Kisah Mistis, Situ Patengan Makin Eksotis
JALAN-JALAN PERISTIWA

Kisah Mistis, Situ Patengan Makin Eksotis

Kabut putih masih menggumpal di atas permukaan air telaga yang dingin, dikelilingi pepohonan yang kelabu. Perlahan matahari terbit dari balik hutan, cahayanya kuning kemerahan, menampakan warna pepohonan yang hijau seiring terangkatnya kabut yang menyelimuti telaga.

Pemandangan itu tampak di Situ Patengan, kawasan wisata air yang eksotis di Bandung selatan, Ciwidey, beberapa waktu lalu. Sesekali terdengar suara hewan liar dari arah hutan Cagar Alam Patengan. Di hutan itu memang terdapat sekelompok lutung Jawa dan surili liar yang keberadaannya dilindungi.

Pagi itu aktivitas Situ Patengan masih sepi, puluhan perahu masih tertambat di pinggiran. Namun saat sepi itulah Situ Patengan menegaskan keindahannya. Situ ini berada di antara hutan seluas 153 hektar.

Hutan seluas itu berada dalam dua pengelolaan, yakni 85 hektar sebagai Cagar Alam Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat, dan 68 hektar sebagai Taman Wisata Alam (TWA) Situ Patengan.

Situ Patengan memiliki air yang bersumber dari banyak mata air dan sungai. Di tengah situ terdapat pulau kecil bernama Pulau Asmara. Sebagaimana tempat-tempat wisata alam yang indah, Situ Patengan memiliki sisi mistis yang bercampur dengan legenda.

Tidak sulit mendengar legenda maupun mitos yang berkembang di Patengan. Hampir semua warga lokal di sana tahu penggalan-penggalan legenda situ yang berdekatan dengan Kawah Putih, Gunung Patuha itu.

Sugih Pranaditya, menceritakan asal mula nama Pulau Asmara di Situ Patengan. Di pulau tersebut terdapat lokasi yang bernama Batu Cinta. “Batu Cinta tempat bertemunya Ki Santang dan Dewi Rengganis,” cerita pria 21 tahun ini seperti dirilis KabarKampus.com.

Sugih sehari-hari bekerja menyewakan perahu di danau tersebut, termasuk mengantar pengunjung berkeliling Situ Patengan. Pria tamatan SMA ini hafal di luar kepala legenda Situ Patengan.

Di sela bunyi mesin yang menggerakan perahu kayu yang di lambungnya bertuliskan ‘Arians’, ia menuturkan, dahulu kala di jaman Kerajaan Padjdjaran hidup seorang gadis desa bernama Dewi Rengganis yang cantiknya tidak ketulungan.

Sebagai gadis yang sudah memasuki usia menikah, Dewi Rengganis berdoa agar menemukan cinta yang tidak membuatnya terluka. Doa sang Dewi terkabul, bahkan jauh melebihi ekspektasinya. Seorang putra Kerajaan Padjdjaran bernama Ki Santang jatuh cinta kepadanya.

Sugih menunjukkan lokasi Batu Cinta, sebuah batu sebesar sapi yang ditumbuhi banyak lumut hijau. Tak jauh dari batu itu terdapat tulisan warna merah ‘Batu Cinta’. Sugih tetap mengendalikan perahunya, menyibak air danau yang jernih, menyusuri sisi pulau yang baru tersinari matahari pagi.

Menurutnya, hingga kini Batu Cinta masih dikunjungi wisatawan, ada yang penasaran karena mendengar namanya, ada pula yang percaya dengan mitos bahwa siapa pun yang datang ke lokasi tersebut akan mendapat pasangan ideal.

“Dulu orang yang belum punya pacar sering datang ke sini. Kalau sekarang mah sudah sudah mulai jarang,” katanya.

Terlepas dari mitos itu, Situ Patengan menjadi objek wisata yang layak dikunjungi. Wisata ke Situ Patengan bisa sekalian mampir ke Kawah Putih atau mandi air panas di kolam pemandian yang berdiri di Kecamatan Rancabali tersebut.

Tentu datang ke Situ Patengan tidak lengkap jika tidak berperahu. Ada sensasi yang berbeda antara menikmati keindahan alam di darat dan di atas air. Selain itu, makin banyak pengunjung akan membuat bertambah pula penghasilan tukang-tukang perahu seperti Sugih Pranaditya.

Di Situ Patengan terdapat 33 unit perahu yang dinakhodai 66 orang termasuk Sugih. Mereka tergabung dalam Paguyuban Perahu Patengan. Tarif naik perahu di Situ Patengan Rp 35.000 per orang. (sak/ist)