Kemendikbud Rangkul Trans Retail Indonesia
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Kemendikbud Rangkul Trans Retail Indonesia

Kemendikbud bekerjasama dengan dunia industri dan usaha menyiapkan dan menyalurkan tenaga kerja lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK). Salah satunya menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan retail, PT Trans Retail Indonesia.

Nota kesepahaman yang akan berjalan selama 5 tahun itu menjadi landasan kerjasama dalam menghasilkan tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja gerai baru PT Trans Retail Indonesia.

Dektorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud dan PT Trans Retail Indonesia sepakat untuk bekerjasama dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga kerja profesional tingkat menengah melalui peningkatan kompetensi peserta didik SMK yang perlu ditingkatkan.

Nota kesepahaman tersebut ditandatangani Direktur Pembinaan SMK Kemendikbud dan Direktur Humas Resources and Corporate Affair PT Trans Retail Indonesia. Penandatanganan disaksikan Mendikbud Muhadjir Effendy dan Chairman PT Trans Retail Indonesia, Chairul Tandjung.

Chairul Tandjung mengatakan, pada tahun 2017 akan dibuka 30 gerai retail baru dari PT Trans Retail Indonesia di berbagai wilayah di tanah air. Setiap gerai membutuhkan sekitar 500 pekerja, sehingga tahun depan perusahaan retailnya itu akan membutuhkan 15.000 tenaga kerja.

“Dan 7.000 di antaranya akan kami ambil dari SMK,” katanya saat acara penandatanganan nota kesepahaman dengan Kemendikbud di Kantor Kemendikbud, Jakarta, pekan lalu.

Mendikbud Muhadjir Effendy mengapresiasi inisiatif dan kontribusi perusahaan swasta yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan dan kondisi ekonomi bangsa.

“Kita sangat optimis dengan adanya pelaku bisnis yang memiliki kepedulian terhadap bangsa. Mudah-mudahan kerjasama ini bisa diikuti pelaku bisnis besar lainnya,” ujar Mendikbud.

Saat ini, katanya, pemerintah tengah fokus menyiapkan sistem pembelajaran pendidikan vokasi, termasuk SMK, agar terintegrasi dengan dunia industri dan dunia usaha.

Salah satu opsi pembelajaran itu adalah dengan sistem ganda, yaitu siswa SMK akan belajar di sekolah dan di perusahaan atau industri dengan porsi seimbang, masing-masing 50 persen, bahkan bisa jadi 30 persen belajar di sekolah dan 70 persen praktik kerja di dunia industri.

“Supaya tenaga kerja kita lebih kompetitif dan bisa bersaing dengan kompetitor di pasar internasional, dan bisa bersaing dengan tenaga kerja asing,” tutur Mendikbud.

Ruang lingkup kerjasama Kemendikbud dengan PT Trans Retail Indonesia meliputi tujuh hal, yaitu praktik kerja lapangan (PKL); peningkatan kompetensi guru produktif; penyusunan standar operasional pelaksanaan (SOP) PKL; penyusunan materi dan tempat uji kompetensi; pelaksanaan uji kompetensi dan sertifikasi; pengembangan database lulusan SMK; serta pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program. (sak)