Kapal Pelat Datar Sukses Uji Coba
PERISTIWA TEKNOLOGI

Kapal Pelat Datar Sukses Uji Coba

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir melakukan uji coba kapal pelat datar karya peneliti dan alumni Universitas Indonesia (UI) pada Sabtu (20/8) lalu. Uji coba dilakukan mulai dari Teluk Naga, Tangerang hingga Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu.

“Hasilnya itu ternyata jauh lebih murah, kecepatan lebih tinggi, cara prosesnya lebih cepat, dan umur ekonomisnya lebih lama,” kata Nasir. Menurut, tugas Kemristekdikti adalah mensosialisasikan kapal pelat datar ke seluruh Indonesia melalui Menteri-Menteri lain. Kemudian, untuk sertifikasi akan dibiayai sertifikasinya.

Kapal produksi PT Juragan Kapal yang dimotori oleh alumni-alumni UI ini berkapasitas 3 Gross Tonage (GT) dengan mesin 170 PK. Saat diuji kapal ini memiliki kecepatan 240 knot atau setara dengan kapal 350 PK.

Produksi kapal pelat datar ini awalnya diinisiasi dosen Teknik Perkapalan UI Hadi Tresno Wibowo. Ia tidak bekerja sendiri. Dalam pelaksanaannya, ia juga dibantu mahasiswa-mahasiswanya yang setelah lulus kemudian tergabung dalam PT Juragan Kapal.

Cita-cita Hadi adalah memproduksi kapal laut yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk belajar dan berlayar di laut Indonesia. “Mimpinya nanti punya kapal untuk belajar di laut dan untuk berlayar mengenal kekayaan laut,” kata Hadi.

Kepedulian terhadap nasib nelayan tradisional memotivasi Hadi membuat kapal pelat datar. Pada Agustus 2012, kapal nelayan pelat datar produksinya telah dimanfaatkan untuk membantu kerja nelayan Mirasa Sejati di Desa Limbangan, Balongan, Indramayu.

Bantu Nelayan
Dosen Teknik Perkapalan, Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik UI itu berkeingiann membuat satu terobosan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang hidup di pulau atau pesisir.

Menurut Hadi, perguruan tinggi harus mempunyai inisiatif membantu kebutuhan masyarakat pesisir. Dalam hal ini, ia berharap UI dapat menjadi inisiator dalam bidang pelayaran rakyat.

Pelayaran rakyat, katanya, meskipun terlihat sebagai sesuatu yang kecil, sesungguhnya berdampak besar terhadap pergerakan ekonomi di Indonesia sebagai negara kepulauan. Ia berpendapat, pelayaran yang baik dapat menyatukan pulau-pulau.

Saat ini, transportasi di pulau-pulau di Indonesia masih minim. Akses transportasi yang sulit seringkali membuat warga di kepulauan tidak dapat menjangkau berbagai komoditas.

Masalah yang ada selama ini antara lain sulitnya aksesibilitas sehingga harga-harga kebutuhan masyarakat menjadi mahal. Kedepan, Hadi berharap kapal pelat datar yang dirancangnya mampu mengatasi masalah di bidang pelayaran rakyat dan memicu perkembangan pulau-pulau.

Kapal yang mendominasi pelayaran rakyat saat ini adalah kapal tradisional dari kayu. Hadi berpendapat bahwa kapal kayu tidak bisa lagi terlalu diandalkan. Jumlah kayu secara signifikan semakin langka, ditambah kesulitan dalam pembuatan dan perbaikan jika kapal mengalami kerusakan. Fakta inilah yang kemudian membuat Hadi berinisiatif membuat kapal pelat datar dari baja.

Kapal tersebut dibuat dari lempengan-lempengan pelat baja datar. Ia mengakui bahwa bahan dasar kapal pelat datar tersebut mudah didapat. Di samping itu, proses pembuatannya juga mudah, tidak memerlukan waktu yang lama dan biayanya pun terjangkau. Selain itu, kapal pelat datar ini juga dapat didaur ulang.

Konsep ‘semi- trimaran’ yang digunakan kapal pelat datar ini belum dikembangkan ahli perkapalan di mana pun di dunia, sehingga diharapkan dapat menjadi identitas kapal Indonesia untuk menjadi poros maritim dunia.

Target yang diharapkan yaitu tahun 2017 kapal ini harus masuk produksi massal. Pembuatan kapal yang hanya memerlukan waktu satu bulan juga menjadi kelebihan kapal pelat datar.

Menteri Nasir mengatakan, riset kapal ini akan didanai melalu Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi dan juga selalu dilakukan pendampingan agar inovasi ini menjadi manfaat bagi masyarakat Indonesia khususnya nelayan. (sak)