Jadikan Riset Profesi Menarik
KOMUNITAS PERISTIWA

Jadikan Riset Profesi Menarik

Menristek Dikti Prof Dr M Nasir bertekad menjadikan posisi jabatan tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik perhatian, tetapi ingin menjadikan profesi peneliti merupakan posisi yang menarik perhatian dan diidam-idamkan orang.

Hal itu disampaikan saat membuka Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-29, di Institut Pertanian Bogor (IPB), Senin (8/8) malam. Didampingi Rektor IPB Prof Dr Ir H Herry Suhardiyanto MSc dan Ketua panitia Pimnas Prof Dr Ir Yonny Koesmaryono MS, Menristek menandai pembukaan dengan menekan tombol sirine, yang kemudian dilanjutkan display peserta Pimnas dan kesenian.

Selain Menristek juga hadir Rektor Universitas Brawijaya selaku Juara Umum Pimnas ke-28 tahun lalu di Universitas Halu Oleo, Kendari menyerahkan Piala Bergilir “Adi Karta Kertawidya” kepada panitia untuk diperebutkan kembali.

Tekad Menristek tidak lain untuk meningkatkan inovasi dan kreativitas yang berbasis para riset (penelitian) untuk meningkatkan daya saing bangsa dan kemajuan negara.

Jika hal tersebut tidak dilakukan maka tidak akan ada perubahan dan kita tidak akan berkembang. Intinya, inovasi itu sangat penting untuk tujuan meningkatkan daya saing bangsa.

“Amerika bisa maju ya karena inovasinya. Jepang bisa maju ya karena inovasinya. Dengan demikian nuansa riset harus kita tingkatkan dengan baik, sedangkan riset akan menjadi baik apabila para peneliti tidak lagi disibukkan dengan laporan-laporan keuangan saja,” kata Prof M Nasir.

Dikatakan, Pimnas merupakan ajang yang harus dilaksanakan untuk mencari bibit unggul periset untuk melaksanakan inovasi dalam rangka meningkatkan kreativitas mahasiswa berbasis riset.

Kepada pada periset, reviwer, dan dosen peneliti, Prof Nasir juga menyampaikan kabar yang menggembirakan bahwa saat ini sudah ada Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) No 106 Thn 2016 yang disyahkan pada 12 Juli 2016.

Permenkeu itu mengatur tentang pendanaan riset yang tak lagi berbasis aktivitas, tetapi pendanaan riset sekarang berbasis pada output atau hasil. Aturan baru itu lahir atas usulan Kemenristek, jadi kedepan diharapkan peneliti tidak lagi direpotkan dengan tanggungjawab masalah keuangan yang menyulitkan.

”Saat itu dokumen palsu banyak sekali, yang mungkin ekses dari sulitnya pertanggungjawaban masalah keuangan saat itu. Mudah-mudahan Pimnas kedepan juga jauh lebih baik, bermutu, dan berbobot,” tandas Menristek.

Menristek juga mengapresisi panitia Pimnas atas kerja kerasnya melayani yang terbaik, dimana peserta Pimnas tahun ini merupakan yang terbanyak sepanjang sejarah Pimnas sejak 1988. Menteri juga berjanji akan mengirimkan juara inovasi pada Pimnas ini berlomba ke luar negeri jika ada lomba serupa di tingkat internasional.

Pelaksanaan Pimnas ke-29 dinilai Menteri juga sangat tepat, karena bersamaan dengan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional Ke-21, yang puncak peringatannya dilaksanakan di Solo, Selasa (9/8) 2016 dengan tema ‘Inovasi untuk Kemandirian dan Daya Saing Bangsa’.

”Saya berharap kedepan kita menjadikan Pimnas ini betul-betul sebagai arena kebersamaan mahasiswa Indonesia, sehingga identitas apapun ya mahasiswa Indonesia dengan satu tujuan bagaimana kita tingkatkan daya saing bangsa,” kata Prof Nasir.

Ketua Panitia Pimnas Prof Yonny melaporkan, peserta Pimnas 2016 diikuti 145 perguruan tinggi, dengan jumlah proposal 460 kelompok yang sudah diseleksi dari 4.724 kelompok PKM yang didanai Kemenristek Dikti 2016. Kemudian panitia mengusulkan penambahan 20 kelompok PKM untuk memperluas kesempatan perguruan tinggi berpartisipasi di Timnas 2016 di IPB ini. (sak)