Komitmen Enam Negara Penghasil Lada
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Komitmen Enam Negara Penghasil Lada

Enam negara anggota penghasil lada yang tergabung dalam International Pepper Community (IPC) berkomitmen terus memperkuat kerjasama antar mereka guna menghadapi tantangan industri lada ke depan. Hal ini diamanatkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat membuka The 44th Session and Meetings of IPC di Jakarta, di Jakarta, Senin (8/8).

“Rangkaian sidang tahunan IPC harus dapat memperkuat kerjasama antar negara produsen lada dunia, serta menghasilkan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga lada dan situasi perdagangan lada yang bersifat berkelanjutan,” tegas Mendag Enggar.

Dihadapan para delegasi, Mendag Enggar menyampaikan lima isu strategis yang perlu mendapat perhatian semua pihak. Pertama, negara-negara produsen lada harus terus didorong memaksimalkan kontribusi sektor lada dalam pembangunan, penciptaan lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan produktivitas, diversifikasi dan nilai tambah, serta aspek pemasaran dalam rangka ekspansi pasar.

Kedua, keberlangsungan jangka panjang dan ketahanan sektor lada bergantung pada adanya riset-riset baru dan inovasi yang dapat menguatkan industri hulu dan hilir.

Untuk itu, komite research and development IPC perlu meningkatkan kerjasama mulai dari pembibitan, pemeliharaan tanaman, sampai produksi, serta diversifikasi pemanfaatan lada secara global.

Isu penting ketiga, yaitu kerjasama dan koordinasi seluruh stakeholder dalam menstabilkan harga. Hal ini antara lain diupayakan melalui transparansi data statistik dan informasi lada.

Keempat, yang harus menjadi fokus IPC yaitu mengenai kualitas dan standar keamanan pangan. Hal ini sangat penting menjadi perhatian karena pasar sangat fokus pada keamanan dan standar sebagai acuan bagi industri pangan secara global, termasuk lada.

Sedangkan isu kelima, terkait perluasan keanggotaan IPC yang saat ini beranggotakan Brasil, India, Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, dan Viet Nam sebagai anggota tetap; serta Papua Nugini sebagai associate member.

“Jika IPC dapat merangkul lebih banyak negara anggota, maka akan memberikan sumber daya dan kapasitas yang lebih baik untuk mencapai tujuan IPC,” ujar Enggar.

Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kemendag Iman Pambagyo menambahkan bahwa sidang juga menyoroti keakuratan data. Hal tersebut sangat penting agar harga lada tetap berada pada tingkat yang menguntungkan bagi petani. “Kita membutuhkan data yang dapat dipercaya, baik terkait produksi, konsumsi, maupun ekspor impor lada. Hal ini dibutuhkan untuk memahami situasi pasar dan pergerakan harga yang wajar di tingkat global,” jelas Iman.

Iman selaku Chairman IPC ke-44 menjelaskan bahwa negara-negara anggota IPC perlu melakukan pendekatan secara government to government dengan Kamboja, Tiongkok, Madagaskar, dan Filipina yang juga merupakan negara produsen lada dunia agar harga dapat tetap stabil. (sak)