1 Suro, Wayang Kulit dan Orasi Kebangsaan
PERISTIWA SENI BUDAYA

1 Suro, Wayang Kulit dan Orasi Kebangsaan

Memperingati Kemerdekaan RI ke-71 dan meningkatkan ketahanan nasional. Sejumlah tokoh nasional, tokoh daerah, hingga akademisi dan budayawan akan kumpul di acara orasi kebangsaan dan pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk yang digelar di GOR Sidoarjo, Sabtu (24/9) mendatang, bertepatan dengan malam 1 Suro.

Tokoh nasional yang dijadwalkan hadir antara lain Menko Polhukam Jendral (Purn) Wiranto, Megawati Soekarnoputri, Akbar Tandjung, Amien Rais, Hasto Kristianto, Sigid Hardjo Wibisono, Suko Sudarsono, Suripto, Hariman Siregar, Emha Ainun Najib, Gubernur Jatim, Bupati/Walikota dan Ketua DPRD Kabupaten/Kota di Jatim, serta rektor perguruan tinggi di Jatim.

“Kita menyadari bahwa untuk merajut Nusantara secara berkelanjutan tidak hanya melalui pembangunan fisik belaka, pembangunan non fisik juga senantiasa harus dilakukan. Baik melakukan pendekatan budaya, maupun dengan mengaktualisasikan nilai-nilai yang melekat dalam Nusantara,” kata Ketua Panitia Pelaksana Yayasan Kalimasada Nusantara (YKN) Hadi Prasetyo di Surabaya, Rabu (21/9).

Ia menjelaskan, YKN sangat peduli terhadap permasalahan politik kebangsaan di bawah pilar NKRI yang berwawasan Nusantara. Untuk itu, lakon wayang yang akan dipentaskan berjudul ‘Semar Mbabar Jati Diri’ dengan dalang Ki Manteb Soedarsono.

Untuk orasi kebudayaan yang disampaikan Wiranto mengambil tema ‘Nilai-nilai Kebangsaan dan Tantangan Geopolitik Dunia’. “Acara wayangan ini akan didukung Nunung, Gogon dan Cak Nondol,” kata Hadi Pras yang juga menjabat Asisten II Sekdaprov Jatim ini.

Sementara, Bramono selaku sekretaris panitia menambahkan, lakon ‘Semar Mbabar Jati Diri’ sengaja dipilih karena menceritakan kahyangan Suralaya gonjang-ganjing gara-gara Semar mengumpulkan para raja, terutama para Pandawa yang akan menerima wejangan tentang jati diri.

Sehingga Batara Guru marah lantaran dihasut Bathari Durga dan Bathara Kala bahwa Semar akan menyaingi kekuasaan Bathara Guru. Bathara Guru akhirnya mengutus Bathari Durga dan Bathara Kala untuk membubarkan niat Semar. Terjadilah pertempuran hebat antara Bathari Durga dan prajurit Semar.

Bahkan Bathara Guru lari ke kahyangan alang-alang Kumitir menemui Sang Hyang Wenang dan mendapat wejangan bahwa apa yang dilakukan Semar itu betul. Mengingat Semar merupakan salah satu pamong yang mempunyai kewajiban menentramkan situasi bangsa dan negara yang resah.

Inti wejangan Semar, negara itu terjadi karena tiga bagian, yaitu bumi kelahiran, pemerintahan dan masyarakat. Ada istilah manunggaling kawula gusti yang artinya pemimpin dan yang dipimpin itu jadi satu kesatuan. Rakyat rukun bersatu, bergotong-royong dan bekerja keras membangun. Sementara pemimpin mengarahkan dan melindungi.

Sebagai bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, siapa pun penyelenggara negara mesti kokoh dan teguh melaksanakan cita-cita para pendiri bangsa, sebagaimana inti nasihat Semar Mbabar Jati Diri. “Dengan demikian, kita harapkan bangsa dan negara Indonesia mampu menghadapi tantangan zaman,” pungkas Hadi Pras. (sak)