Jadikan Mitra Peternak Sapi Lokal
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Jadikan Mitra Peternak Sapi Lokal

Kementerian Perindustrian mendorong industri pengolahan susu menjalin kerjasama dengan peternak sapi perah dalam negeri.

Program kemitraan ini dalam upaya peningkatan daya saing industrinya karena didukung dengan pemenuhan bahan baku susu segar yang berkesinambungan dan berkualitas baik.

”Melalui program kemitraan tersebut, diharapkan juga para peternak memperoleh manfaat-manfaat positif,” kata Dirjen Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto pada acara Apresiasi Peternak 150 Tahun Nestlé di Malang, Sabtu (8/10).

Manfaat itu, antara lain pendampingan mengenai manajemen produksi susu, perbaikan sarana dan prasarana produksi, serta peningkatan kualitas dan produktivitas susu yang dihasilkan.

Hal ini secara langsung akan berdampak pada peningkatan produksi susu dan kesejahteraan peternak sapi perah.

Karenanya, Kemenperin memberikan apresiasi pada PT Nestlé Indonesia karena selama lebih dari 40 tahun terus mengembangkan program kemitraan yang melibatkan 27.000 peternak sapi perah di Jawa Timur.

Program ini telah meningkatkan penyerapan produksi susu sebesar 500.000 liter setiap harinya untuk diolah di pabrik susu Kejayan.

Direktur Sustainability Agriculture Development & Procurement PT Nestlé Indonesia Wisman Djaja menyampaikan model kerjasama ini telah berhasil memastikan Nestlé mendapatkan pasokan bahan baku yang berkualitas dari peternak.

Pada saat yang sama, peternak akan mendapatkan kemudahan akses pasar yang diperlukan untuk meningkatkan pendapatan.

“Nestlé membangun kemitraan dengan peternak lewat koperasi susu yang ada di Jatim dengan memberi pendampingan teknis, serta pelatihan tentang praktik peternakan berkelanjutan, dan tentu bantuan finansial,” paparnya.

Melalui acara Apresiasi Peternak 150 tahun Nestlé dan peringatan 40 tahun kerjasama kemitraan Nestlé dengan peternak sapi perah, Panggah mengharapkan, PT Nestlé Indonesia dapat menghasilkan produk olahan susu berkualitas dan dapat dijangkau masyarakat sehingga mendorong peningkatan konsumsi susu masyarakat Indonesia.

”Selain itu, kami harapkan PT Nestlé Indonesia tetap berkomitmen dapat menyerap susu segar dalam negeri serta terus mengembangkan program kemitraan yang telah dijalankan menjadi lebih baik lagi,” tuturnya.

Kebutuhan Susu Segar
Kebutuhan bahan baku susu segar dalam negeri (SSDN) untuk susu olahan saat ini 3,8 juta ton dengan pasokan bahan baku susu segar dalam negeri hanya sekitar 798.000 ton dan selebihnya masih diimpor.

Impor dalam bentuk Skim Milk Powder, Anhydrous Milk Fat, dan Butter Milk Powder dari berbagai negara seperti Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat dan Uni Eropa.

”Hal tersebut merupakan peluang dan sekaligus tantangan bagi usaha peternakan sapi perah di dalam negeri untuk meningkatkan produksi dan mutu susu segar sehingga secara bertahap kebutuhan bahan baku susu industri dapat dipenuhi dalam negeri,” ungkap Panggah.

Disamping itu, tingkat konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia saat ini rata-rata 12,10 kilogram per tahun setara susu segar.

Tingkat konsumsi tersebut masih di bawah negara-negara ASEAN seperti Malaysia yang mencapai 36,2 kg per tahun, Myanmar 26,7 kg per tahun, Thailand 22,2 kg per tahun dan Filipina 17,8 kg per tahun.

Masih rendahnya tingkat konsumsi perkapita tersebut, menunjukkan pasar industri pengolahan susu ini masih sangat terbuka.

“Ini peluang usaha peternakan sapi perah dan koperasi susu meningkatkan produksi susu segar yang berkualitas dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan baku susu bagi industri,” papar Panggah. (sak)