Joglo Cak Markeso di Kampung Ketandan
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Joglo Cak Markeso di Kampung Ketandan

Puluhan warga Ketandan Surabaya melakukan kerja bakti dengan membangun sebuah joglo, bangunan khas Jawa, di depan makam Buyut Tondo. Bangunan yang terbuat dari kayu tersebut diberi nama Joglo Cak Markeso.

Pembangunan Joglo Cak Markeso adalah bagian dari upaya menghidupkan potensi kampung-kampung lama di Surabaya untuk menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Kampung yang berada di tengah-tengah Jalan Tunjungan tersebut kini terus berbenah untuk menjadi kawasan wisata heritage di Kota Pahlawan.

Pemberian nama itu sekaligus mengenang kembali seniman kidungan yang dikenal dengan Jula-Juli Suroboyoan-nya. Saat ini kidungan Jula-Juli Suroboyo dimodernisasi dan berkembang seperti Stand-up Comedy. Jauh sebelum stand-up populer, lawakan monolog sudah diperkenalkan terlebih dahulu oleh Cak Markeso. Hanya saja, lawakan tunggal itu dilakukan dengan cara ngidung alis menyanyi, terlebih dahulu dalam bahasa Suroboyoan. Setelah itu baru lawakan.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang hadir menyaksikan pembangunan Joglo Cak Markeso mengaku senang dengan nuansa guyup warga yang bersama-sama bekerja bakti membuat joglo tersebut. “Saya ingin punya kampung seperti ini. Ada ruang terbuka hijau khas kampung lama. Dan culture kampung asli Surabaya bisa kembali lagi, yaitu kearifan lokal yang positif bernilai sangat bagus misal gotong royong,” kata Walikota Tri Rismaharini, Kamis (14/7).

Peraih Ideal Mother Award 2016 ini sendiri berjanji akan datang kembali pada Minggu 17 Juli nanti untuk bareng-bareng mengecat kampung bersama warga Ketandan. Pengecatan dilakukan agar kampung Ketandan benar-benar mampu jadi daya tarik wisatawan. Baik lokal maupun internasional.

Risma meneruskan, wisatawan baik lokal maupun luar negeri sangat suka dengan nuansa kampung lama seperti ini. Namun yang harus diperhatikan adalah adanya ruang publik dan sesuai dengan arsitektur. “Nantinya ruang tersebut bisa menjadi tempat bermain anak dan berkumpulnya warga. Sebisa mungkin jaga dan pertahankan,” harapnya.

Ketua Karang Taruna Ketandan, Abdul Gofar mengatakan di kampung ini tempat dijadikannya pelajaran seni. Setiap minggunya, anak-anak diajarkan tari Remo dan Istighosah.

Dan pembangunan Joglo Cak Markeso ini sendiri menambah lagi hasrat untuk mengajarkan kesenian. “Kami berencana akan menjadikan latihan ludruk di tempat joglo ini karena kampung Ketandan penuh budaya,” kata Abdul Gofur yang mengakui harapan warga agar Ketandan dapat dijadikan sebagai kampung budaya.

Di kampung ini sendiri ada rumah wayang yang sebagian telah dipindahkan ke museum Surabaya, punden, rumah jengki atau rumah tua jaman Belanda yang dulunya dibangun dan dipakai orang punya kedudukan seperti raja.

Dan sejak bulan Februari lalu, United Cities and Local Governments (UCLG) masuk ke kawasan Kampung Ketandan dan bersama warga membangun tempat ini. “Juga disini ada makanan lawas seperti kompolan pisang tepung yang dibentuk seperti apa saja (lentur) dan penyajiannya dengan digoreng,” papar dia. (sak)