JK Kunjungi PT Newmont Nusa Tenggara
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

JK Kunjungi PT Newmont Nusa Tenggara

Wakil Presiden Jusuf Kalla melakukan peninjauan ke salah satu obyek vital nasional, Tambang Batu Hijau, di Sumbawa Barat NTB. Wapres bertemu jajaran manajemen PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) selaku operator tambang untuk berbincang dan menyampaikan sejumlah arahan. Sekaligus memperkenalkan chairman yang baru, yaitu Muhammad Lutfi.

Pada kunjungan singkat pertengahan pekan ini, Wapres memperkenalkan chairman Muhammad Lutfi, yang tak lain adalah mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Menteri Perdagangan dan Duta Besar Jepang era pemerintahan SBY-Boediono.

Menurut Wapres, PT Newmont hanya berganti kepemimpinan, sementara nama dan labelnya tidak berubah. “PT Newmont bukan mengganti baju, tetapi mengganti kepalanya, bajunya tetap PT Newmont. Dari bumi pertiwi kembali ke bumi pertiwi, tidak berubah,” ucap Wapres saat ditemui awak media.

Presiden Direktur PT NNT Rachmat Makkasau menyambut dengan antusias kedatangan Wapres dan menyatakan kegembiraannya atas kesediaan berkunjung ke Tambang Batu Hijau.

“Ini merupakan kunjungan yang pertama kalinya, sejak Batu Hijau mulai beroperasi tahun 2000, dan kami sangat gembira bisa bertatap muka langsung dan mengucapkan terima kasih, karena kami bisa mendapatkan arahan secara langsung dari Bapak Wapres,” kata Rachmat Makkasau.

Sejak beroperasi pada 2000, Tambang Batu Hijau telah memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan bangsa. Tambang tembaga dan emas yang berlokasi di Desa Sekongkang Atas, Kecamatan Sekongkang, Sumbawa Barat itu, diharapkan dapat terus berkontribusi dan memberikan kesejahteraan bagi Indonesia dan khususnya pembangunan di NTB ke depan.

Total kontribusi PT NNT mencapai sekitar Rp 100 triliun yang meliputi pembayaran pajak dan non-pajak, royalti, gaji karyawan, pembelian barang dan jasa dalam negeri, serta dividen bagi pemegang saham nasional.

Selain itu, PT. NNT juga telah melaksanakan program-program tanggung jawab sosial untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat sekitar tambang dengan dana rata-rata mencapai Rp 50 miliar per tahun.

Lima pilar pemberdayaan masyarakat, terdiri dari Kesehatan, Ekonomi, Pendidikan, Sosial Budaya dan Lingkungan. Program penyediaan air bersih melalui pembangunan fasilitas irigasi berupa bendungan, embung, dan fasilitas air bersih tenaga surya telah meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan masyarakat petani Kabupaten Sumbawa Barat.

“Program pemanfaatan serabut kelapa menjadi jaring pengendali erosi (coconet) untuk kegiatan reklamasi merupakan kegiatan home industry baru sebagai salah satu upaya pemberdayaan masyarakat Sumbawa Barat. Program beasiswa PT NNT telah berhasil mencetak sarjana untuk kemajuan daerah Sumbawa Barat,” imbuh Rachmat.

PT NNT adalah perusahaan tambang tembaga dan emas yang beroperasi berdasarkan kontrak karya generasi IV yang ditandatangani pada 2 Desember 1986. Visi PT. NNT menjadi perusahaan tambang yang diakui dan disegani atas keunggulan kinerja ekonomi, perlindungan lingkungan dan tanggung jawab sosial.

“Sekitar 7000 karyawan bekerja di Batu Hijau saat ini. Dari jumlah tersebut, lebih dari 99 persen adalah karyawan nasional, dan kurang 1 persen pekerja asing kontraktor,” papar Rachmat.

Adapun misi PT NNT, mengubah sumber daya mineral menjadi nilai bersama untuk pemangku kepentingan dan menjadi pemimpin di industri tambang dengan memberikan peningkatan nilai saham bagi pemegang saham, terdepan di bidang keselamatan kerja, tanggungjawab sosial, dan perlindungan lingkungan.

Untuk jangka panjang (2016 – 2038), Rachmat melanjutkan, akan dilaksanakan beberapa program dengan sasaran terpenuhinya akses empat fasilitas dasar yaitu listrik, air bersih, infrastruktur, dan layanan kesehatan, pengembangan agro-industri yang berkelanjutan, serta promosi dan pengembangan sektor kepariwisataan, termasuk di bekas area tambang.

Dalam kunjungan ini, Wapres didampingi antara lain Menteri PUPR Basoeki Hadi Moeljono, MenPAN-RB Yuddy Chrisnandi, Gubernur NTB Zainul Majdi, Kasetwapres Mohamad Oemar.

PT NNT merupakan perusahaan patungan yang sahamnya dimiliki Nusa Tenggara Partnership BV, PT Multi Daerah Bersaing, PT Pukuafu Indah dan PT Indonesia Masbaga Investama. Semulai Newmont dan Sumitomo bertindak sebagai operator PT NNT yang melakukan penambangan di Batu Hijau.

Belakangan PT NTT kini menjadi ‘milik’ pengusaha nasional Arifin Panigoro. Melalui PT Medco Energi Internasional, Arifin Panigoro menguasai PT NNT dengan cara mengakuisisi saham PT Amman Mineral Internasional (AMI).

PT AMI adalah pemegang 82,2 persen saham perusahaan pemilik tambang Batu Hijau tersebut. Nilai akuisisi 2,6 miliar USD atau sekitar Rp 33,8 triliun. AMI sebelumnya telah membeli saham NNT dari Newmont Mining Corporation dan Sumitomo Corporation. (sak)