Lucy Dyah: Doktor Berkat Hitungan Jawa
PERISTIWA PROFIL

Lucy Dyah: Doktor Berkat Hitungan Jawa

Pitungan Jawa atau hitungan Jawa dalam menentukan waktu perkawinan dan slametan kelahiran anak pertama mengantar Dr Lucy Dyah Hendrawati SSos, MKes meraih gelar Doktor Ilmu Kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Usai menempuh ujian gelar Doktor di Unair, Jumat (12/8) Lucy Dyah mengatakan, masyarakat etnis Jawa masih memegang teguh kepercayaan (belief) dan perilaku (behaviour) yang diturunkan secara turun-temurun. Oleh karena itu, pihaknya meneliti di tiga daerah yang masih kuat memegang primbon Jawa pitungan dan slametan yaitu di Kabupaten Blitar, Kota Blitar dan Kota Surabaya,

Menurutnya, variabel pitungan penentuan waktu perkawinan memang berpengaruh terhadap variasi kelahiran anak pertama dan jumlah anak yang dilahirkan pada masyarakat etnis Jawa. Begitu juga perasaan slamet mempengaruhi variasi kelahiran anak pertama dan jumlah anak pada etnis Jawa.

“Saya sengaja mengangkat penelitian disertasi terkait primbon pitungan karena merasa prihatin terhadap keberlangsungan budaya Jawa karena kian ditinggalkan oleh masyarakat Jawa, padahal itu sangat bermanfaat bagi Ibu, anak dan paramedis serta rumah sakit dalam mempersiapkan kebutuhan puncak kelahiran di etnis Jawa,” ungkap isteri dari anggota Komisi II DPR RI, Fandi Utomo itu.

Lebih jauh Lucy menjelaskan bahwa tradisi pitungan Jawa waktu penentuan perkawinan (ijab) masih kuat. Terbukti, bulan pernikahan yang dianggap baik biasanya dilakukan pada bulan Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah dan Besar. Sedangkan dianggap cukup baik adalah bulan Sapar, Bakdomaulud, Jumadilawal dan Sawal.

“Pantangan menggelar perkawinan ada di bulan Suro, Maulud, Puasa dan Selo. Kalau dilanggar, pasangan pengantin dan keluarganya diyakini akan mendapat musibah besar dalam hidupnya. Inilah yang kerap menyebabkan waktu pernikahan dapat tertunda cukup lama,” ungkapnya.

Di sisi lain, lanjut Lucy, primbon pitungan waktu pernikahan ternyata bermanfaat besar bagi pasangan yang hendak menikah untuk mempersiapkan fisik dan mental dalam menghadapi kehamilan dan kelahiran anak pertama yang sehat. “Artinya, perkawinan yang direncanakan dengan baik itu akan menghasilkan anak yang sehat,” jelasnya.

Menurut Lucy, nilai seorang anak bagi masyarakat Jawa adalah sebagai jaminan hari tua, sumber pembawa kehangatan dan kebahagiaan dalam keluarga.

“Semakin banyak anak akan bernilai ekonomis bagi tenaga kerja keluarga pada masyarakat yang mata pencahariannya bertani. Prinsip ini masih kuat pada masyarakat petani yang tinggal di Kabupaten Blitar sehingga rata-rata memiliki lebih dari 2 anak,” bebernya.

Sementara untuk slametan, lanjut Lucy bagi etnis Jawa adalah bagian upaya memperoleh ketenagan jiwa raga dalam kehidupannya. Makanya, di etnis Jawa ada slametan kelahiran, khitanan, perkawinan hingga kematian.

“Perasaan slamet yang dimiliki pasangan suami-istri diyakini akan mempengaruhi kesehatannya, termasuk pada janin yang masih dalam kandungan,” dalih ibu tiga anak ini.

Hasil perkawinan yang melaksanakan pitungan juga lebih cepat dan memiliki anak jumlah yang lebih dari 2. “Rata-rata, proses kehamilan pasangan menggunakan pitungan tidak lebih dari 2 tahun,” ujar Lucy yang meraih gelar doktor ke 247 lulusan Fakultas Kedokteran Unair Surabaya ini. (sak)