Kenalkan Aborijin ke Anak Berbagai Bangsa
PERISTIWA SENI BUDAYA

Kenalkan Aborijin ke Anak Berbagai Bangsa

Menjadi seorang pendongeng tak hanya dibutuhkan kemampuan berkomunikasi yang luwes dan ketertarikan pada dunia anak. Bagi Larry Brandy, sang pengisah asli Aborijin, kecintaan terhadap budaya sendiri menjadi motivasi utama. Di samping begitu mencintai sosok anak-anak.

Merayakan ‘Pekan NAIDOC (Komite Peringatan Hari Nasional Aborijin dan Selat Torres)’, yang jatuh di minggu pertama-kedua bulan Juli, Larry diundang datang ke Indonesia dan bertemu dengan anak-anak usia sekolah di 3 kota, Jakarta, Makassar dan Bali.

“Ini kunjungan pertama saya ke Indonesia, saya belum pernah ke sini sebelumnya. Di sini saya datang ke beberapa sekolah dan menemui sejumlah anak. Ternyata budaya Indonesia luar biasa dan anak-anaknya hebat, mereka sangat antusias mendengar dongeng saya,” tutur pria Aborijin dari suku Wiradjuri ini seperti dikutip AustraliaPlus.

“Untuk seorang pendongeng, itulah yang diharapkan,” sambungnya.

Ia lantas bercerita, “Meski saya berasal dari bagian selatan Australia, saya banyak mendengar tentang masyarakat Indonesia yang melakukan kontak dengan saudara Aborijin di utara. Tentang orang Macassan yang datang ke Yirrkala.”

“Saya menikmati kunjungan ini meski cukup terkejut dengan kondisi lalu lintas di Jakarta,” imbuhnya sembari tergelak.

Mendongeng secara profesional sejak 1996, Larry selalu menggunakan topeng binatang dan sejumlah artefak asli Aborijin dalam tiap kisah yang dibagikan.

“Saya berasal dari keluarga Aborijin yang hidup di New South Wales bagian pusat, tepatnya dari suku Wiradjuri. Dalam tiap dongeng, saya selalu menceritakan bagaimana dulunya orang Wiradjuri berburu dan mencari makanan,” ungkap pria yang tinggal di Canberra ini.

Bagaimana perjuangan mereka berburu kanguru atau emu pada saat itu tanpa senjata tanpa peluru. Mereka hanya berbekal alat-alat tradisional. Dia juga menunjukkan kepada anak-anak bagaimana warga Aborijin menggunakannya, kemuka Larry Brandy.

Karirnya sebagai pendongeng berawal dari pertemuannya dengan seorang arkeolog, sekitar dua dekade silam. “Waktu itu saya berkesempatan bekerja dengan arkeolog. Melibatkan saya dalam survei di wilayah Aborijin. Dari situ saya terpancing mengetahui budaya saya lebih dalam,” kenangnya.

Larry berujar dirinya kemudian terpacu bertanya dan belajar pada sesepuh Aborijin di lingkungannya, tentang budaya mereka lebih jauh. Sampai sekarang-pun dia sebenarnya juga masih belajar. “Nah, pertemuan itu lantas membawa saya menjumpai kurator situs Aborijin dan bepergian dengannya ke sejumlah tempat,” jelasnya

Latar belakang itulah yang membuat Larry memiliki gaya berbeda saat mendongeng.

“Saya tak mengisahkan sesuatu dari buku ketika mendongeng, saya tak cuma berdiri dan bercerita. Saya benar-benar memeragakan bagaimana sesepuh kami dulu berburu dan meminta anak-anak berperan jadi hewan,” ungkap pria yang pernah mendongeng hingga ke negara-negara Amerika utara ini.

“Saya hanya mendongeng kisah dari tanah adat saya sendiri,” ungkapnya. Bukan tanpa alasan jika Larry melakoni profesi ini dengan sepenuh hati. Baginya, menjadi pendongeng adalah panggilan jiwa.

“Tentu saja saya bersenang-senang ketika melakukannya. Tapi saya ingin memberi tahu bagaimana orang-orang Aborijin bisa bertahan dan bahwa budaya Aborijin adalah salah satu yang tertua di dunia, contohnya penggunaan bumerang di zaman dahulu,” jelasnya.

“Untuk anak-anak muda di lingkungan saya, saya berharap agar mereka lebih menghargai budaya yang diturunkan dan diajarkan para sesepuh.”

Di luar masyarakat Aborijin, Larry memiliki keinginan terpendam. “Saya ingin sampaikan pada anak-anak, kaum muda dan dunia bahwa Aborijin adalah masyarakat yang cerdas. Lihat teknologi bumerang dari jaman dahulu. Ada berbagai desain dan cara melempar bumerang yang disesuaikan dengan target buruan. Saya tak tahu apa yang orang pikirkan tapi bagi saya, budaya kami menakjubkan. Itu pesannya.” (sak)