Jokowi: Pentingnya Perhatikan Integritas
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Jokowi: Pentingnya Perhatikan Integritas

Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya untuk memperhatikan karakter dalam pembangunan manusia. Integritas dan kejujuran ialah salah satu dari sekian banyak nilai-nilai yang perlu dijunjung tinggi masyarakat Indonesia.

“Banyak yang pintar-pintar, tapi senangnya mungli (melakukan pungutan liar). Ini yang menjadi penyakit bangsa kita,” kata Presiden Jokowi saat bersilaturahmi dengan pengurus besar Al-Khairiyah di Kampus Al-Khairiyah, Cilegon, Banten, Sabtu (22/10) sore.

Menurut Jokowi, urusan pungutan liar (pungli) ini memang menjadi perhatian khusus pemerintah saat ini.

Dengan melihat kondisi perizinan di sejumlah instansi yang menjadi lebih sulit atau berbelit-belit akibat adanya pungli, Jokowi merasa perlu untuk turun tangan langsung.

Apalagi Indonesia kini sedang berusaha agar mampu menjadi negara yang ramah investasi. “Dari survei kemudahan berinvestasi, Indonesia ada di nomor 109. Singapura di nomor satu, Malaysia nomor 18, Thailand nomor 49. Jangan ditepukin, ada yang mau tepuk tangan. Inilah persoalan besar kita,” ungkap Jokowi.

Oleh karenanya, Jokowi mengingatkan bahwa Indonesia tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia yang cerdas, tapi juga yang memiliki integritas dan kejujuran untuk bersama mengelola negara Indonesia ini.

Jokowi lantas membagi pengalaman yang pernah dihadapinya saat mengurus perizinan berpuluh tahun lampau yang mungkin masih bisa ditemui hingga kini.

“Tahun 87-88, mau urus izin berbelit-belit dan diminta ini itu di setiap meja. Pasti diminta rupiah tertentu. Inilah yang harus kita selesaikan kalau kita ingin peringkat kita naik. Oleh sebab itu dibutuhkan SDM yang memiliki integritas,” katanya.

Tidak Berdiam Diri
Pada bagian lain sambutannya Jokowi mengatakan, Indonesia sepatutnya tidak hanya berdiam diri saat menghadapi era persaingan global dewasa ini. Sebab menurutnya sedikit saja negara ini lengah, maka sudah menunggu banyak negara lain yang ingin memenangkan persaingan.

Jokowi sendiri berpandangan sudah saatnya Indonesia dihadapkan dengan persaingan dan kompetisi. Sebab, persaingan merupakan sesuatu yang dibutuhkan negara ini untuk terus berkembang lebih baik lagi.

“Tapi memang kalau kita lihat karakter bangsa ini baru bergerak kalau diberi pesaing. Kalau tidak diberi pesaing malah enak-enakan, malas-malasan. Tapi begitu diberi pesaing malah bangkit,” ungkapnya.

Ia lantas memberi contoh pada sekitar tahun 1975 hingga 1980 misalnya, saat itu hanya terdapat dua bank milik pemerintah, itupun dengan pelayanan yang ala kadarnya. Namun, dengan adanya pesaing, kini industri perbankan nasional dapat melejit.

“Dulu saya ingat kalau jam satu atau jam setengah dua sudah tutup. Loketnya seperti yang ada di gambar (kosong), kantornya juga seperti itu. Karena apa? Mereka tidak ada pesaing, tidak ada swasta,” ujarnya.

“Tapi begitu ada pesaing langsung menjadi 170-an bank. Melejit, semuanya berbenah. Kantor diperbaiki, pelayanan diperbaiki, ATM di mana-mana. Coba kalau dulu tidak ada pesaing, masih seperti itu,” kenang Jokowi.

Persaingan memang sesuatu yang mutlak dan diperlukan oleh bangsa Indonesia untuk berkembang. Namun demikian, Jokowi mengatakan bahwa bangsa ini tidak perlu takut dalam menghadapi persaingan sepanjang telah mempersiapkan diri dalam kompetisi tersebut.

Ia menyebutkan, pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara merata di Tanah Air merupakan salah satu dari sekian banyak upaya pemerintah dalam mempersiapkan diri menghadapi persaingan global.

“Oleh sebab itu, sekarang ini kita mempersiapkan diri dalam rangka persaingan, mempersiapkan hal yang sangat fundamental yaitu infrastruktur. Karena tanpa itu sulit kita bisa bersaing. Tidak hanya di Jawa, tapi sekarang kita lebih banyak konsentrasi di luar Jawa,” terangnya.

Pembangunan infrastruktur besar-besaran seperti jalan tol misalnya, menurut Jokowi, bertujuan memudahkan mobilitas orang maupun barang. Mudahnya mobilitas diharapkan ke depannya harga-harga komoditas dapat ditekan seiring turunnya biaya transportasi logistik yang diperlukan.

“Inilah yang sedang kita kejar, kita bangun, agar kita bisa memenangkan persaingan dengan negara yang lain. Tol Trans-Sumatera, Manado-Bitung, Balikpapan-Samarinda, kemudian pelabuhan-pelabuhan, masih proses semuanya,” tambahnya. (sak)