Industri Perhiasan Andalan Jatim
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Industri Perhiasan Andalan Jatim

Industri perhiasan permata saat ini merupakan salah satu industri masa depan yang mrnjanjikan dan menjadi andalan Provinsi Jawa Timur.

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf saat membuka Surabaya Jewellery Fair (SJF) ke-21 Tahun 2016 di Hotel Sangri La Hotel Surabaya, Kamis (27/10).

Dikatakannya, pameran SJF sampai yang ke-21 di Surabaya menunjukan industri perhiasan permata berkembang pesat di Jatim.

Oleh sebab itu ia berharap industri perhiasan yang basisnya di Jatim terus berkembang semakin bertambah maju dan mempunyai daya saing dipasar lokal dan pasar internasional.

Dicontohkannya, Singapura dan Malaysia merupakan tujuan ekspor perhiasan permata Jatim. Ini menujukan industri perhiasan Jatim mempunyai keunggulan yang luar biasa.

Jatim mempunyai keunggulan komparatif seperti kekayaan sumber daya alam, jumlah penduduk jikalau dikelola dengan benar akan berkembang, tetapi kalau tidak dikelola akan habis.

Tetapi saat ini dan masa depan Jatim juga terus berusaha mengembangkan keunggulan kekayaan kompetitif dengan daya saingnya.

Industri perhiasan permata di Jatim merupakan industri kreatif yang mempunyai peran strategis dalam memdukung pertumbuhan ekonomi. Ini dibuktikan permintaan perhiasan permata khususnya emas menunjukan trennya yang semakin meningkat pesat.

Hal ini dikarenakan perhiasan permata selain berfungsi sebagai karya seni yang mampu memperindah penampilan tetapi juga merupakan sarana untuk berinfestasi yang menjanjikan.

“Oleh sebab itu SJF diselenggarakan jangan setahun sekali tetapi tiga kali dalam setahun. Karena pada dasarnya membeli perhiasan sifatnya tidak saja konsumtif tetapi juga mempunyai nilai investasi,” katanya.

Permintaan produk komoditi perhiasan permata bisa dilihat dari kinerja ekspor ke mancanegara, pada 2015 ekspor perhiasan Jatim mencapai 2,71 miliar USD menempati peringkat pertama ekspor non migas.

Sementara ekspor perhiasan permata Jatim mulai Januari-Agustus 2016 melonjak menjadi 3,55 miliar USD. Juga masih menjadi peringkat teratas ekspor non migas Jatim dengan kontribusinya 29,04 persen terhadap total ekspor non migas sebesar 12,22 miliar USD.

Selain itu, industri perhiasan permata Jatim mempunyai kontribusi sekitar 25 persen terhadap produksi perhiasan nasional. Hal tersebut didukung dengan keberadaan 26 unit industri perhiasan berskala besar menengah serta 1.854 unit industri perhiasan berskala kecil.

Lkasinya tersebar di berbagai sentra industri perhiasan di 38 kabukaten/kota di Jatim. Seperti di Surabaya, Gresik, Lamongan, Pasuruan, Lumajang, dan Pacitan.

Industri perhiasan mampu menyerap tenaga kerja sekitar 17.600 orang. Sementara itu upaya Pemprov Jatim meningkatkan daya saing produk perhiasan dengan memberikan fasilitasi desain.

Produk perhiasan UMKM Jatim banyak mempunyai keunikan yang mempunyai nilai seni tinggi dan berbasis budaya lokal. Budaya lokal yang menjadi kearipan lokal perlu tetap dipelihara karena memiliki kareteristis yang unik ditengah kemajuan peradapan bangsa

Seperti adanya lomba-lomba desain produk perhiasan yang dilenggarakan Disperindag Jatim akan memperkaya desain perhiasan akan lebih kreatif dan menarik.

Desain tersebut merupakan hasil karya para generasi muda anak bangsa dan pemerhati model desain perhiasan Jatim yang mengambil dari budaya kearifan lokal dari kerajaan-kerajaan yang ada di Jatim.

Ditambahkannya, perdagangan bebas saat ini sulit untuk dielakan, dicontohkan salah satunya telah diberlakukan perdagangan MEA yang telah diberlakukan sejak 2015.

Dimana sepuluh negara ASEAN telah terintegrasi menjadi pasar tunggal yang memungkinkan kebesan arus barang, jasa, tenaga kerja serta arus modal antar negara-negara ASEAN semakin terbuka. Oleh sebab itu Jatim harus bisa menjadi pemain bukan menjadi penonton dan menjadi pemenangnya. (sak)