Mengayuh Asa Meraih Prestasi di Bidikmisi
PERISTIWA PROFIL

Mengayuh Asa Meraih Prestasi di Bidikmisi

Beasiswa Bidikmisi memberikan angin segar bagi mahasiswa dari keluarga tidak mampu untuk bisa mengenyam bangku pendidikan tinggi. Penerima beasiswa ini bisa kuliah gratis dan bahkan menerima biaya hidup selama kuliah.

Meski demikian rupanya mahasiswa Bidikmisi tak lantas terlena. Justru banyak prestasi yang dilahirkan. Seperti Andi Tanaka, mahasiswa Fakultas Hukum dan Nurul Hidayah mahasiswi Arsitektur FT Universitas Brawijaya (UB), keduanya penerima beasiswa Bidikmisi.

Andi dan Nurul memilih tidak menggantungkan hidupnya hanya dari beasiswa, namun mereka berdua juga bekerja sambil kuliah untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

Andi: Prestasinya Sampai ke Negeri Ginseng
Jika mahasiswa pada umumnya lebih senang menghabiskan waktu berkumpul bersama teman-temannya di kafe, namun Andi Tanaka lebih memilih menghabiskan waktunya dengan menghasilkan berbagai macam prestasi.

Tercatat sudah lebih dari 20 prestasi diraihnya sejak mengenyam pendidikan di FH UB Malang.

Menurut Andi, kerja keras yang dilakukan karena tidak ingin membebani orangtuanya yang berpenghasilan sebagai buruh tani di Dusun Kaliandong, Desa Panduwuan Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar.

Andi masuk ke UB melalui jalur SBMPTN dengan bantuan beasiswa Bidikmisi, dan meski mendapat fasilitas beasiswa dia tidak ingin bergantung selamanya dari bantuan itu, karena masa pencairan yang tidak tentu.

Oleh karena itu, dengan kemampuan menulis yang sudah ditekuninya sejak duduk di bangku sekolah, dia mengikuti sejumlah Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), dan meraih beberapa prestasi tingkat nasional bahkan internasional.

Selain mendapat prestasi dan hadiah uang tunai, Rektorat UB juga memberikan penghargaan bagi Andi yang meraih prestasi di bidang karya tulis ilmiah.

Motivasi untuk meraih banyak prestasi bukan tanpa alasan, Andi mengaku ingin membutikan kepada masyarakat di dusunnya, bahwa dia bisa mengubah pola pikir warga untuk menaikkan taraf hidup diperlukan pendidikan yang tinggi.

Andi menceritakan, masyarakat di dusunnya masih banyak yang berorientasi kerja setelah menamatkan pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD), atau menikah dan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

“Saya tidak ingin menjadi TKI karena menurut saya itu hanya untuk jangka pendek saja. Sebaliknya, ilmu bisa menjadi modal hidup sepanjang usia,” katanya.

Awalnya, ketika dia punya keinginan untuk kuliah ditentang oleh orang tuanya sendiri. Menurut orangtuanya, lebih baik Andi bekerja, karena selepas SMP, dia melanjutkan ke SMK. Harapannya agar bisa langsung bekerja.

Gayung bersambut, Andi bisa membuktikan pada orangtuanya masuk ke UB dengan beasiswa Bidikmisi pada tahun 2012.

Tidak hanya membuktikan pada orangtuanya, Andi juga bisa membuktikan pada masyarakat dusunnya, bahwa dirinya bisa menginjakkan kaki ke Korea lewat “Conference of Indonesian Students” di Korea (CISAK) pada tahun 2013.

Andi bersama dua temannya dari FP UB mengangkat tema paper yang berjudul ‘Combination Use of Banana Clevis (Musaparadisiacal) Tofu Dregs, and Jackfruit Seeds (Arthocarphusheterophilus) Being Bioethanolas Fuel Alternatives with Fermentation and Hydrolysis H2S04’.

Mereka menggagas ide tentang bioethanol yang terbuat dari bonggol pisang, ampas tahu, dan biji nangka. Selain berkompetisi di tingkat internasional, Andi juga pernah menjabat sebagai Mahasiswa Berprestasi FH UB tahun 2015.

Nurul: Kuliah Sambil Jualan Helm
Jika Andi menutupi kekurangannya lewat prestasi, maka Nurul Hidayah memilih berjualan helm dan mengajar privat siswa SD dan SMP.

Diceritakannya awal mula dirinya berjualan helm karena terinspirasi oleh kakaknya. Kakaknyalah yang terlebih dahulu berjualan helm lewat media sosial. Helm-helm tersebut dijual melalui situs penjualan online, seperti Tokopedia, Elevenia, Bukalapak, dan Instagram.

Helm-helm jenis Bogo, retro, dan chip sudah diminati masyarakat dari seluruh wilayah di Nusantara.

Kegigihannya menjual helm membuatnya mendapatkan keuntungan mulai Rp 15 ribu sampai Rp 30 ribu dari setiap penjualan satu helm.

Meskipun diakuinya, terkadang dia mengalami kerugian karena helm yang dijualnya rusak atau pecah setelah sampai ke tangan pembeli.

“Dari saya sendiri sudah berusaha untuk mengemas dengan menggunakan bubble wrap untuk melindungi helm supaya aman sampai ke tangan pembeli. Saat ini solusi kami menghadapi kerugian tersebut dengan menawarkan ganti rugi ke pembeli dilihat dari seberapa besar tingkat kerusakan yang ditimbulkan,” kata Nurul.

Meskipun sudah mempunyai usaha sendiri, Nurul mengaku usaha yang dikerjakannya bersama kakaknya tidak lantas membuatnya terlena, dan terbukti ketika dosen di jurusan Arsitektur FT UB mengharuskan menggunakan penggaris khusus seharga Rp 100 ribu Nurul malah memilih menggunakan penggaris biasa.

Meskipun penggaris yang digunakannya berbeda, desain yang dihasilkannya tidak berbeda dari yang lain. Dia tetap konsisten mengerjakan tugas-tugas perkuliahan agar bisa lulus tepat waktu.

Upaya dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Nurul Hidayah mampu lulus tepat waktu bersama 13 temannya yang lain, dan dia menjalani prosesi wisuda periode III 9 Oktober lalu.

Dalam mempersiapkan kompetensi lulusan, UB telah melakukan beberapa upaya, antara lain menggunakan kurikulum berbasis kompetensi di seluruh Program Studi, pengembangan laboratorium lapang, pelatihan yang menghasilkan sertifikat kompetensi tertentu, dan peningkatan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) melalui penyediaan dana dan pendampingan dari universitas. (sak)