Kisah Erwan Yova, Anak Tukang Ojek Meraih Asa Jadi Insinyur
PERISTIWA PROFIL

Kisah Erwan Yova, Anak Tukang Ojek Meraih Asa Jadi Insinyur

Erwan Yova Ady Pratama tak kuasa menahan kegembiraannya setelah mengetahui mendapat kesempatan kuliah gratis di Universitas Gadjah Mada (UGM). Pria kelahiran Ponorogo, 20 April 1998 silam ini dinyatakan lolos masuk UGM lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) 2016.

Dengan beasiswa Bidikmisi, Yova akan menjalani kuliah di Program Studi Teknik Mesin, Departemen Teknik Mesin dan Industri Fakultas Teknik tanpa dipungut biaya pendidikan hingga lulus kuliah. “Senang sekali bisa diterima di UGM. Benar-benar bersyukur akhirnya apa yang saya impikan bisa terwujud,” tutur Yova, saat ditemui Humas UGM di kediamannya di Jl Menur, Polorejo, Babadan, Ponorogo belum lama ini.

Sebelumnya, anak sulung dari pasangan Suwarso (47) dan Wiji Lestari (39) ini tidak berharap banyak bisa kuliah di kampus ternama Indonesia ini, mengingat kondisi keluarga yang pas-pasan. Pendapatan sang ayah sebagai tukang ojek hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sementara ibunya adalah ibu rumah tangga yang mengurus dua adiknya yang masih kecil-kecil. “Bapak mendapat 30 ribu setiap harinya dari hasil menarik ojek,” jelasnya. Maklum dengan kondisi keluarganya itu, Yova tidak pernah memaksakan keinginannya untuk mengambil pendidikan tinggi.

Namun begitu, ia pun tidak lantas patah semangat. Kondisi itu justru mendorongnya untuk terus berusaha melawan keterbatasan dengan giat belajar dan berusaha meraih prestasi. Kemauan dan tekad kuatnya dalam belajar akhirnya membuahkan hasil manis. Beragam prestasi berhasil diraihnya.

Sejak bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah juara 1 tidak pernah lepas dari genggamannya. Kemudian di bangku SMA selalu masuk dalam jajaran 3 besar di kelasnya dan mendapatkan beasiswa pendidikan selama 3 tahun.

Sejumlah prestasi nasional juga berhasil dikantongi alumnus SMA 1 Ponorogo ini. Seperti Juara 1 Nasional Maritim Paper Competition 2016 yang diselenggarakan ITS. Pada kompetisi tersebut Yova mengajukan ide pengembangan aplikasi untuk pemanggilan jasa layanan perbaikan kapal yang tengah berlayar di lautan lepas.

Selain itu, juga meraih Juara 3 Paper Statistika Nasional 2015 yang diadakan IPB dan STIS dan Juara 3 Esay Pentingnya Pendidikan tingkat Provinsi Jawa Timur.

Dengan kuliah di Teknik Mesin, ia ingin nantinya bisa menjadi seperti Habibie sebagai sosok yang dikaguminya. Yova berharap dari tangannya bisa melahirkan sesuatu yang dapat berkontribusi bagi bangsa Indonesia.

“Ada beberapa ide di kepala, inginnya sih bisa membuat sesuatu untuk Indonesia seperti Pak Habibie,” kata Yova yang ingin segera bergabung dalam Tim Bimasakti UGM setelah kuliah nanti.

Suwarso merasa senang dan bangga karena anak pertamanya itu berhasil menggapai mimpi kuliah di UGM. Tidak banyak yang bisa dia lakukan selain mendukung dan mendoakan untuk kelancaran dan kesuksesan puteranya di masa mendatang. “Semoga yang dicita-citakan bisa berhasil dan membantu adik-adiknya dalam meraih pendidikan kelak,” tuturnya. (sak)