Jokowi Ikut Kampanye ‘Visit ASEAN@50’
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Jokowi Ikut Kampanye ‘Visit ASEAN@50’

Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana bersama delegasi menghadiri pembukaan KTT ke-28 dan ke-29 Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) di NCC, Vientiane, Laos, Selasa (6/9) siang.

Acara pembukaan KTT ASEAN diawali menyanyikan bersama lagu mars ASEAN. Selanjutnya, secara berurutan Perdana Menteri Republik Demokrasi Rakyat (PDR) Laos Thongloun Sisoulith dan Presiden PDR Laos Bounnhang Voracith menyampaikan sambutan sebagai penghormatan kepada kepala negara atau pemerintahan serta delegasi yang hadir.

Sselanjutnya penekanan bersama peluncuran “Visit ASEAN@50” oleh para kepala negara dan/atau kepala pemerintahan negara-negara ASEAN, termasuk Presiden Jokwi. Visit ASEAN@50 adalah program bersama negara-negara ASEAN melakukan kampanye wisata terkait peringatan 50 tahun berdirinya ASEAN pada 2017 mendatang. Usai penekanan tombol, kepala negara dan pemerintahan kemudian berfoto bersama di atas panggung.

Agenda Jokowi di Laos, menurut Menlu, selain menghadiri Upacara Pembukaan KTT ASEAN, Presdien akan mengikuti Sidang Plenari ASEAN, peluncuran Rencana Acuan Konektivitas ASEAN (MPAC) 2025, dan juga penandatanganan Rencana Kerja Integrasi ASEAN sekaligus penandatanganan Deklarasi Satu ASEAN: Satu Respons untuk Situasi Bencana.

Selain Ibu Iriana, Presiden Jokowi turut didampingi Menko Polhukam Wiranto, Menlu Retno Marsudi, Seskab Pramono Anung, Mendag Enggartiasto Lukito, dan Kepala BKPM Thomas Lembong.

Menlu Retno Marsudi mengemukakan pada Selasa (6/9) ada tiga acara yang dilakukan di tingkat Menlu negara ASEAN. Pertama, mengenai aksesi 3 negara baru yaitu Chili, Mesir, dan Maroko mengenai Treaty of Amity and Cooperation (TAC).

“Dengan masuknya 3 negara yang mengaksesi TAC jumlah negara di luar ASEAN yang sudah mengaksesi adalah 25 negara. Jadi, kalau digabung 10 negara ASEAN pada saat kita bicara TAC sekarang sudah 35 negara,” kata Retno kepada wartawan di Lao National Convention Center, Vientiane, Laos, Selasa (6/9) pagi.

Yang kedua, pertemuan APSC (ASEAN Political-Security Community Council) dimana Indonesia dihadiri dua menteri yaitu Menko Polhukam dan juga Menlu. Intinya dalam pertemuan ini dibicarakan sejauhmana pilar politik dan keamanan ini diimplementasikan dalam mencapai visi ASEAN 2025.

Menurut Menlu ada tujuh hal yang dibahas dalam pertemuan itu, yaitu pertama mengenai masalah perdagangan manusia atau trafficking in persons. Kedua mengenai peredaran obat-obat terlarang. Isu ketiga mengenai masalah terorisme dan radikalisme.

Keempat mengenai penangkapan ikan secara ilegal atau illegal fishing. Kelima mengenai keamanan di Laut Sulu dan wilayah perairan di sekitarnya. “Isu ini sebenarnya sudah kita mulai sampaikan pada saat AMM (Pertemuan Menlu se-ASEAN, red) di Juli lalu,” ujarnya.

Isu keenam masalah cyber security. Dan isu terakhir adalah mengenai penghormatan terhadap hak asasi manusia. Pertemuan ketiga yang diikuti Menlu, lanjut Retno, adalah pertemuan dalam konteks ACC (ASEAN Coordinating Council). “Pertemuan untuk melihat sejauh mana masing-masing pilar sudah melakukan tugasnya masing-masing, bagaimana kita bersinergi untuk mencapai ASEAN Community Vision 2025,” ujar Menlu.