KPI Diminta Fokus Konten Siaran
PEMERINTAHAN PERISTIWA

KPI Diminta Fokus Konten Siaran

Menkominfo Rudiantara mengatakan tantangan anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Periode 2016-2019 terletak pada masalah konten siaran. Konten penyiaran merupakan salah satu isu yang mendapat perhatian besar dari pemerintah, termasuk Presiden Joko Widodo.

“Konten penyiaran menjadi salah satu concern dari pemerintah, satu concern yang besar bagi Presiden sendiri. Tentunya kita berharap ke depannya kita bisa manage konten dengan lebih baik lagi,” kata Rudiantara saat Acara Penyerahan Salinan Keppres kepada Komisioner KPI di Jakarta, Kamis (04/08).

Sembilan komisioner yang baru terpilih periode 2016–2019 adalah Yuliandre Darwis, Nuning Rodiyah, Ubaidillah, Dewi Setyarini, H. Obsatar Sinaga, Mayong Suryo Laksono, Hardly Stefano Fenelon Pariela, Agung Suprio, dan Sudjarwanto Rahmat Muhammad Arifin.

Rudiantara juga mengingatkan peran KPI untuk dapat memonitor lembaga penyiaran. Baru setelah itu fokus pada infrastruktur lembaga KPI. Menteri berkeyakinan terhadap anggota KPI 2016-2016 yang dipilih oleh 11 orang panitia seleksi. “Mereka memiliki kapasitas dan kompetensi terkait aspek konten penyiaran di bidang masing-masing,” tegasnya.

Sebelum seleksi anggota KPI, menurut Rudiantara, dia menghubungi satu persatu tim panitia seleksi untuk mencari pola bagaimana mendesain panitia penilai pansel komisoner KPI yang merepresentasikan isu-isu penting di dunia penyiaran. Baik itu isu anak, pendidikan, wanita, dan isu penting lainnya.

“Misalnya saja untuk isu anak, meminta bantuan Kak Seto untuk bergabung di tim pansel. Untuk isu pendidikan, hadir sosok Prof Dr Arief Rachman MPd. Lalu Linda Sari Gumelar bergabung terkait isu perempuan. Begitu pula dengan para pansel lainnya yang telah terbukti rekam jejaknya di bidang penyiaran,” paparnya.

Rudiantara juga menyampaikan masyarakat tidak boleh lupa bahwa lembaga penyiaran juga adalah industri, sehingga aspek bisnisnya juga harus ada. Oleh karena itulah Prof. Rhenald Kasali juga bergabung di tim pansel sebagai pakar manajemen. “Kita juga harus menjaga, dan tidak boleh menafikan bahwa televisi, lembaga penyiaran itu adalah industri bagi kita. Jadi aspek bisnisnya juga harus ada,” katanya.

Rudiantara berharapan para komisioner periode lalu untuk terus memanfaatkan kemampuan dan pengalamannya terkait dunia penyiaran. “Washing the brain is a crime. Jadi walaupun tak lagi menjadi komisioner tapi pengalaman menjadi komisioner itu jangan disia-siakan. Pengalaman itu berharga. Sebab serugi-ruginya manusia adalah manusia yang tidak memberi manfaat kepada orang lain,” kata Rudiantara. (sak)