“Lampu Su Menyala, Tak Lagi Tidur Gelap”
PEMERINTAHAN PERISTIWA

“Lampu Su Menyala, Tak Lagi Tidur Gelap”

Warga Kampung Kocu As kini dapat tersenyum lepas, aktifitas masyarakat dan kegiatan ekonomi berjalan lebih panjang dengan hadirnya listrik di kampung mereka. “Lampu su menyala dari dua pekan lalu!” tukas Papa Cyprianus, seorang tetua Kampung Kocu As dengan senyuman yang lebar.

Kampung Kocu As terletak di Kecamatan Aifat Barat, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat. Desa ini adalah salah satu dari sejumlah desa/kampung di Kabupaten Maybrat yang menerima bantuan hibah pemerintah pada pembangunan infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Off-Grid Tahun Anggaran 2016 Kementerian ESDM.

Suatu tantangan dan cerita tersendiri untuk mencapai Kampung Kocu As dan beberapa kampung lainnya tempat dibangunnya infrastruktur PLTS Off-Grid, seperti Kampung Bori, Kocuwer dan Kokas.

Perjalanan darat non-stop dari Kota Sorong ditempuh secara matematis selama 6,5 jam, dan harus menggunakan mobil gardan ganda karena sebagian jalan masih dalam kondisi tidak beraspal dan berlumpur jika diguyur hujan.

Mobil bukan gardan ganda hanya bisa menjangkau sampai Kumurkek, Ibukota Kabupaten Maybrat. Tidak adanya penerangan jalan membuat perjalanan non-stop tidak bisa dilakukan.

Transit menginap hanya bisa dilakukan di beberapa titik, seperti Kampung Kambuaya, Kecamatan Ayamaru, tempat asal Balthasar Kambuaya, putra daerah setempat yang pernah menjadi Menteri Lingkungan Hidup RI periode 2011-2014.

Wilayah Papua dan Papua Barat rasio elektrifikasinya masih rendah dibandingkan rata rata nasional yakni 47,2 persen dan PT PLN sedang mengejar target peningkatan rasio elektrifikasi Papua dan Papua Barat hingga 90,25 persen pada 2020.

Rencana pembangunannya sudah tertuang dalam RUPTL dan masuk dalam Program 35 ribu Megawatt yang digagas Presiden RI Joko Widodo. Ketersediaan pasokan listrik merupakan kebutuhan mendasar bagi masyarakat. Ketersediaan listrik akan menjadi jendela membuka peradaban.

Tak Lagi Tidur Gelap
Kampung Kocu As dihuni 200 KK dengan penduduk 600 orang. Sebelum PLTS Off-Grid berkapasitas 50 kWp bantuan dari Pemerintah menyala pada 10 September 2016 lalu, kampung ini hanya dilistriki generator diesel yang terletak di dekat rumah kepala kampung, yang terbatas pada 5-6 jam penerangan di waktu malam.

Di kampung ini, harga bahan bakar mesin diesel berharga Rp 20.000 per liter. Dengan konsumsi per jam rata-rata dua liter, kampung ini mesti mengeluarkan biaya sekitar Rp 200-300 ribu per harinya untuk pembangkit listrik. Belum terhitung jika pada waktu siang hari, diperlukan listrik untuk keperluan dan kegiatan kampung.

Minyak diesel, demikian disebut warga setempat, menjadi barang mahal bagi warga kampung ini. Minyak diesel hanya bisa didapat di Ayamaru atau Kumurkek, yang menempuh 1,5-2,5 jam perjalanan darat tergantung cuaca.

Apabila cuaca hujan, sebagian jalan berlumpur dan tidak bisa dilalui. Jika demikian, tidak ada minyak diesel yang mengisi generator diesel kampung ini, yang menyebabkan tidak ada listrik sama sekali.

Warga kampung hanya berpasrah saja melalui malam tanpa listrik dan penerangan sama sekali. Waktu-waktu tersebut, malam-malam tanpa listrik dan penerangan, disebut warga sebagai ‘Tidur Gelap’.

Menyadari besarnya manfaat listrik bagi kampungnya, selama proses pembangunan infrastruktur PLTS Off-Grid 50 kWp, masyarakat Kampung Kocu As begitu antusias mendukung pembangunan tersebut.

Warga secara sukarela memberikan berbagai dukungan pada kontraktor pembangunan PLTS tersebut. Wrga sukarela menyumbang bilah-bilah kayu untuk ditaruh di rute jalan berlumpur, agar peralatan PLTS dapat dimobilisasi dengan mobil pengangkut ke lokasi Kampung Kocu As. Sebagian juga sukarela membantu proses mobilisasi secara langsung.

“Sekitar seperempat kegiatan pembangunan PLTS dilakukan secara sukarela oleh warga masyarakat di sini,“ ungkap Mimit, peserta kegiatan Patriot Energi, fasilitasi pendampingan masyarakat yang daerahnya menerima bantuan pembangunan pembangkit listrik tenaga energi baru terbarukan (EBT) seperti PLTS.

Masyarakat Kampung Kocu As begitu antusias mendukung pembanguan tersebut. Tokoh-tokoh tetua adat kampung menghimbau masyarakat membantu apa yang diperlukan.

Puncaknya, pada hari Jumat, 16 September 2016, diselenggarakan upacara adat untuk merayakan menyalanya PLTS Off-Grid 50 kWP Kampung Kocu As.

Upacara adat yang sederhana namun penuh sukacita ini dihadiri perwakilan agamawan (pastor dan pendeta) serta perwakilan PT Surya Energi Indotama (SEI), kontraktor pembangunan PLTS.

Ibu-ibu kampung Kocu As dan semua yang hadir bersama-sama menyatu dalam tarian-tarian adat setempat. Teriakan, siulan dan lagu-lagu menyuarakan kegembiraan yang luar biasa besarnya.

Kegembiraan warga terus terpancar sampai waktu ketika tim ESDM mengunjungi lokasi. Senyum ramah mereka kian bertambah dengan senyum terang dari listrik 24 jam yang bisa dinikmati warga.

Fasilitas baterai pada PLTS memungkinkan daya listrik disimpan untuk penerangan sehari penuh. Baterai PLTS terisi penuh dengan 4 jam waktu siang hari dengan terik matahari. Apabila hari mendung pun, baterai pun tetap dapat terisi dengan waktu 6 jam.

Dalam mengelola PLTS tersebut, setiap warga secara swadaya dikenakan iuran Rp 50.000 per bulan untuk membiayai operasional PLTS, yang operatornya mengandalkan tenaga-tenaga dari warga setempat.

Biaya tersebut tentu jauh lebih murah dari generator diesel yang sebelumnya diandalkan warga. Bahkan, demi peningkatan kualitas, warga sedang mengusulkan menaikkan iuran menjadi Rp 100 ribu per bulan.

Selain untuk penerangan, listrik yang dihasilkan PLTS tersebut juga bermanfaat bagi kegiatan produktif warga. Warga memanfaatkanya pula untuk kegiatan pemotongan kayu hutan. Hal tersebut menambah terang senyuman warga.

Asa mereka untuk kualitas hidup yang lebih baik lagi juga kian menyala. “Mennn, menn, menn!“ (Dagh, sampai jumpa). (sak/ist)