John Martono: Sapuan Kebahagiaan pada Kanvas Hidup
PERISTIWA SENI BUDAYA

John Martono: Sapuan Kebahagiaan pada Kanvas Hidup

Setiap orang mempunyai caranya masing-masing dalam mewarnai lembaran hidupnya. Ada yang berusaha melukis kenangan dengan segudang prestasi, adapula yang lebih memilih untuk meniti karir. John Martono, dosen Seni Kriya Institut Teknologi bandung (ITB), menorehkan jejak hidupnya dengan berkarya dan bermanfaat bagi sesama.

Dengan gaya seni lukis sutra dan sulam, hasil karyanya kerap menginspirasi para pecinta seni pada galeri nasional maupun internasional, seperti Tusk Gallery di Melbourne, Australia (Maret 2014), International Hand Embroidery Exhibition di Tiongkok (2014), dan bahkan John’s Solo Exhibition di Bentara Budaya Jakarta (November 2013).

Dengan bermacam pencapaiannya dalam dunia seni, kanvas hidup John tampak sungguh indah. Berbagai galeri kelas dunia mengundangnya untuk turut menunjukkan kreasinya di atas sutra kepada dunia.

Mulai dari debut di acara televisi “The Block” pada Channel 9 Australia hingga pagelaran Silk Painting Course di Boras University, Swedia. Di balik itu semua, John menekankan bahwa konsistensi dan ketekunan adalah hal yang paling utama dalam berkarya.

“Mencapai apapun itu tidak ada yang instan. Semuanya itu harus melewati proses dan apapun pekerjaannya semuanya harus tetap dimanage. Aku menyisihkan waktu, pasang target karyanya harus sudah sampai mana, mau diapakan. Seni tetap harus diperkenalkan, entah lewat pameran atau hal-hal lainnya. Seni itu tetap harus dimanage dengan sebaik-baiknya,” ucap John ketika ditanya tentang perjuangannya sebagai seniman.

John menambahkan, “Kita juga tidak bisa asal meniru orang lain. Kita dapat referensi dari sana-sini. Dengan daya intelektual kita, kita juga harus menemukan ciri khas kita sendiri.”

John Martono atau yang juga dikenal dengan John Mart ini menegaskan bahwa setiap orang harus menyadari kondisi seperti apa yang membuat potensinya termaksimalkan dan dapat bekerja dengan baik.

Seseorang dikenal melalui sentuhan karya-karya dan hasil pekerjaan tangannya yang berhasil ikut memberi warna tertentu pada kisah hidup individu lainnya. Menurut John, mengejar prestasi ataupun materi semata bukanlah tujuan utama dari berkarya. Menjadi seorang seniman tidak lantas menjadikannya seseorang yang hanya fokus pada melukis dan membesarkan nama diri sendiri.

Lewat seni, John kerap terjun untuk membantu masyarakat dan lingkungan sekelilingnya. Salah satu kreasi sukarelanya adalah lukisan mural di Teras Cikapundung, Bandung yang mengusung judul “The Journey of Happiness”. Bersama dengan warga sekitar, dosen Seni Kriya ITB ini menghias dinding seluas 17 x 7 meter tersebut dengan sapuan warna-warna cerah yang indah.

Tidak hanya itu, di Bandara Husein Sastranegara, Bandung pun dapat ditemukan bermacam-macam lukisan karya John Martono yang menyemarakkan bandara tematik tersebut.

Bahkan untuk hal kecil yang sering diabaikan seperti perayaan ulang tahun kemerdekaan Indonesia di daerah tempat tinggalnya, tanpa segan-segan John mengajak seluruh warga sekitar turut bersukaria dan mempercantik lingkungan mereka. Tidak sungkan mengajari para penduduk lainnya, khususnya anak-anak, untuk melukis dan mencampur warna.

Menurut vokalis band InstiTutBlues-ITB tersebut, hal-hal kecil bertabur kebahagiaan yang dilakukan untuk sesama seperti inilah yang tidak dapat tergantikan. Mungkin pada awalnya akan terlihat seperti sapuan warna biasa, tetapi sebenarnya corak yang tercipta itulah yang membuat kanvas hidup setiap orang semakin elok dan indah. (sak)