Impian Ayah Tunanetra Berhaji
KOMUNITAS PERISTIWA

Impian Ayah Tunanetra Berhaji

Memiliki anak salihah adalah impian semua orang tua. Berbakti dan mengabdi juga menjadi cita-cita, bagi seorang anak kepada orang tuanya.

Ucapan tersebut sangat cocok disematkan kepada Sukanti, Jemaah Calon Haji (JCH) asal embarkasi Solo, Jawa Tengah. Wanita berusia 41 tahun itu kini berbahagia karena bisa berhaji dengan ayahnya Suroso yang merupakan penyandang tunanetra.

Tim Petugas Media Center Haji (MCH) PPIH Arab Saudi menyambangi Suroso di hotelnya menginap, kawasan Syimaliah, Madinah. Lokasi ini berjarak sekitar 200 meter dari Masjid Nabawi.

Sesampai di sana, Sukanti menyambut kami dengan ramah. Ia tidak sendiri, melainkan bersama ayah tercintanya, Suroso yang sudah berusia 84 tahun.

Saat ditemui, Sukanti tengah menemani sang ayah di hotel. Ia begitu telaten menyiapkan kebutuhan sang ayah, untuk ibadah di Masjid Nabawi.

Sejak usia 8 tahun, Suroso memiliki keterbatasan dan tidak bisa melihat sama sekali. Adapun Sukanti, yang merupakan putri sulung Suroso, dengan gigih menjaga dan merawat Suroso.

“Sejak ayah mengungkapkan ingin berhaji, di situlah saya membulatkan niat untuk bisa memberangkatkan beliau. Apapun saya lakukan,” kata Sukanti, Rabu (22/05).

Sukanti bercerita, berhaji sebenarnya sudah menjadi impian ayahnya sejak lama. Terutama setelah ibunya Mardiyah, telah melaksanakan haji lebih dulu.

“Beliau bilang, saya sudah tidak bisa lihat apa-apa, saya hanya ingin bisa melihat Ka’bah dan berhaji. Tidak ada lagi yang saya inginkan selain itu,” ujar Sukanti.

Perjuangan Sukanti bukanlah mudah. Ia harus rela merantau ke Malaysia usai reformasi tahun 1998.

Dengan jerih payah, Sukanti menyisihkan sebagian penghasilan demi ayah berhaji. Akhirnya, pada 2018, dia pun mendaftar haji bersama sang ayah.

“Awalnya saya tanya ke petugas pendaftaran, apakah saya bisa menemani bapak. Oleh petugas diperbolehkan,” ucap Sukanti.

Dari situ lah, dia pun berikhtiar untuk menyisihkan penghasilannya untuk biaya pelunasan haji. Hingga masa penantian itu tiba, Suroso masuk dalam daftar CJH prioritas lansia, yang berangkat di 2024.

Demikian pula Sukanti yang ikut mendapat panggilan, karena menjadi pendamping Suroso. Awalnya dia sempat kaget, karena jarak antara mendaftar dan berangkat cukup pendek, hanya enam tahun.

Padahal, di daerah lain bisa puluhan tahun. “Saya baru dapat panggilan setelah Lebaran lalu,” katanya.

Dalam waktu singkat, dia pun harus menyelesaikan semua yang diperlukan, termasuk pelunasan. Tidak hanya itu, dia juga harus mengajukan izin untuk cuti di tempatnya bekerja, di sebuah yayasan di Malaysia. “Alhamdulillah, ternyata saya diizinkan untuk cuti panjang. Sekitar empat bulan,” ujarnya.

Sore itu, kami mencoba mengikuti langkah kaki Suroso bersama anaknya menuju Masjid Nabawi. Suroso kemudian duduk dan bercerita, bahwa dirinya bangga memiliki anak salihah seperti Sukanti. “Alhamdulillah. Kulo bungah sampun saget ten mriki (saya bahagia bisa berada di sini, Red),” kata Suroso.

Bagi Suroso, tidak ada lagi yang diinginkannya, selain datang ke Tanah Suci, melaksanakan ibadah haji. “Cuma pingin mriki (Hanya ingin melihat ke sini/menjalankan ibadah haji, Red),” ujar Suroso sambil tersenyum.

Impian Suroso untuk berhaji akhirnya terwujud. Begitu juga bagi Sukanti, yang baginya menyenangkan kedua orang tua, tidak bisa terbayarkan dengan apapun. (rri)