Java Coffee Siap Sambut Pengusaha Rusia
CANGKIR KOPI PERISTIWA

Java Coffee Siap Sambut Pengusaha Rusia

Kualitas Java Coffee Kabupaten Malang sebenarnya sudah tak perlu diragukan lagi. Namun, untuk menembus pasar Rusia, para pengusaha, pemerintah, maupun petani kopi di Malang bersinergi meningkatkan kualitas produknya.

Di pasaran kopi dunia, Java Coffee Kabupaten Malang sebetulnya sudah menembus pasar Jepang dan Eropa. “Java Coffee Kabupaten Malang sudah ekspor ke Eropa dan Jepang. Tapi, kalau memang ada kans masuk Rusia, tentu kami sambut baik. Dan kami akan meningkatkan kualitas kopi agar bisa masuk ke Rusia,” kata Manajer Perkebunan Bangelan PTPN XII Edi Wicaksono.

Edi menjelaskan, dirinya mendapat kabar Java Coffee diminati pengusaha Rusia dari Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang Tomie Herawanto. Ketertarikan pengusaha Rusia terhadap Java Coffe terjadi setelah Pemkab Malang mengikuti Festival Indonesia di Rusia pada 20-21 Agustus lalu di Moskow.

Saking tertariknya dengan Java Coffee dan komoditas pertanian lainnya, pengusaha Rusia Olga Bagryantseva dan Atase Perdagangan KBRI Rusia Heryono Hadi Prasetyo menjadwalkan datang ke Kabupaten Malang. Rencananya mereka akan datang ke Malang pada Oktober mendatang.

Kebetulan, saat Festival Indonesia di Rusia, Java Coffe yang dibawa Pemkab Malang merupakan kopi produk Bangelan. Dan saat di Moscow, kopi produk Bangelan sangat diminati warga Rusia.

Edi menambahkan, ekspor ke Rusia akan menjadi pilihan utama jika harga jualnya lebih baik dibandingkan Jepang dan Eropa. Di dua kawasan tersebut, Java Coffee Kabupaten Malang sudah terkenal kualitasnya. Selain rasanya yang nikmat, aromanya juga membuat penggemar kopi di Jepang dan Eropa ketagihan.

Edi menerangkan, kopi produk Bangelan diproses sesuai standar perkopian internasional. Kopi yang dipilih adalah kopi yang warnanya sudah merah. “Kopi yang kami produksi mayoritas merupakan kopi kualitas terbaik. Ada kopi yang kelasnya di bawah, namun itu hanya bagian kecil saja,” tambahnya.

Bangelan sendiri mempunyai luas sekitar 883,2 hektare. Dan kopi yang dihasilkan semuanya jenis robusta. Pada saat puncak panen bulan Agustus, setiap hektare bisa menghasilkan 900 kilogram biji kopi kering. Sedangkan pada Juni, Juli, September, tiap hekatere hanya menghasilkan 400 kilogram kopi biji kering.

“Panen kopi itu ada empat bulan, puncaknya terjadi pada Agustus. Selain empat bulan tersebut, kopi tidak berbuah,” sambungnya.

Sementara itu, Tomie menyatakan, Pemkab Malang sangat serius menggarap peluang pasar di Rusia. Karenanya, sebelum pengusaha negara besar tersebut datang ke Malang, pihaknya akan menyamakan visi dan misi dengan petani kopi dan PTPN XII. Termasuk dalam proses panen serta pengelolaan biji kopi.

“Pengelolaan kopi di PTPN sudah baik. Saat panen, yang dipetik adalah kopi merah. Sedangkan di perkebunan kopi rakyat, masih banyak yang belum memperhatikan kualitas, masih hijau sudah dipetik,” ujar Tomie. Ke depannya, petani rakyat ini harus mendapatkan edukasi. Sehingga kopi yang dihasilkan merupakan kualiats premium. Selain itu, pemerintah juga akan mencarikan kredit bagi petani kopi. (sak/ist)