Kisah Srikandi Pelindung Jamaah Haji
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Kisah Srikandi Pelindung Jamaah Haji

Namanya Ipda Vivi Novianti dan Sertu Maryanti Oktavia. Keduanya adalah Srikandi dari Mabes POLRI dan TNI AU yang mendapat amanah sebagai bagian petugas Sektor Khusus Masjidil Haram.

Tugasnya jelas, memberikan perlindungan kepada jemaah haji Indonesia yang sedang beribadah di Masjidil Haram. Jika menemui jemaah yang belum menyelesaikan umrah wajibnya, mereka juga harus mendampingi jemaah untuk menyempurnakan ibadahnya.

“Alhamdulillah, saya bisa bertugas disini. Ini pengalaman pertama saya. Saya sangat terharu sekali ketika melihat ada jemaah tersesat dan kita bisa mengantarkan jemaah sampai ketemu rombongannya. Itu pengalaman yang luar biasa sekali, terharu,” kisah Vivi saat berbagi pengalaman dengan tim Media Center Haji (MCH) Daker Makkah, Jumat (19/08).

Tiga hari sejak kedatangan jemaah haji Indonesia di Makkah Al-Mukarramah, Ipda Vivi dan Sertu Yani mendapat giliran berjaga malam di pos pintu Marwah. Sektor khusus beranggotakan 23 personil yang dibagi dalam dua shift kerja (12 jam) dan ditempatkan di lima pos. Selain pos kantor seksus, ada 4 pos di Masjidil Haram, yaitu pos King Abdullah, Pos Zamzam Tower, Pos Hajar Aswad dan Pos Marwah.

Meski jemaah Indonesia yang sudah di Makkah baru sekitar 10 ribuan jemaah, namun kasus jemaah tersesat jalan cukup banyak. Menurut Vivi, hal yang harus dilakukannya adalah mengarahkan mereka ke terminal asal kedatangannya.

“Kita mengarahkan mereka darimana mereka awal datang ke Haram. Dari situ, kita tunjukan terminal kedatangan mereka. Jadi kita menunjukan ke arah terminal saat mereka datang ke Haram,” ujarnya.

Ditanya soal pengalaman paling berkesan, Vivi berkisah tentang pertemuannya dengan jemaah yang benar-benar buta dengan kondisi Masjidil Haram. Dia tertinggal dari rombongannya. Kondisinya semakin kompleks karena jemaah tersebut tidak bisa berbahasa Indonesia, hanya bisa berbahasa daerah.

Bahkan, dia juga tidak tahu tata cara ibadah. Saat ditanya, dia mengatakan kalau belum menyelesaikan tahapan-tahapan ibadah umrahnya. “Di situ kita harus membimbing agar dia bisa melaksanakan ibadah umrahnya dengan sempurna,” kenangnya dengan mata berkaca.

Kisah berbeda dialami Sertu Yanti. Saat itu dia bertemu dengan beberapa jemaah haji Indonesia yang terpisah dan tertinggal dari rombongannya. Mereka semua dalam keadaan lapar karena belum makan. Bingung dengan lingkungan barunya, mereka juga belum melaksanakan rangkaian ibadah umrahnya.

“(Karena mereka lapar) Kita antar ke sini (kantor Seksus) untuk diberikan makan terlebih dahulu. Setelah itu, baru diantar ke tempat tawaf dan sai untuk melaksanakan umrahnya. Lalu mereka dipertemukan kembali dengan rombongannya,” urainya dengan mata yang juga berkaca.

Baik Ipda Vivi dan Sertu Yanti, keduanya mengaku sempat menangis dalam rasa harunya. Bagi mereka, bisa membantu jemaah yang benar-benar kesulitan karena tersesat jalan dan tertinggal dari rombongannya, lalu bisa mempertemukan mereka kembali dengan rombongannya, merupakan hal luar biasa.

“Bapak yang saya antar itu merasa terbantu sekali dengan keberadaan kita di Masjidil Haram, dan itu merupakan hal yang luar biasa buat saya,” tuturnya sedikit tercekat oleh linang mata yang coba ditahannya.

Kesulitan dalam bertugas selalu ada, tapi baik Ipda Vivi dan Sertu Yanti menjadikannya sebagai tantangan yang harus diselesaikan. Meski demikian, keduanya berharap jemaah haji Indonesia bisa segera beradaptasi dan mengenali lingkungan Masjidil Haram sehingga bisa beribadah dengan baik.

Untuk jemaah yang baru datang dan akan menjalani umrah wajib, keduanya berpesan agar tetap tenang dan tidak perlu khawatir karena tim seksus bersama petugas haji lainnya siap memberikan perlindungan dan bimbingan. (sak)