik. Sikap hangatnya ini menunjukkan sisi kebapakan Gus Ipul. Tak ragu melontarkan candaan yang kemudian dibalas tawa bahagia Tutik. “Yang penting kamu bahagia. Orang kalau hatinya bahagia, dia pasti akan senang dan sehat jiwa raganya,” pesannya pada Tutik.

Tutik yang didampingi ibunya, Fatmawati, mengaku senang dikunjungi orang nomer dua di Jatim ini. Ia tak malu bercerita pada Gus Ipul bagaimana kesehariannya. Ia juga mengutarakan cita-citanya yang ingin menjadi ustadzah dan memiliki butik baju. Mendengar hal ini, Gus Ipul sontak memberikan semangat dan dukungan bagi gadis ini.

Gus Ipul meminta Tutik untuk membaca salah satu surat dalam kitab suci Al-Quran. “Tutik bisa ngaji Al Fatihah ya. Fasih juga ternyata bacaan calon ustadzah ini,” ujar Gus Ipul menghibur Tutik.

Di sela-sela dialog, Wagub Jatim juga mengajak bercanda Tutik yang kondisinya kian membaik. Selain itu, Gus Ipul juga memberi wejangan kepada Tutik, agar ia tak perlu malu dalam bergaul dengan teman-teman sebayanya. Pasalnya, selama ini Tutik jarang keluar rumah karena merasa berbeda dengan teman sebayanya.

“Alhamdulillah, Tutik bisa bercanda. Setelah ini sembuh ya, Tut. Yang penting Tutik sudah bisa tertawa, saya juga ikut bahagia,” ujar Gus Ipul. “Setelah ini, Tutik gak perlu minder sama teman-temannya, ya, jadi bisa main bareng temen,” imbuhnya.

Gus Ipul bersyukur karena Tutik ditangani dengan cukup baik di RSUA. Ia juga mengapresiasi pihak-pihak yang telah bekerja secara maksimal dalam penyembuhan Tutik.

“Ini termasuk fenomena yang patut kita berikan apresiasi. Kita semua baru tahu ada seseorang yang memerlukan dukungan dari semua pihak. Saya bersyukur Tutik ditangani oleh RS yang punya kompetensi memberikan bantuan”, ungkapnya.

Menurutnya, yang menjadi fokus adalah pasca operasi Tutik, yakni biaya hidup dan pendidikannya. Ia akan minta Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim yang akan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang mencari cara terbaik, apakah dengan ikut Paket Belajar atau masuk ke dalam sekolah berkebutuhan khusus.

“Yang menjadi fokus adalah ia harus mengenyam pendidikan, karena selama ini ia tak pernah mengenyam pendidikan sekolah. Saya juga minta pada Bupati Lumajang untuk diikutkan program BPJS sekaligus dipikirkan jaminan hidupnya, supaya Tutik bisa hidup normal dan dapat dukungan yang cukup bukan hanya dari keluarga tapi juga lingkungannya”, ujarnya.

Terkait biaya pendidikan, ia sudah berkoordinasi dengan Rektor Unair dan pihak Rumah Sakit. Selain itu, terkait jaminan kesehatan adalah menjadi tanggungjawab pemerintah. “Ada jaminan kesehatan nasional, jadi keluarga tidak perlu khawatir. Sedangkan untuk biaya perawatan, tadi sudah kami bahas dengan Rektor Unair, setelah pasca operasi itu akan menjadi tanggungjawab Pemprov dan Pemkab Lumajang”, ungkapnya.

Rektor Unair Prof Dr H Mohammad Nasih MT SE Ak mengatakan, dalam menangani pasien Tutik dibutuhkan proses cukup panjang. “Dari sisi financial sudah kami siapkan. Terkait dengan proses operasi yang dilakukan di RS ini, seperti dokter dan lain – lain kami berikan secara free, karena itu yang bisa kami persembahkan untuk masyarakat, melalui pengetahuan dan keahlian.

“Untuk penggunaan fasilitas akan kami berikan secara gratis. Obat-obatan mendapat bantuan dari alumni Universitas Airlangga melalui Ikatan Alumni, karena obat harus beli dari pihak lain. Dokter, fasilitas dan obat-obatan akan kami cover”, ujarnya.

Tutik Handayani, gadis kelahiran Lumajang, 5 November 1999, mengalami kelainan wajah sejak lahir. Wajahnya mengalami facial cleft alias sumbing wajah. Namun, facial cleft yang dialaminya tergolong parah. Rahang atas Tutik tidak terbentuk sempurna. Karena itu, semua bagian atas giginya terlihat dan tidak ada bibir yang menutupi.

Mata gadis berambut lurus itu juga tidak sempurna. Kelopak matanya terbuka, namun bola matanya tak bisa terlihat karena ada semacam lapisan yang menutupi. Gadis berusia 16 tahun ini tak pernah mengenyam pendidikan sekolah. Jangankan sekolah, untuk keluar rumah dan bertemu orang saja ia malu.

Ia sudah menjalani operasi tahap pertama 18 Agustus lalu dan rencananya akan pulang dua hari lagi. Akan tetapi ia akan menjalani beberapa tahap operasi lagi ke depannya.

Turut dalam kunjungan Kepala Dinas Pendidikan Jatim Saiful Rachman, Bupati Lumajang Drs H As’at Malik MAg bersama istrinya. Rektor Unair menyambut Gus Ipul didampingi Wakil Direktur RS Unair Prof M Amin dr SpP (K), Kepala PIH Uanir Dr Sukowidodo dan ketua tim dokter kasus celah wajah dr Indri Lakshmi Putri SpBP-RE (KKF). (sak)