Libur Lebaran 2016, Museum Tsunami di Aceh Dikunjungi 18.659 Orang
JALAN-JALAN PERISTIWA

Libur Lebaran 2016, Museum Tsunami di Aceh Dikunjungi 18.659 Orang

Museum Tsunami Aceh tetap menjadi destinasi terfavorit masyarakat saat libur Lebaran. Pada hari ketiga Lebaran 2016, jumlah pengunjungnya mencapai 18.659 orang.

Animo kunjungan ke museum, terutama museum non konvensional, makin menggembirakan. Museum berfungsi sebagai wahana edukasi, rekreasi, dan penguat identitas suatu masyarakat. Untuk Museum Tsunami Aceh—sesuai konsep desain “Rumoh Aceh as escape hill” fungsinya ditambah satu lagi, yakni sebagai gedung evakuasi atau perlindungan dari tsunami.

Dari tahun ke tahun, khususnya selama libur lebaran, pengunjung museum kebanggaan dan destinasi terfavorit Aceh itu selalu meningkat. Pada Jumat (8/7) atau hari ketiga (H+3) Lebaran, misalnya, museum yang berlokasi persis di selatan Lapangan Blangpadang Banda Aceh itu tercatat dikunjungi 18.659 orang dalam satu hari.

Menurut Kepala Museum Tsunami Aceh, Tomy Mulia Hasan, ini rekor baru. “Belum pernah dalam sejarah, pengunjung Museum Tsunami bisa sebanyak ini, melonjak 60 persen dibanding hari serupa tahun lalu yang hanya 10.040 pengunjung itu,” ungkapnya.

Museum Tsunami dibuka setiap hari, pukul 09.00-16.30, termasuk hari libur nasional, kecuali hari libur Islam. Tahun lalu, total pengunjungnya 560.228 orang. Sebanyak 5 persen di antaranya wisatawan asing, mayoritas dari Malaysia. Fakta ini, imbuh Tomy, membuktikan setidaknya dua hal, yakni betapa tingginya minat pengunjung terhadap pengetahuan tentang Aceh dan tsunami serta sudah amannya Aceh.

Terbatasnya lahan parkir, membludaknya pengunjung dari dan ke Museum Tsunami dimanfaatkan petugas parkir dan pedagang dadakan hingga memacetkan lalu-lintas. Pada Sabtu (9/7) dan Minggu (10/7), jumlah pengunjung tetap tinggi dan baru kembali normal seiring berakhirnya libur Lebaran.

Selain sebagai ‘tugu peringatan’, Museum Tsunami Aceh juga menjadi simbol bagi ketabahan masyarakat setempat dan persaudaraan-kemanusiaan masyarakat dunia kala gempa bertsunami 26 Desember 2004 menerjang Aceh, dan sebagaian Sumatera Utara.

Museum diisi berbagai koleksi memorabilia tsunami serta media berbagi pengalaman dan pengetahuan kebencanaan untuk menggugah respons kritis serta membangun budaya kesiapsiagaan terhadap bencana. Luasnya 2.500 meter persegi, strukturnya empat lantai, atapnya serupa gelombang laut, dan lantai dasarnya mirip rumoh (rumah panggung tradisional) Aceh yang selamat dari tsunami.

Diresmikan Presiden SBY 23 Februari 2009, pengisian sarana pendukung dan renovasinya dilakukan secara bertahap sejak 2010 hingga April 2011 oleh Kementerian ESDM dengan dana dari APBN. Museum resmi dibuka untuk publik pada 8 Mei 2011.

Menteri ESDM Sudirman Said menambahkan, Kementerian ESDM juga memiliki sejumlah museum geologi yang kini masih belum dikelola maksimal. “Jika seluruh museum yang kita kelola itu bisa direvitalisasi dengan baik, tentu akan dapat menjadi wahana pembelajaran yang memadai bagi publik.”

Untuk lebih meningkatkan profesionalisme pengelolaan museum-museum itu, tambah Menteri Sudirman, Kementerian ESDM akan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta lembaga-lembaga internasional terkait. (sak)

Comments are closed.