Hengkang dari Go-Jek, Gabung ke Kibar
KOMUNITAS PERISTIWA

Hengkang dari Go-Jek, Gabung ke Kibar

Penyedia aplikasi layanan on-demand Go-Jek baru saja ditinggal seorang petingginya, Alamanda Shantika Santoso. Mundur sebagai Vice President of Product di Go-awal Oktober 2016 dan kini melalui KIBAR membantu melahirkan startup baru lewat Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika .

Awalnya Alamanda berencana untuk keluar dari Go-Jek untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Niat itu bahkan sudah muncul sejak akhir 2015. Tapi nyatanya Alamanda malah tertarik untuk membantu melahirkan usaha rintisan baru.

Wanita berdarah Madura-Medan ini di Gojek, Alamanda bertanggung jawab langsung terhadap segala produk teknologi yang ada pada GoJek, kini dia ingin membagi ilmunya kepada 1000 calon Nadiem Makarim selanjutnya.

“Gojek sudah seperti role model di Indonesia. Sejak Gojek lahir, banyak teman-teman yang melek bahwa tanpa harus jadi menteri atau PNS, kita sudah bisa membangun negeri ini lebih maju,” paparnya kepada media di Jakarta.

Dari situ Alamanda terpanggil untuk melahirkan lebih banyak startup. Kalau dulu 2014 sudah berhasil membuat aplikasi Gojek, Alamanda ingin ilmu yang sudah didapatnya di Gojek, bisa berlipat ganda.

“Kemarin di Gojek, kita bisa menghidupi 250 ribu driver se-Indonesia. Kalau ada 1000 startup seperti Gojek, berati kita bisa menghidupi 250 juta manusia,” kata Alamanda.

Alamanda menuturkan bahwa memang sudah menjadi habit-nya untuk terus berakselerasi. Dia termasuk orang yang sering mengakselerasi hidup. Dari SMP duduk di kelas akselerasi. Waktu kuliah ia sudah bangun startup sendiri. Ketika bekerja di suatu perusahaan, memang tidak pernah berlama-lama.

Alamanda merasa harus mengakselerasi hidup terus menerus. Ia ingin selalu menjadi yang paling depan. “Kemarin saya bilang ke teman-teman di Gojek, suatu saat saya pasti keluar, karena mimpi saya tuh masih panjang. Mimpi saya itu jadi Menteri Pendidikan,” katanya.

Cita-cita yang awalnya hanya mimpi terus dibawa Alamanda dan menjadi bahan bakar untuk menuju ke sana. “Makin lama saya merasa makin dekat menuju mimpi. Karena mimpi itu terus saya bawa, saya harus terus melangkah. Ternyata kesempatan itu datang sekarang. Pas gerakan nasional 1000 startup digital,” pungkasnya.

Bisa dibanding ketika berada di level terakhir di Go-Jek, dia baru sadar kalau ternyata sudah di level atas. Maka kini fungsinya menciptakan leader-leader baru. “Sekarang gimana caranya saya bisa melakukan hal serupa ke seluruh Indonesia. Bersama Kibar di Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital, saya bisa melakukan hal itu,” ujar Alamanda.

“Tadinya memang mau keluar dari Go-Jek untuk sekolah PhD di Stanford University, tapi Nadiem nggak ngasih izin. Nadiem maunya suatu saat saya meng-hire PhD untuk Go-Jek. Tim di Go-Jek juga bilang sebaiknya niat sekolah itu ditunda dulu.”

“Sampai akhirnya saya benar-benar meyakinkan diri untuk keluar karena sudah seharusnya melangkah. Nadiem juga akhirnya support, dia bilang ke seluruh karyawan kalau membiarkan saya terbang tinggi untuk mengejar mimpi saya,” tuturnya.

Di Go-Jek sendiri, Alamanda merupakan tim pertama yang direkrut Nadiem untuk mengembangkan aplikasi dan membentuk tim engineering. Saat itu tim di Go-Jek baru empat orang dan hanya berkantor di ruang yang kecil. Ikut membesarkan Go-Jek dari awal inilah yang membuat Alamanda sedih ketika harus mengundurkan diri. “Memang sedih banget, tapi saya belajar untuk ikhlas bahwa terkadang kita memang harus meninggalkan sesuatu untuk yang lebih besar lagi,” pungkasnya. (sak/ist)