ITS Wajibkan Dosen Aktif Meneliti
KOMUNITAS PERISTIWA

ITS Wajibkan Dosen Aktif Meneliti

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mewajibkan seluruh dosen untuk aktif melakukan penelitian, bahkan bagi dosen yang memiliki fungsi manajerial di kampus sekalipun. Saat ini, jumlah penelitian ITS yang ter-index scopus bertengger di posisi lima besar di Indonesia

“Publikasi internasional karya ilmiah juga maksimal dilakukan dua tahun setelah penelitian,” ujar Rektor ITS Prof Joni Hermana, pekan lalu di Surabaya.

Prof Joni pun berharap hal ini menjadi cambuk bagi seluruh sivitas akademika ITS untuk berusaha lebih baik setiap harinya. Rektor ITS ini menjelaskan bahwa ITS telah berusaha dengan mengembangkan pusat penelitian dan meningkatkan jumlah sumber daya yang mampu menghasilkan karya ilmiah.

“Salah satunya melalui program pascasarjana. Untuk itu, ITS bahkan menyediakan beasiswa kepada lulusannya yang berprestasi untuk menempuh gelar S2 di ITS,” tuturnya.

Terkait jumlah profesor, diungkapkan Joni, dengan dilantiknya tiga guru besar baru beberapa waktu lalu, ITS kini telah melahirkan 115 guru besar. Saat ini masih terdapat enam calon guru besar yang sedang dipersiapkan ITS. “Jumlah ini masih 40 persen dari total jumlah doktor yang dimiliki ITS,” ulasnya.

Meski persentasenya meningkat dari tahun sebelumnya, Joni mengaku bahwa jumlah tersebut masih jauh dari target ITS yakni 70 persen. “Untuk itu kami tak henti-hentinya mendorong para dosen di ITS agar terus mempersiapkan diri menjadi profesor,” ujar pria asal Bandung ini.

Namun, ia menegaskan bahwa bukan gelar profesor yang menjadi hal utama, namun karya intelektual yang dihasilkan sebagai profesor adalah yang terpenting. Apalagi, kini ITS sudah berstatus Peguruan Tinggi Negeri-Badan Hukum (PTN-BH).

“Sehingga kita dituntut untuk lebih berkontribusi kepada bangsa, salah satunya melalui pengabdian masyarakat dan publikasi penelitian,” jelasnya.

Menurutnya, jabatan profesor bukan sebuah status yang mereka minta, namun adalah anugerah yang diberikan institusi dan masyarakat. Bukan hanya bertanggungjawab mengembangkan penelitian dan mengabdi kepada masyarakat, namun turut ditantang untuk mampu menciptakan lebih banyak peneliti andal. (sak)