Gus Ipul Kampanye Anti Hoax
MEDSOS PERISTIWA

Gus Ipul Kampanye Anti Hoax

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf minta pada generasi muda menggunakan internet untuk kepentingan produktif bukan sebaliknya. Teelbih untuk kepentingan berita bohong, palsu atau hoax. Hal itu ddisampaikan pada Seminar Nasional Kebangsaan ‘’Hoax dan Dunia Akademik’ di kantor Pusat Bank Jatim, Selasa.

“Mulai dari anak-anak hingga orang tua sudah banyak menggunakan fasilitas internet. Baik mengirim surat elektronik, membaca berita, mengirim tugas kepada guru/dosen, atau hanya sekedar bermain-main dengan jejaring sosial dan game online,” ujar Gus Ipul sapaan lekatnya.

Tidak hanya itu, kata Gus Ipul lebih lanjut, banyak tantangan ke depan dalam penggunaan internet. Termasuk berita bohong, berita palsu, maupun wacana SARA yang bisa mengancam perpecahan bangsa kita. Oleh karena itu, perlu menggalang semua kekuatan agar bisa menggunakan internet untuk kepentingan yang produktif terutama bagi generasi muda.

Dengan dilaksanakannya Seminar Nasional Kebangsaan ini diharapkan dapat menggali langkah ke depan agar penggunaan internet untuk hal-hal yang produktif, kemajuan, dan kebersamaan. “Jika perlu sebagai tempat menggalang kekuatan membangun kebersamaan, saling percaya, dan mengembangkan budaya ilmiah,” tuturnya.

Mengenai tantangan kebangsaaan saat ini, Gus Ipul menjelaskan, jejaring internet memungkinkan siapa saja berinteraksi yang terkadang disertai kebencian (hate speech) terkait ideologi ataupun pemahamanan tertentu yang cenderung bertentangan dengan pihak lain.

“Ujaran kebencian itu berupa penghinaan pencemaran nama baik. Penistaan perbuatan tidak baik menyenangkan provokasi, penghasutan dan penyebaran berita bohong dengan dampak terjadinya diskriminasi kekerasan serta konflik. Yang menyebarkan berita bohong tidak hanya yang literasi rendah. Tetapi yang berpendidikan juga mengembangkan berita-berita bohong,” imbuhnya.

Lebih lanjut disampaikannya dalam fakta di Indonesia 800 ribu lebih situs penyebaran hoax, 70 persen menyebar lewat media sosial. Seperti FB, Twitter, Instagram, Path dan lain-lain, 20 persen menyebar lewat tayangan pesan dan chat (sms, whatsapp, bbm, line dll), 10 persen blog, email dll, serta 60 persen pembuat , penyebar dan penikmatnya usia produktif (17-40 tahun).

Di Indonesia sendiri, pengguna internet setiap tahun meningkat dan sudah mencapai 132 juta jiwa. Diperkirakan tahun 2017 bisa mencapai 140 juta pengguna.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Yudi Latif mengatakan, merebaknya penyebaran hoax mencerminkan sesuatu yang lebih sinister ketimbang sekedar berita kebohongan.

Dijelaskan, industri hoax berkembang pesat dalam konteks masyarakat dengan minat baca nomor dua terendah (setelah Boswana) di dunia. Tapi penggunaan media sosialnya nomer empat di dunia. Pengguna media sosial dapat dikatakan sebagai pseudo-literacy.

Meskipun aktivitasnya memerlukan kemampuan baca tulis, tapi hakikat penggunaannya merupakan perpanjangan dari tradisi kelisanan, yang tidak begitu memerlukan presisi dan nalar ilmiah yang ketat. (sak)