Kisah Heroik TNI di Langit Gaza
KOMUNITAS PERISTIWA

Kisah Heroik TNI di Langit Gaza

Pesawat Hercules C-130 J milik TNI-AU berhasil menjalankan misi air drop di atas udara Gaza, untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina.

Suara putaran empat bilah baling-baling Hercules C-130 J milik TNI-Angkatan Udara yang menempel pada empat titik di kedua sayap burung besi buatan Amerika Serikat itu terdengar memekakkan telinga. Itu terjadi sesaat ketika pintu belakang (ramp door) berteknologi hidrolik dari pesawat bermesin turboprop itu terbuka tepat pukul 12.50 waktu setempat di hari Selasa (09/04).

Seketika itu pula tiupan angin yang sangat kencang menerpa orang-orang yang berdiri di antara susunan palet yang terbungkus plastik. Total ada 20 palet berisi aneka macam barang seperti air minum kemasan, susu, perlengkapan bayi, popok, makanan instan, dan selimut di mana masing-masing beratnya adalah 160 kilogram. Kalau dijumlah seluruhnya mencapai 3.200 kg alias 3,2 ton dan tersusun rapi di kompartemen kargo pesawat.

Jika melihat kapasitas angkut pesawat berkode registrasi penerbangan A-1340 tersebut yang mencapai 20 ton, tentu saja susunan palet itu masih terasa ringan. Hanya butuh waktu tak lebih dari 1 menit ketika satu per satu palet tersebut mulai diterjunkan keluar dari perut pesawat yang memiliki panjang 34,69 meter tersebut.

Setiap palet meluncur cepat dari kompartemen kargo berdimensi panjang 16,9 meter, lebar 3,12 meter dan tinggi 2,74 meter. Setiap palet telah dilengkapi oleh payung terjun yang mengembang otomatis hanya dalam hitungan beberapa saat di udara.

Dari dalam perut pesawat yang terbang dengan metode Low Cost Low Altitude (LCLA) pada ketinggian 2.000 kaki atau 700 meter terlihat jelas suasana di darat yaitu aneka bangunan di antara lahan kosong. Sebagian bangunan dalam kondisi tak utuh lagi.

Itulah sekelumit aktivitas 27 prajurit TNI-AU yang sedang menjalankan misi kemanusiaan bertajuk Solidarity Path Operation, yaitu menerjunkan bantuan lewat udara (airdrop). Bantuan itu berasal dari rakyat Indonesia kepada masyarakat Palestina di Kota Gaza.

Misi berisiko tinggi itu tidak hanya melibatkan para prajurit Indonesia, melainkan juga delapan negara lainnya. Yakni, Mesir, Uni Emirat Arab, Belanda, Jerman, Belgia, Inggris, dan Prancis yang dipimpin oleh Yordania.

Seluruh armada pesawat angkut militer milik sembilan negara tersebut terbang dari Pangkalan Udara Angkatan Bersenjata Yordania King Abdullah II (KA2) di Kota Zarqa, yang merupakan pusat pemerintahan negara kerajaan tersebut. Itu merupakan misi penerjunan bantuan udara yang pertama kali dilakukan oleh Indonesia dari atas wilayah Gaza atau yang kedua untuk Asia Tenggara setelah Singapura.

Bagi pesawat angkut Hercules C-130 J A-1340 buatan pabrik Lockheed Martin, kegiatan ini juga menjadi yang pertama dilakukan sejak resmi masuk dalam jajaran armada angkut udara TNI pada 24 Januari 2024 lalu.

Misi tersebut berlangsung selama sekitar dua jam lebih sejak lepas landas pukul 11.36 waktu setempat hingga kembali mendarat di Zarqa pada 13.47 waktu setempat. Ada perbedaan waktu empat jam lebih lambat dari Jakarta. “Alhamdulillah misi berlangsung lancar. Terima kasih atas kerja sama semua pihak dan kolaborasi TNI dengan Angkatan Bersenjata Yordania,” kata Komandan Misi Bantuan, Kolonel Pnb Noto Casnoto.

Noto bersama seluruh kru menghabiskan waktu selama 14 hari untuk mempersiapkan seluruh misi ini sejak keberangkatan dari Jakarta pada 29 Maret 2024 hingga kembali mendarat di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta pada Kamis (11/4/2024) atau tepat di hari kedua Idulfitri 1445 Hijriah.

Awal perjalanan dari Jakarta, pesawat bermesin empat jenis Rolls-Royce AE 2100D tersebut menyusuri rute menuju New Delhi hingga ke Abu Dhabi sebelum tiba di Zarqa, Yordania. Pihaknya langsung berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI di Amman, Yordania. “Kami juga mengadakan pertemuan dengan Angkatan Udara Yordania di markas besar mereka. Pada hari kelima berada di sana, mereka mengundang kami untuk melakukan koordinasi teknis langsung,” kata Noto seperti dikutip dari Antara.

Saat teknis penerbangan bagi airdrop, seluruh pesawat yang terlibat diberi interval keberangkatan agar semua dilakukan secara aman mengingat wilayah udara yang dilewati masih dalam suasana perang. Seluruh komandan misi dari masing-masing negara juga telah menerima koordinat drop zone di atas udara Gaza.

Ada satu peristiwa kritis sewaktu pesawat sedang mengudara tatkala sinyal dari alat Global Positioning System (GPS) di kokpit tiba-tiba menghilang akibat diacak (jamming). Kendati demikian, pesawat yang telah dilengkapi aneka instrumen canggih tersebut mampu mengantisipasinya lantaran masih memiliki sistem navigasi lain.

Seluruh awak pesawat berhasil mengatasi keadaan dan tetap terbang sesuai arahan di darat. Mereka juga menyadari bahwa saat itu sedang terbang di atas wilayah konflik dan berbahaya. “Kami mengalami GPS mati dan hilang. Sehingga pesawat diterbangkan dengan cara konvensional dan pemetaannya pun dilakukan secara manual,” terang Noto.

Ia bersama pilot Letkol Pnb Alfonsus Fatma Astana Duta telah mengantisipasi kondisi tersebut termasuk jika sinyal radio sistem navigasi lainnya ikut diacak dari darat oleh radar. Mereka sejak berangkat sudah diingatkan akan melewati daerah operasi dan sedang aktif. Sehingga sewaktu jamming itu terjadi pesawat diterbangkan secara manual.

Kesuksesan penerjunan bantuan kepada rakyat Gaza guna menyambut Idulfitri melalui udara diyakini oleh para prajurit TNI-AU tak lepas dari campur tangan Sang Pencipta karena niat baik bangsa Indonesia membantu saudara mereka di Palestina.

Penghargaan dari pemerintah ditunjukkan ketika Panglima TNi Jenderal TNI Agus Subiyanto menyambut langsung kembalinya seluruh prajurit TNI-AU di Halim usai menjalankan misi kemanusiaan. “Ini merupakan momen yang tepat waktu, tepat sasaran dan tepat guna karena bermanfaat untuk membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang di Palestina,” kata Panglima dalam arahannya.

Bukan itu saja, Panglima TNI juga menyematkan penghargaan Dharma Pertahanan kepada seluruh personel. Keberhasilan penerjunan bantuan lewat metode airdrop juga menjadi kado peringatan HUT TNI-AU ke-78 pada 9 April 2024. Tetaplah menjadi sayap pelindung NKRI, Swa Bhuwana Paksa! (indonesia.go.id)