Ibu Jualan Kopi, Anak Raih Emas PON
OLAHRAGA PERISTIWA

Ibu Jualan Kopi, Anak Raih Emas PON

Atlet selam asal DKI Jakarta, Reinhard Tomel berhasil meraih dua medali emas di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Barat (Jabar) 2016. Prestasi Reinhard membuat bangga sang ibunda, Elbriani Sinaga, yang rela berjualan kopi di Senayan demi menunjang kebutuhan anaknya berlatih selam.

Perlombaan Selam Nomor Kolam pada PON XIX Jawa Barat 2016 semakin seru, rekor baru pun kembali dipecahkan oleh atlet selam Kontingen Jakarta, Reinhard Tomel.

Pria kelahiran Jakarta 17 Juli 1990 ini berhasil membawa dua medali emas dan rekor terbaru nomor selam 400 meter surface putra. Prestasi yang diraihnya itu membawa rasa bangga sang ibunda Elbriani Sinaga yang hadir menyaksikan sang anak.

Prestasi yang diraih anaknya itu cukup membanggakan, terlebih keberadaan sang ibunda memotivasi Reinhard Tomal dan juga adiknya Yohanes Richard Aditya di cabor selam ini. Elbriani Sinaga mengaku bangga dan tak mampu berkata-kata melihat perkembangan prestasi sang anak.

Dia pun mengaku rela bekerja serabutan demi membiayai sang anak berlatih dan membeli perlengkapan selam. Bahkan, untuk memaksimalkan kebutuhan Reinhard berlatih selam, dia pun memutuskan untuk berjualan kopi di lingkungan Senayan.

“Sejak Reinhard usia satu tahun saya cari uang kerja serabutan dan jualan kopi di Senayan sampai 10 tahun. Sejak ayahnya meninggal dan anak saya sudah berprestasi saya diminta berhenti jualan kopi. Jadi fokus ngurus anak saja,” tutur Elbriani, Jumat (17/9) seperti dirilis Humas KONI DKI.

Dia mengatakan, keputusan berjualan kopi karena melihat semangat, keinginan sang anak berprestasi dalam olahraga air. Dia pun selalu berjualan kopi di kolam renang Senayan setiap kali ada event.

Uang hasil jualan kopi, dia sisihkan hanya untuk membelikan perlengkapan selam bagi Reinhard. Dia pun rela bangun pagi untuk membantu sang anak agar lebih disiplin waktu. “Sejak ayahnya meninggal saya disuruh fokus urus anak-anak. Kami hidup dari prestasi anak-anak saya,” sebutnya.

Selain atas permintaan anak, dia berhenti jualan kopi sejak melihat sang anak berprestasi hingga tingkat dunia. Terlebih, semangat Reinhard menjadi atlet dunia juga diikuti sang adik Yohanes Richard Aditya.

“Mulai berhenti total jualan kopi sejak saya dampingi anak saya Reinhard ikut kejuaraan dunia tujuh negara di Belanda dapat emas dan Richard 3 emas dan 2 perak,” sebutnya.

Reinhard dan Richard pun terus menoreh prestasi hingga akhirnya mampu membeli rumah bekas dari bonus atlet pada Sea Games dan PON Riau beberapa waktu lalu. Terkait bonus atlet yang akan didapat sang anak pada PON XIX Jawa Barat 2016, Elbriani menyerahkan semuanya kepada sang anak.

“Saya terserah mereka saja mau dibuat jualan apa atau mau diapakan uangnya lewat saya yang penting saya bangga,” ujarnya.

Sang Adik Sang Penerus
Bagi Reinhard, bukan kali ini saja meraih medali emas di PON. Empat tahun lalu, dia juga turut mengantarkan tim selam ibukota meraih gelar juara umum PON XVIII/2012 di Riau.

Namun PON ke-XIX di Jawa Barat, tampaknya akan tetap lekat dalam ingatannya. Sebab, dalam perhelatan ini, untuk kali pertama, dia bersaing dengan sang adik, Yohanes Ricard Aditiya.

Keduanya sama-sama membela DKI Jakarta, berlaga di cabang olahraga (cabor) yang sama, pada nomor pertandingan yang sama dan sama-sama berprestasi pula.

Dalam pertandingan cabor selam nomor kolam yang dihelat di Kolam Renang Catherine Surya, Kota Cirebon, Jumat dan Sabtu (16-17/9), Reinhard sukses menyumbangkan dua medali emas dari nomr 800 dan 400 meter putra. Dari nomor yang sama, sang adik mempersembahkan dua medali perunggu.

Saat dua bersaudara ini beradu cepat di kolam renang, dari tribun penonton, Elbriana Sinaga tak henti-hentinya menyerukan dukungan. Di antara ratusan suporter yang datang dari berbagai daerah, penampilannya sangat mencolok.

Bendera khas berwarna oranye bergambar logo Kota Jakarta tak pernah lepas dari genggamannya. Suaranya serak. Tapi seakan tak pernah lelah berteriak. Ia berlari ke sana ke mari, mengibaskan bendera, mengangkat topi, dan berteriak lagi. Tak peduli meski aksinya jadi tontonan ratusan pasang mata.

“Ayo Rein! Ayo Ricard! Berjuang lah nak. Berjuang untuk ayahmu yang telah berada di sorga,” serunya.

Suaminya, ayah dari Reinhard dan Ricard, Thomson Lumban Gaol, wafat hampir setahun lalu. Thomson meninggal setelah berjuang keras melawan penyakit Hepatitis B, Oktober 2015 lalu.

Pada pertandingan final nomor 400 meter bifins putra, Reinhard turun di lintasan dua, sementara Ricard berada di lintasan empat. Di antara keduanya, adalah Evan Adiputra, peselam asal Jawa Barat.

Dalam pertandingan itu, Reinhard menyentuh finish dengan catatan waktu tercepat, 3 menit 10,21 detik. Tidak lama kemudian, menyusul Bima Dea Sakti Antono dari Jawa Timur dengan catatan waktu, 3 menit 16,72 detik. Ricard finish di tempat ketiga dengan catatan waktu, 3 menit 21,63 detik.

Ricard langsung menghampiri sang kakak. Di dalam kolam, keduanya berpelukan erat merayakan kemenangan. “Bangga sekali bisa bersaing sekaligus berjuang bersama dengan kakak. Dia panutan saya dalam olahraga sekaligus rival yang terberat,” kata Ricard usia pertandingan.

Bagi Reinhard, sang adik adalah penerusnya yang paling layak. Meski usia mereka terpaut cukup jauh (Reinhard 26 tahun sedangkan Ricard 17 tahun), menurutnya, Ricard sudah mampu mendekati kemampuannya. “Sejak latihan di Hungaria beberapa bulan lalu, Ricard memang sudah mampu mengimbangi saya. Dia itu next-nya saya,” ungkapnya. (sak/foto ist)