Indonesia Raya Berkumandang di AIYF Skotlandia
PERISTIWA SENI BUDAYA

Indonesia Raya Berkumandang di AIYF Skotlandia

Saat negara-negara lain lagu kebangsaannya dinyanyikan oleh official choir, pihak festival meminta Tim Indonesia menyanyikan lagu kebangsaannya sendiri dengan alat musik Angklung.

Tangis pun pecah. Irma Noerhaty, sang konduktor tidak mampu membendung air matanya ketika bendera Merah Putih yang dibawa Bobi Aulia Syafiq memasuki ruangan. Teh Irma memimpin lagu Indonesia Raya sambil berlinang air mata. Penonton pun bergemuruh memberikan applause.

Maulana M Syuhada, seorang Doktor (PhD) dalam bidang Management Science dari Lancaster University, Inggris, yang merupakan pimpinan rombongan ‘Muhibah Angklung 40 Days in Europe’ mengatakan itulah yang membuat kita semua bangga sebagai Bangsa Indonesia, khususnya warga Jawa Barat.

Momen itu terjadi di Konser Pembukaan ‘Aberdeen International Youth Festival’ (AIYF) yang dilaksanakan di The Beach Ballroom, Aberdeen, Skotlandia, awal Agustus lalu. Tim Angklung Indonesia yang beranggotakan 41 remaja putra dan putri dari berbagai daerah Jawa barat itu juga tampil di World Music Night yang diadakan di Queens Cross Sanctuary, Aberdeen.

Dengan tema ‘Muhibah Angklung 40 Days in Europe’, sebanyak 41 pelajar yang berasal dari seluruh tingkat sekolah di lingkungan Paguyuban Pasundan, Jawa Barat, diberangkatkan ke Eropa.

Mereka mementaskan angklung dan kesenian lainnya pada festival-festival budaya yang dipergelarkan di beberapa negara Eropa, yaitu Skotlandia, Inggris, Irlandia, Republik Ceko, Jerman, Belgia, Polandia dan Prancis.

Pada salah satu agenda kegiatannya, tim mendapat kesempatan untuk ‘join concert’ dengan North Shore Celtic Ensemble dari Kanada. Sesi pertama pertunjukan, tim membawakan Lagu-lagu tradisional Indonesia.

Seperti Lalayaran Hariring Haleuang Tembang dari Sunda, Bengawan Solo dari Jateng, Jali Jali dari Jakarta, Medley Batak, Angin Mamiri dari Sulsel dan Tari Indang/Badindin dari Sumatera Barat. Membuat penonton menjadi impressed karena baru pertama kali meliat alat Musik angklung yang asli berasal dari Jabar itu.

“Di sesi pertama, orang-orang impressed karena baru pertama kali lihat angklung. Di sesi kedua, lagu internasional, lebih melongo lagi, karena gak nyangka angklung bisa maenin lagu-lagu pop, bahkan ppera. Penonton pun standing applause!” ujar Maulana M Syuhada.

Sesi kedua tim menampilkan lagu New York New York, Mamma Mia dari ABBA, Pompeii (Bastille), Li Biamo Ne Lieti Calici dari Opera La Traviatta (Verdi), Santorini (Yanni) serta Also Sprach Zarathustra (Richard Strauss) dan Blue Danube (Johann Strauss).

“Pada akhir acara, kami berkolaborasi memainkan lagu Oblada–Obladi dari The Beatles. Getaran Bambu-bambu angklung bersinergi dengan gesekan biola Celtic dari Kanada. Latihannya hanya 30 menit, yaitu 1,5 jam sebelum konser dimulai. Jadilah angklung ‘kawin’ dengan biola! A rare occasion! Suatu kehormatan besar bisa bermain musik angklung di sini dan berkolaborasi dengan musisi-musisi negara lain,” pungkasnya.

AIYF di Skotlandia merupakan penampilan perdana tim, selanjutnya akan mengisi acara di Wisma Nusantara London, dalam acara Temu Masyarakat dalam rangkaian HUT RI ke-71 pada hari Minggu 7 Agustus dan selanjutnya melanjutkan lawatan ke lima negara di Eropa mengikuti festival.

Maulana yang pernah menuntut ilmu di Technical University of Hamburg mengatakan dari London, tim angklung melanjutkan perjalanan ke Paris, Brussels, Westerlo, Hamburg, Praha, dan kemudian mengikuti international folklore festival di selatan Ceko, di kota Cerveny Kostelec dan ditutup di International Festival of highland folklore di kota Zakopane Polandia.

Angklung telah diakui UNESCO sebagai world’s intangible cultural heritage pada tahun 2010. Sebagai alat musik ‘estafet’, angklung memiliki bahasa universal yang mampu meleburkan sekat-sekat perbedaan, menginspirasi tentang nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, ketangguhan, kepemimpinan, serta persatuan dan kesatuan.

Kini angklung sering kali menjadi media diplomasi budaya Indonesia dan penyampai pesan persahabatan antar bangsa, seperti misi 40 hari yang dilakukan tim “Muhibah Angklung 40 Days in Europe” ini. (sak)