Jangan Salah Niat di Start Up
KOMUNITAS PERISTIWA

Jangan Salah Niat di Start Up

Semakin hari, arus perkembangan teknologi terus mengaliri kehidupan masyarakat dengan deras. Berbagai macam start up tumbuh subur bagaikan jamur dalam tumpukan jerami yang lembab.

Di era ini, seseorang hanya perlu menekan tombol order dalam sebuah aplikasi untuk memesan makanan ataupun jemputan. Namun, bagaimana bisa sebuah start up mampu membawa banyak manfaat bagi masyarakat?

Pertanyaan tersebut berhasil dijawab melalui National Seminar Of Technology (NST) yang digawangi Himpunan Mahasiswa Teknik Computer-Informatika (HMTC) ITS. Acara yang dihelat pekan lalu itu seperti dirilis Humas ITS berhasil mendatangkan lima pakar start up di Indonesia.

Kelima pakar tersebut adalah Leonika Sari Njoto Boedioetomo (CEO of Reblood), Faza Abadi (CEO of olride), Audrey Maxmilian Herli (CEO of riliv), Weylen Yanaprasetya (Senior Operation Manager of Uber) serta Benny Fajarai (CEO of Qlapa.com).

Latar belakang start up dari kelima pakar tersebut memang berbeda-beda, namun kelimanya sepakat dalam hal motivasi yang benar sebelum membangun sebuah start up.

Para pakar sepakat bahwa ide dalam membangun sebuah start up harus mampu memberikan solusi bagi permasalahan yang ada dalam masyarakat.

Lebih dari itu, sebuah start up pantang untuk dimaknai sebagai ladang bisnis semata. “Tidak harus masalah yang kompleks, mulai saja dengan membereskan masalah-masalah yang sederhana,” ujar Weylen.

Senior Operation Manager of Uber Surabaya ini tak jauh-jauh dalam memberikan contoh. “Uber hadir bukan sekedar untuk meraup keuntungan. Hadirnya Uber adalah membantu menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat,” tutur pria berkaos hitam tersebut.

Weylen menerangkan bahwa Uber sendiri terinspirasi dari masalah berupa sukarnya mencari kendaraan sewaan yang cepat, murah dan aman.

Sedangkan di sisi lain ada banyak masyarakat yang memiliki lebih banyak waktu luang untuk bisa dimaksimalkan. “Yang Uber lakukan sangatlah sederhana, yaitu sekedar memberikan jembatan bagi kedua pihak tersebut,” terangnya dalam acara bertajuk Businees On Internet tersebut.

Weylen juga mengungkapkan bahwa alasan Uber mampu bertahan meski didesak berbagai pihak adalah berkat motivasi awalnya.

“Visi dari Uber adalah memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk memesan kendaraan, dimanapun dan kapanpun. Uang bukanlah tujuan utama kita melainkan peluang membantu orang lain,” paparnya bersemangat.

Diakuinya, sebuah kemajuan teknologi kebanyakan memang bersifat destruktif. Alasannya adalah masalah baru akan selalu ada.

Namun bukan berarti sebuah kemajuan teknologi harus ditolak mentah-mentah. Sebab, teknologi akan selalu hadir untuk menyertai setiap perubahan dari masalah yang ada.

Sementara Ketua Pelaksana NST, Adiwinoto Saptorenggo berharap agar para peserta mampu mendapatkan pengetahuan baru dari para pembicara, terutama terkait perkembangan teknologi.

“Sesuai dengan tema yang diusung, kami berharap para peserta mampu mendapat pengetahuan terbaru tentang kemajuan teknologi dari para pakar. Utamanya adalah potensi untuk berbisnis melalui internet,” tutur Adi. (sak)