Proyek Mobil Listrik Terus Digarap
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Proyek Mobil Listrik Terus Digarap

Konsorsium perguruan tinggi dan lembaga penelitian terus bekerja, mengoptimalkan pengembangan kendaraan listrik dan baterai litium yang juga merupakan salah satu komponen penting mobil listrik.

Koordinator tim mobil listrik nasional, Agus Purwadi kepada media disela pameran Ritech Expo Hari Kebangkitan Teknologi Nasional di Solo pekan lalu, mengatakan pengembangan mobil listrik berupa konsorsium ini melibatkan lima perguruan tinggi dan BUMN strategis seperti PT Len dan PT Pindad.

Hal tersebut merupakan tindak lanjut darti pencanangan program mobil listrik nasional pada 25 Juni 2012, yang mengacu pada road map mobil listrik nasional dari konsorsium perguruan tinggi (PT).

PT yang terlibat adalah Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan lembaga penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Pengembangannya pun, lanjutnya, terus menerus dioptimalkan. Bahkan sudah ada penandatanganan nota kesepakatan dengan PT Pos Indonesia untuk pemanfaatan kendaraan roda tiga berbasis listrik. “Ini sudah dipesan 8.000 unit pada 2017. PT Pos Indonesia ingin mengganti 10 persen armadanya,” katanya. Kendaraan roda tiga rancangan konsorsium PT tersebut berkecepatan 60 km/jam dengan jarak tempuh 70 km.

Diharapkan, pada 2018, kendaraan listrik sudah dapat mulai diproduksi secara terbatas. Pengembangan kendaraan listrik yang digagas Presiden RI tersebut merupakan dukungan dan solusi alternatif transportasi yang akan menyelamatkan dari penggunaan minyak bumi berlebihan dan pencemaran lingkungan.

Sementara komponen penting dalam kendaraan listrik adalah baterai, sedangkan teknologi kunci lainnya yang sangat penting harus dimiliki untuk mengembangkan sebuah mobil listrik adalah propulsi dan transmisi, pengisian, platform, serta elektronik.

Konsorsium baterai litium ini sudah dibentuk 2012, melibatkan LIPI, Badan Tenaga Nuklir Nasional, BPPT, UI, UGM, ITB, ITS, Universitas Lambung Mangkurat dan Kementerian Perindustrian.

Ditargetkan pada 2019 dibangun fondasi dasar industri baterai litium Indonesia. Setiap komponen baterai akan ada pabriknya, sehingga saat ada industri ponsel misalnya, tinggal merakitnya.

Nantinya, komponen pembuatan baterai berbentuk lembaran. Untuk baterai kendaraan listrik, anoda terdiri dari lithium titanate dan katodanya lithium metal phosspkate.

Sedangkan untuk baterai komunikasi, komponen anoda grap-hite dan katoda lithium metal phossphate. Mobil listrik butuh pengisian baterai tinggi karena penggunaannya juga tinggi.

Saat ini penelitian baterai litium masih skala laboratorium. Kerjasama dengan perusahaan mulai digagas. Jika paten sudah ada, barulah dibuat lisensi dan dibangun pabrik. Produksi pilot plant baterai litium saat ini berada di Pusat Penelitian LIPI di Puspiptek Serpong.

Jika Indonesia mampu menguasai seluruh teknologi kunci mobil listrik, diharapkan ketergantungan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) menurun, sehingga jumlah subsidi BBM dapat berkurang. (sak)