Joki Hajar Aswad, Dua Jamaah Ditahan 4 Hari
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Joki Hajar Aswad, Dua Jamaah Ditahan 4 Hari

Dua jemaah haji Indonesia ditangkap pihak keamanan Masjidil Haram karena diduga menjadi joki Hajar Aswad. Kedua jemaah yang bernama Muhammad Rasul Daeng Naba bin Laujeng dan Abdul Rauf Nuraling Pattola bin H Nuraling ini sempat dimasukan ke penjara Shumaisy selama empat hari.

Kedua jemaah yang tergabung dalam kloter 1 Embarkasi Makassar (UPG 11) yang tinggal di Hotel Al Sa Wi (504) di wilayah Aziziah ini berhasil dibebaskan berkat kerjasama Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, KJRI, Maktab, dan Muassasah.

“Kedua jamaah ditahan sejak Selasa tanggal 20 pagi dan berhasil dibebaskan pada hari Sabtu tanggal 24 dini hari,” jelas Kepala Seksi Perlindungan Jemaah (Linjam) Daker Makkah Wagirun saat memberikan keterangan pers di Daker Makkah, Sabtu (24/09), seperti dirilis Humas kemenag.

Kepada tim Media Center Haji Daker Makkah, Wagirun menjelaskan kronologis penangkapan dan upaya yang dilakukan untuk membebaskan kedua jemaah haji Indonesia.

Menurutnya, musibah yang dialami Muhammad Rasul (41) dan Abdul Rauf (43) terjadi pada Senin (19/09) malam. “Saat itu, keduanya akan memandu beberapa ibu-ibu, orang tua, neneknya, saudaranya, keluarga mereka untuk mencium Hajar Aswad,” tutur Wagirun.

Pada kesempatan pertama, Muhammad Rasul berhasil memandu sejumlah wanita untuk mencium Hajar Aswad. Giliran berikutnya, Rasul akan membantu Abdul Rauf Nuraling. Namun, baru beranjak dari tempat berkumpul mereka yang berada di salah satu sudut area tawaf yang segaris dengan lampu hijau (tanda permulaan tawaf), kedua orang ini ditangkap polisi Haram dan dibawa ke markas kepolisian untuk dimintai keterangan.

Sementara rombongan wanita yang akan dipandu mencium Hajar Aswad akhirnya kembali ke hotel sekitar jam 2 malam. Tanggal 20 September pagi, sekitar jam 08.45 WAS, perwakilan mereka melapor ke Linjam Sektor Lima yang ditindaklanjuti dengan melaporkan ke Daker Makkah sekitar jam 09.00 WAS.

“Kami beserta penghubung instansi langsung meluncur ke kepolisian Haram untuk menelusuri jejak saudara kita ini ada di mana. Pada pos pertama kosong. Di pos polisi kedua, kita mendapat informasi bahwa pagi sekali mereka sudah dikirim ke penjara di Shumaisy,” tutur Wagirun.

“Karena sudah di Shumaisy, maka langkah selanjutnya harus berkordinasi dengan Maktab, kerena ini sudah berada di luar check point. Di situ harus ada paspor dan lainnya. Ini juga merupakan kewenangan Maktab untuk menyelesaikan kasus ini,” tambahnya.

Saat itu, pihak Maktab menjanjikan menjemput kedua jemaah haji tersebut di Shumaisy. Namun, sampai tanggal 22 September upaya belum membuahkan hasil.

Selain dengan pihak maktab, Tim Linjam Daker Makkah juga melakukan komunikasi dengan petugas Muassasah dan Kementerian Haji.

Tanggal 22 September, tim Linjam juga berkunjung ke Shumaisy untuk melakukan koordinasi dengan pejabat yang berwenang disana. “Hanya belum bisa membebaskan saudara kita,” ujarnya.

Upaya selanjutnya, lanjut Wagirun, tim Linjam Daker Makkah pada 23 September bersurat ke Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi yang intinya menyampaikan laporan dan meminta bantuan penyelesaian kasus.

“Kami juga meminta bantuan tim KJRI yang menangani perlindungan WNI agar secara pararel mereka juga melakukan upaya pembebasan jemaah kita,” terangnya.

Pada tanggal yang sama, lanjut Wagirun, PPIH lalu berkirim surat kepada Kementerian Haji dan Muasasash terkait upaya pembebasan kedua jemaah haji Indonesia. “Komunikasi intens juga dilakukan Ketua PPIH Arab Saudi dengan pihak Muasasash dan Kementerian Haji untuk pembebasan,” katanya.

Masih sebagai bagian dari upaya, Tim Linjam Daker Makkah bersama Kadaker menemui Kepala Kepolisian Haram pada 23 September untuk meminta bantuannya karena tempat kejadian perkara (TKP) ada di Masjidil Haram.

“Responnya cukup bagus. Saat itu kita tunjukan visa dua orang ini, dia merespon dengan menghubungi pihak terkait dan menjanjikan bahwa dalam waktu dekat, kalau bisa malam ini atau besok akan dilakukan pembebasan,” jelasnya.

“Alhamdulillah, tanggal 24 September jam 02.00 dini hari, dua saudara kita dibebaskan dan diantar langsung petugas maktab 02. Alhamdulillah sekarang mereka sudah ada diantara kita,” jelas Wagirun lega.

Muhammad Rasul dan Abdul Rauf berada di Shumaisy sekitar empat malam lima hari. Wagirun mengaku bahwa peristiwa yang bersamaan dengan libur panjang di Saudi menjadikan upaya tim berkoordinasi dengan pihak terkait di Saudi mengalami hambatan. Selain Jumat dan Sabtu yang menjadi hari libur reguler, Kamis tanggal 22 September juga libur karena merupakan Hari Kemerdekaan Saudi.

Atas peristiwa ini, Wagirun mengimbau jemaah haji Indonesia berhati-hati dan tidak memaksakan diri saat akan mencium Hajar Aswad. Menurutnya, maraknya oknum yang mencari keuntungan atau penghasilan menjadi joki mencium Hajar Aswad menjadi perhatian dan target tersendiri bagi kepolisian Haram.

“Bagi saudara kita yang mau mencium Hajar Aswad, sewajarnya saja karena yang wajib itu ibadahnya. Mencium Hajar Aswad hanya bagian sunnah. Kalau memungkinkan ada waktu dan badan sehat dilaksanakan, kalau tidak memungkinkan jangan dipaksakan,” tandasnya. (sak/ist)