Kopi Puntang Pecahkan Rekor Lelang Dunia
CANGKIR KOPI PERISTIWA

Kopi Puntang Pecahkan Rekor Lelang Dunia

Kopi terbaik Jawa Barat yakni kopi dari Gunung Puntang disebut-sebut berhasil memecahkan rekor terbaru lelang kopi Indonesia.

Kopi tersebut juga memecahkan rekor lelang dunia yakni, mencapai harga jual tertinggi mencapai 55 dolar USD per kilogram (kg) atau sekitar Rp 750 ribu per kg.

“Ini adalah rekor terbaru lelang kopi di Indonesia,” ujar Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan yang akrab disapa Aher kepada wartawan usai acara Festival Kopi dengan tema, Java Preanger Coffee, Kopi Juara, di Trans Studio Mal, akhir pekan lalu.

Menurut Aher, eksotisme kopi Indonesia, terbukti menarik pembelian specialty coffee oleh Royal Coffeusa pada 15 April 2016 lalu.

Indonesia, melaksanakan lelang kopi secara langsung dan berhasil membukukan transaksi sebesar 11.900 dolar USD atau setara Rp 160 juta . “Seluruh 17 kopi pilihan yang dilelang habis terjual hanya dalam waktu tiga jam,” katanya.

Aher mengatakan, kopi yang dilelang tersebut jumlahnya sebanyak 17 kopi. Kopi tersebut diantaranya kopi Gunung Puntang yang temukan dan dipopulerkan Ayi Sutedja, Mekar Wangi, Manggarai, Malabar, Honer, Atu Lintang, Toraja Sapan, Blue Moon Organic.

Juga ada kopi Gayo Organik, Java Cibeber, Kopi Catur Washed, West Java Pasundan Honey, Arabica Toraja, Flores Golewa, Redelong, Preanger Wening Galih, Flores Enda, Java Tumenggung.

Saat ini, kata Aher, luas areal perkebunan kopi di Jabar mencapai 600 ribu hektare. Sedangkan potensi tanaman kopi, hanya mencapai 30.620 hektare dengan jumlah produksinya sebanyak 29,8 ton.

Jika dilihat dari luas lahan, kopi Jabar memiliki potensi mengalahkan Brasil yang dikenal sebagai penghasil kopi kelas dunia. “Karena, Brasil hanya memiliki luas lahan 300 ribu hektare,” katanya.

Menurut Aher, ada beberapa permasalahan yang dihadapi sektor perkopian di Jabar. Masalah itu di antaranya, adalah luas tanah yang semakin sempit, rendahnya kualitas kopi dalam proses pascapanen.

Juga soal produktivitas rendah akibat sebagian tanaman tua atau rusak, belum menggunakan benih unggul, kurang perawatan, terserang hama dan penyakit utama, dan lain-lain. (sak/ist)