Leo: Nahkoda Baru Greenpeace Indonesia
PERISTIWA PROFIL

Leo: Nahkoda Baru Greenpeace Indonesia

Greenpeace Indonesia resmi memiliki kepala organisasi yang baru mulai 6 September 2016 lalu. Leonard Simanjuntak terpilih menggantikan Longgena Ginting yang telah memegang jabatan tersebut selama 3,5 tahun.

Nama Leonard sebetulnya sudah tidak asing bagi staf Greenpeace Indonesia. Keterlibatan pertamanya dengan Greenpeace pada 1996 saat bekerjasama dengan Greenpeace dalam studi tentang potensi penyebaran dampak radioaktif dari rencana Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Muria di Jawa Tengah. Pada tahun itu juga Leonard bergabung dalam misi kapal MV Greenpeace menuju Shanghai untuk memprotes tes nuklir China di Xinjiang.

Pada 2006, Leonard adalah salah satu pendiri Greenpeace Indonesia dan menjadi satu anggota dewan nasional sejak saat itu. Dia telah bekerjasama dengan beberapa Direktur Eksekutif Greenpeace Southeast Asia (GPSEA) serta Kepala Greenpeace Indonesia sejak itu. Menyusul penunjukannya sebagai Kepala Greenpeace Indonesia yang baru, Leonard telah mengundurkan diri dari Dewan Nasional Greenpeace Indonesia.

“Dengan senang hati saya menerima tugas ini karena Greenpeace telah terbukti konsisten berkampanye demi perubahan positif bagi lingkungan, dan secara independen berhadap-hadapan dengan pihak perusak lingkungan,” kata Leonard dalam rilis Greenpeace.org.

Greenpeace menurut Leonard, juga membantu masyarakat yang terkena dampak buruk perusakan lingkungan, membantu negara mengimplementasikan solusi-solusi nyata, dan bersuara bersama segenap pihak demi mempertahankan bumi bagi anak dan cucu kita, imbuhnya.

“Belum terlambat menyelamatkan lingkungan Indonesia yang unik dan berharga ini, tetapi untuk mewujudkannya butuh upaya semua pihak. Tidak hanya para aktivis lingkungan, tetapi juga pihak pemerintah dan para pemimpin dunia industri,” tegasnya.

Secara khusus untuk konteks perubahan iklim, menurut Leonard Indonesia memiliki posisi dan peran khas untuk mengurangi emisi karbon secara global. Indonesia juga sudah berkomitmen, melalui Kesepakatan Paris, untuk mengurangi emisinya secara signifikan.

“Sebab itu pilihan-pilihan kebijakan dalam sektor kehutanan dan energi saat ini, menjadi sangat krusial dan menentukan, apakah Indonesia dapat memenuhi komitmen globalnya tersebut,” ujar Leo, sapaan akrabnya.

Untuk memastikan pemerintah dan industri memenuhi komitmen tersebut, Greenpeace akan bekerjasama dengan seluruh elemen gerakan lingkungan dan sosial di Indonesia.

Greenpeace memandang bahwa dengan memenuhi komitmennya kepada Kesepakatan Paris, Indonesia dapat melaksanakan kebijakan pembangunan yang lebih inklusif, adil dan berkelanjutan. Dengan dukungan seluruh masyarakat Indonesia. “Kami akan berusaha mewujudkan keadilan sosial dan ekologis di Indonesia,” kata Leo.

Sang Sarjana Perminyakan
Leonard Simanjuntak adalah sarjana Teknik Perminyakan lulusan ITB, namun tak pernah bekerja untuk industri perminyakan. Sebaliknya, justru menghabiskan masa kuliahnya bersama gerakan mahasiswa, dan sudah mulai terlibat dengan gerakan lingkungan.

Lulus ITB, Leo bekerja untuk Yayasan Pelangi, LSM lingkungan nasional berbasis di Jakarta dan menjadi pengelola Program Energi di Pelangi dari 1994 sampai 1997. Selama periode ini, Leonard juga terlibat aktif dalam Masyarakat Anti Nuklir Indonesia (MANI), Jaringan Indonesia – Climate Action Network (I-CAN), serta Jaringan Advokasi Tambang Nasional (JATAM).

Sejak saat itu, Leonard telah bekerja dalam berbagai isu pembangunan seperti: hak-hak sipil dan politik, hak-hak sosial dan ekonomi, hak-hak adat masyarakat terhadap sumber daya alam, pertambangan, ketahanan pangan, kesiapsiagaan dan manajemen bencana, situasi pengungsian, penanganan konflik dan pembangunan perdamaian.

Leonard bekerja untuk Oxfam Australia (Yayasan PIKUL) 1997-2002. Menjadi salah satu penyeliidik ??Komisi Penyelidikan Pelanggaran Hak Asasi Manusia Timor Timur (KPP-HAM Timtim) 1999-2000.

Pada 2002 Leonard menerima Chevening Scholarship dan pergi ke Inggris untuk belajar Tata Pemerintahan dan Pembangunan di Institute of Development Studies (IDS), University of Sussex. Lulus 2003 dengan disertasi master tentang politik korupsi di Indonesia.

Ketika kembali ke Indonesia pada akhir 2003, bergabung dengan IMPARSIAL, LSM HAM nasional dimana fokus kerjanya pada reformasi sektor keamanan. Kemudian bergabung dengan Transparency International Indonesia (TI-I) sebagai Wakil Direktur Eksekutif pada 2004-2005.

Pada September 2005, Leonard bergabung NZAID sebagai Koordinator Program Pembangunan. Sejak itu, selama periode sembilan tahun (2005-2014) Leonard bekerja pada beberapa lembaga internasional termasuk UNDP dan AusAID, dengan fokus pada isu-isu: desentralisasi, pengurangan kemiskinan, reformasi layanan publik, perencanaan dan penganggaran lokal, dan pengembangan masyarakat desa.

Dari Juni 2014 hingga Maret 2016 Leonard bekerja sebagai Senior Governance Advisor untuk Program Pembangunan Rendah Karbon di Papua yang didanai Pemerintah Inggris (UKCCU). Proyek ini difokuskan untuk mendukung pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Papua (RTRW Papua) 2013-2033, yang dianggap sebagai RTRW propinsi yang paling progresif dan pro-lingkungandi Indonesia. (sak/foto greenpeace)