Intan: Ujian Tesis Magister dengan Film
PERISTIWA PROFIL

Intan: Ujian Tesis Magister dengan Film

Ada yang berbeda dari ujian tesis pada jenjang magister Program Studi Media dan Komunikasi FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Untuk pertama kalinya, karya tesis berupa film diujikan dalam sidang magister.

Adalah Intan Tetty Parsaulian Siringoringo, pembuat tesis film pendek berjudul ‘Dekonstruksi Sanksi Disiplin karena Perceraian dalam Sebuah Tata Tertib Institusi Sinode Gereja pada Produksi Film Semi Dokumenter’.

Filem eh tesis itu diujikan dihadapan empat dosen penguji, Rabu (20/7) lalu. Tesis ini dikerjakan dibawah bimbingan pengajar Departemen Komunikasi Prof Dra Rachmah Ida MComm PhD. Pada penghujung sidang, tesis film pendeknya mendapat nilai A dari para penguji.

Mengapa Intan memilih membuat film? Menurut lulusan Desain Komunikasi Visual, Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Australia, dirinya ingin membuat film semi dokumenter tentang perjalanan pelayanan hidup kakak kandungnya semasa hidup.

Menanggapi ide dari Intan, dosen pemimbing tesisnya Prof Rachmah Ida memintanya membuat eksegesis sebagaimana tesis pada umumnya. “Film ini memiliki tujuan penting dan sebagai persembahan untuk kakak saya, Hisar, yang meninggal dunia dua tahun lalu,” tutur Intan.

Film berjudul ‘Pisau Putih’ itu terinspirasi dari kisah nyata yang dialami kakaknya sendiri. Kakak Intan merupakan pendeta yang diancam pemecatan oleh sebuah sinode gereja akibat masalah rumah tangga.

“Ada satu poin dalam tata tertib pendeta yang dikeluarkan sebuah sinode gereja, bahwa pendeta yang rumah tangganya bermasalah seperti melakukan perceraian dengan istri atau suami, akan langsung mendapatkan sanksi disiplin berupa permberhentian secara tetap (pemecatan) tanpa melihat kasus per kasus,” tutur Intan.

Poin itulah yang ingin didekonstruksi Intan. Ia menggunakan teori dekonstruksi Jacques Derrida dan metode penelitian visual yang dicetuskan Gillian Rose untuk menganalisis ‘Pisau Putih’ yang berdurasi 30 menit itu. Intan menekankan, seharusnya para sinode gereja mempertimbangkan kasus per kasus yang dialami pendeta.

“Jika si pendeta adalah korban, itu artinya ia sedang mengalami suatu kekecewaan dan sakit hati. Dalam keadaan demikian, seharusnya pendeta perlu dibimbing dan direhabilitasi. Tidak perlu sampai harus dipecat,” tutur Intan.

Dalam pembuatan tesis film, Intan berperan baik di depan kamera maupun belakang layar. Ia melakoni peran dari tahap pra produksi, pelaksanaan syuting, hingga pasca produksi. Intan berperan sebagai produser, penulis naskah, pembuat story board, dan aktor.

Namun, ia tetap terlibat dalam kerjasama tim yang terdiri dari kameramen, penata cahaya, penata suara, fotografer, visual FX, serta para aktor dan aktris yang berperan dalam film.

Untuk menekan biaya produksi, Intan menggunakan peralatan dari rumah produksi milik suami, busana milik pribadi, dan lokasi pengambilan gambar yang terbatas.

“Semakin sedikit area lokasi tempat syuting, akan semakin menekan biaya produksi. Sebab kita tidak perlu membawa banyak peralatan berat berpindah-pindah dari satu area ke area lain, sehingga hemat waktu transportasi dan hemat biaya produksi. Mayoritas area syuting selain di rumah pribadi, juga di gereja, dan Rumah Sakit Universitas Airlangga,” tutur Intan yang berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif sebesar 3,49. (sak)