KPK dan Risma Ngamen Bareng Antikorusi
PEMERINTAHAN PERISTIWA

KPK dan Risma Ngamen Bareng Antikorusi

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Saut Situmorang mengajak Walikota Surabaya Tri Rismaharini bernyanyi bersama tentang korupsi dalam Ngamen Anti Korupsi yang diiringi band Klantink yang diselenggarakan di Stasiun Gubeng, Jumat(23/9).

“Ini merupakan kunjungan keempat kalinya, sebelumnya acara yang sama sudah diselenggarakan di Jabodetabek dan Jogja untuk terus mengingatkan kembali tentang bahaya korupsi,” kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang.

Saat ini, Indonesia masih menduduki peringkat 36 di dunia, masih kalah jauh dengan Singapura yang menduduki peringkat 85. Sedangkan Malaysia menduduki peringkat 50 dunia.Tujuan KPK ingin mensejahterakan masyarakat Indonesia agar terbebas dari korupsi.

“Kami harap Indonesia terus membaik untuk memperbaiki peringkat, kami akan terus cerewet agar Indonesia dapat naik peringkatnya menjadi bersih dengan dukungan pemerintahan daerah serta masyarakatnya. Seperti Surabaya yang mengajarkan kepada setiap kepala pemerintahannya cara untuk tidak korupsi dengan software e-budgeting dan software lainnya,” tegasnya.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini menyambut positif acara yang digelar oleh KPK, hingga kini kota Surabaya masih dipercaya KPK dalam mengingatkan bahaya Korupsi. “Semakin banyak yang mengingatkan tentang kebaikan membuat saya senang, Contohnya ketika saya naik pesawat harus antri, itu mengajarkan pada diri kita untuk meraih sesuatu itu tidaklah mudah, semua harus dilakukan dengan keras, apalagi untuk mendapatkan uang, jangan korupsi, marilah kita mulai dengan diri kita masing-masing,” kata Risma dalam sambutnya.

Selain itu, Peraih Ideal Mother Award 2016 ini akan menyerahkan sofware terbaru terkait bahan bakar yang digunakan mobil pengangkut sampah yang akan diberikan kepada KPK untuk diajarkan ke pemerintah diseluruh Indonesia. “Sofware terbaru yang pengatur bahan bakar minyak (BBM) akan kita serahkan kepada KPK agar bisa mengontrolnya langsung oleh pimpinan daerah masing-masing,” tandasnya.

Ditawari jadi Ketua KPK
Keduanyaa begitu bersemangat tampil dalam satu panggung kecil, ngamen antikorups di hadapan ratusan penumpang di Stasiun Gubeng. Peluh dan keringat yang bercucuran tak mereka hiraukan. Nyanyian demi nyanyian lagu khas Surabaya juga lagu Iwan Fals ‘Bento’.

Risma juga membagi-bagikan hadiah kepada pengunjung yang berhasil menjawab pertanyaan yang disampaikannya. “Apa kepanjangan OTT?” tanya Risma. Beberapa orang pun bergegas naik ke atas panggung untuk menjawab pertanyaan Risma tersebut.

Dalam sambutannya, Risma menegaskan pentingnya budaya antikorupsi untuk ditanamkan sejak dini kepada anak-anak. “Sebisa mungkin ditanamkan sejak kecil,” kata Risma yang mengaku bangga bisa menjadi bagian dari KPK untuk mengampanyekan budaya kerja antikorupsi.

Usai ngamen bareng dihadapan penumpang, Situmorang menawari Risma menjadi Ketua KPK. “Lebih tepat Ibu itu jadi Katua KPK. Ibu punya kekuatan ini,” ucap Situmorang.

Dimata Situmorang, sosok Risma adalah tokoh yang memiliki hati nurani. Memimpin Surabaya penuh integritas. Risma juga dinilai melekat karakteristik yang kuat. Jadi tepat jika sosoknya bisa jadi Katua KPK. “Tidak mudah mencari sosok yang kuat karakteristik dan integritasnya di zaman seperti sekarang ini. Risma sejauh yang kita kenal memiliki karakter ini,” kata Situmorang.

Selain itu, karakter yang kuat tersebut yang tidak akan lekang oleh waktu. Integritas tinggi ini tidak akan luntur karena ruang dan waktu. Meski demikian, untuk menjadi anggota KPK tentu harus melalui proses pendaftaran. “Namun saya bisa merekomendasikan untuk Bu Risma,” ucap Situmorang sambil tertawa.

Pimpinan KPK saat ini prihatin dengan terbatasnya sosok calon pemimpin. Tidak banyak sosok yang memiliki karakter dan integritas yang kuat. KPK mengaku saat ini memang tengah memasukkan sosok dalam bank-bank pemimpin yang berintegritas tinggi.

Mendengar tawaran pimpinan KPK itu, Risma pun dengan cepat bereaksi. “Tidak ah. Tidak. Saya tidak mau tawaran itu,” kata Risma. Bahkan kalau pun dapat rekomendasi siapa pun, Risma tidak mau menjadi anggota KPK. Selain tantangannya begitu kuat, juga perlu persiapan luar biasa. “Saya di Surabaya saja,” tandas Risma. (sak/foto ist)