Ki Jaga Rasa Kereta Sang Bendera Pusaka
PERISTIWA SENI BUDAYA

Ki Jaga Rasa Kereta Sang Bendera Pusaka

Ada yang berbeda dengan perayaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Istana Negara 2016. Bukan hanya upacara bendera, juga atraksi budaya dan hiburan, perayaan ‘tujuh belasan’ di Istana Kepresidenan itu mempertunjukkan iring-iringan bendera pusaka Merah Putih dari Monas ke Istana dan sebaliknya saat sore hari dari Istana ke Monas.

Upacara bendera di Istana yang dibuka dan ditutup dengan arak-arakan bendera pusaka ini baru pertama kali dilakukan. Meski bukan menjadi tahun pertama bagi Presiden Joko Widodo, tapi Jokowi yang menggagas pertama arak-arakan ini. Ia menginginkan ada perpaduan militer modern yaitu TNI dengan militer nusantara zaman dahulu.

Rangkaian acara dimulai sejak pukul 08.00 WIB yang disusul arak-arakan bendera dari Monumen Nasional menuju halaman Istana Merdeka. Begitu pun sebelum penutupan pukul 17.00 WIB, arak-arakan bendera kembali dilakukan dari halaman Istana Merdeka menuju Monumen Nasional.

Dalam iring-iringan dua kali perjalanan itu, menarik diikuti adanya kereta kencana bernama Ki Jaga Rasa. Kereta kencana itu sebetulnya bukan khusus dibuat untuk perayaan 17 Agustus. Kereta kencana itu didatangkan dari Purwakarta, Jawa Barat.

Ki Jaga Rasa dibawa dari Purwakarta setelah diminta pihak Istana. Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mendukung penggunaan Ki Jaga Rasa membawa bendera pusaka.

Ki Jaga Rasa merupakan refleksi sejarah kebudayaan di Purwakarta. Kereta ini biasanya hanya dikeluarkan dari pendopo setahun sekali yaitu pada puncak Hari Jadi Purwakarta.

“Ki Jaga Rasa adalah kereta kencana yang dipersembahkan sebagai simbol kemuliaan Raja Sunda. Ki Jaga Rasa turun dari Bale Nagri setiap menjelang puncak Hari Jadi dengan upacara ‘Jurung Tandang Tutunggangan Agung’,” ulas Dedi Mulyadi melalui Facebooknya.

Bupati Dedi mengatakan, Ki Jaga Rasa menjadi kendaraan pembawa bendera pusaka merupakan titah langsung dari Jokowi, yang ingin meramu tata upacara bendera dengan tata budaya nusantara.

Ki Jaga Rasa ini juga yang sempat ‘melambungkan’ nama Bupati Dedi beberapa waktu lalu. Sebagian anggota masyarakat menolak keberadaan kereta kencana ini bahkan sampai menganggap Bupati Dedi seorang musyrik. Bupati Dedi tak bergeming, ia hanya ingin ‘hidup’ kembalinya budaya Sunda tanpa menyinggung agama.

Kereta kencana Ki Jaga Rasa bukan kereta warisan atau kereta tua. Kereta ini dibuat 2009 lalu. Pembuatannya dilakukan di Solo. Nama Ki Jaga Rasa diambil dari gelar lain Raja Pajajaran Maharaja Sri Baduga Siliwangi yaitu Ki Pamanah Rasa atau berarti Sang Penjaga Hati.

Keberadaan Ki Jaga Rasa, diharapkan membawa warna baru dalam perayaan Hari Kemerdekaan. Lebih dari sekadar simbol, budaya nusantara harus mendapat tempat di tataran nasional. (sak/ist)