Kendala Investasi PG adalah Ladang Tebu
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Kendala Investasi PG adalah Ladang Tebu

Target swasembada gula yang dicanangkan pemerintah hingga kini terus dilakukan. Mulai dari revitalisasi pabrik gula (PG) dan pengembangan areal tanam tebu. Namun, Asosiasi Gula Indonesia (AGI) mengaku hal itu masih sulit dilakukan. Pasalnya, terdapat kendala dalam hal investasi termasuk pembangunan PG di Indonesia yang masih memberatkan pihak investor.

“Menarik investor gula ke dalam negeri untuk mengembangkan usahanya saat ini tidaklah gampang. Ini akan terus berlangsung bila pemerintah masih tetap menggunakan cara lama yakni mewajibkan mereka memiliki perkebunan tebu sendiri,” kata Direktur Eksekutif AGI, Agus Pakpahan, kepada media di Surabaya, Kamis (11/8).

Menurutnya, jika dilihat dari sejarah pengembangan industri gula di Indonesia sejak zaman Belanda, PG memang tidak memiliki lahan tebu, tapi mereka bekerjasama dengan masyarakat. “Kalau dihitung-hitung, nilai investasi kebun itu 70 persen dari nilai investasi PG yang hanya 30 persennya,” katanya.

Bila investor tetap diwajibakan memiliki perkebunan tebu sendiri, jelas dia, maka risiko bisnis yang ditanggung cukup besar. Selain itu, lanjutnya, penyebab lain minimnya investor PG yang tertarik merealisasikan investasi mereka adalah tidak adanya lahan.

“Pengalokasian lahan baru itu sulit direalisasikan saat ini karena sudah dikuasai pihak-pihak tertentu,” ungkapnya.

Artinya, kata Agus, meskipun pemerintah mengklaim ada lahan sekian juta hektare, tapi fakta di lapangan, investor harus berhadapan dengan pihak-pihak yang sudah menguasai lahan tersebut.

Untuk itu, ia menyarakan pemerintah belajar dari Thailand. Ia menganggap pengembangan industri gula di Thailang cukup pesat karena kebijakan yang diterapkan pemerintahnya.

Di Thailand, katanya, setiap PG tidak ada yang memiliki perkebunan tebu. Tapi mereka mendapat suplai tebu dari petani. Sistem kerjasama dengan petani ini membuat industri PG berkembang karena potensi risiko 70 persen dari pengembangan kebun ditanggung petani.

Namun hasilnya, sebanyak 70 persen hasil olah PG disana merupakan milik petani dan 30 persennya milik PG. Mekanisme investasi tersebut menjadikan Thailand sebagai negara penghasil nomor dua terbesar di dunia pada tahun 2014.

Sejauh ini, dalam dua tahun terakhir pemerintah gencar mengundang investor PG untuk masuk ke Indonesia. Terdapat 27 investor yang diklaim tertarik masuk dan mengembangkan usaha PG dan perkebunan tebu di Indonesia, terdiri dari 14 PG existing dan 13 PG baru. Kabarnya, dua investor sudah siap beroperasi pada tahun ini. (sak)