Meniti Pawitra, Interpretasi Penanggungan
PERISTIWA SENI BUDAYA

Meniti Pawitra, Interpretasi Penanggungan

Keinginan terus aktif menggelar pameran seni rupa dengan mengangkat tema lokal sebagai langkah mempertahankan identitas kota yang lekat dengan tradisi, serta memupuk kepedulian untuk turut serta melestarikan peninggalan sejarah, mendorong 10 seniman Pasuruan dalam komunitas Bolo Kulon menggelar pameran seni rupa bertajuk ‘Meniti Pawitra’, 12 Agustus – 3 September 2016 di Galeri Seni House of Sampoerna, Surabaya.

‘Meniti Pawitra’ merupakan event ketiga dari rangkaian proyek bernama ‘Pasuruan Berkisah #3’, yang digagas Komunitas Bolo Kulon sebagai upaya memperkenalkan kota Pasuruan melalui karya seni. Berbeda dengan ‘Pasuruan Berkisah #1’ (2014) maupun ‘Pasuruan Berkisah #2’ (2015) dimana para perupa bebas merespon kota, maka pada ‘Pasuruan Berkisah #3’ ini para perupa ditantang menerjemahkan Gunung Penanggungan, dahulu bernama Gunung Pawitra ke dalam karya seni.

Gunung Penanggungan yang merupakan salah satu gunung suci di Jawa dan memiliki ratusan peninggalan purbakala penegas adanya akulturasi budaya antara Jawa Kuno, Hindu-Budha, dan Islam dirasa mempunyai daya tarik yang kuat untuk diangkat.

Seperti terlihat pada karya Agung Prabowo, menampilkan karya lukis relief Gunung Penanggungan yang dibuat bersusun dan diberi judul ‘Under Contruction of Pawitra’ bercerita tentang sebuah gunung yang menyimpan banyak bukti mengenai tingginya peradaban dan etos kerja leluhur di Nusantara yang kini seolah telah pudar.

Begitu pula halnya dengan ‘Para Rsi’ karya Hafidz Ramadhan S, yang memvisualisasikan jejeran para Rsi atau kaum pertapa yang mengasingkan diri dari dunia ramai di lereng–lereng bukit gunung Pawitra gunung yang dianggap suci dan merupakan sumber kebaikan.

Tak kalah menarik karya berjudul ‘iSelfie’, karya dari Nofi Sucipto, sebuah petualangan kekinian dalam menyampaikan adanya gunung pawitra melalui foto diri.

Seniman lain yang turut melengkapi 20 karya pada pameran ini adalah Achmad Toriq, Afif AF, Hasan Saifudin, Karyono, M. Medik, Toni Ja’far dan Yunizar Mursy.

Menghasilkan karya seni rupa dengan melibatkan kondisi sekitar sebagai materi karya merupakan cikal bakal hadirnya komunitas Bolo Kulon. Komunitas Bolo Kulon merupakan basis seni rupa yang terletak pada Pasuruan bagian Barat.

“Tercapainya interaksi antara karya dan pengunjung atau apresiator adalah inti dari pameran ini, dengan menghadirkan pengetahuan dan sudut pandang menjadi tawaran komunitas Bolo Kulon” ungkap Agung Prabowo selaku Ketua Komunitas Bolo Kulon dalam rilisnya kepada media, Kamis (11/8).

House of Sampoerna (HoS), yang berdiri 2002 merupakan salah satu bentuk kepedulian PT HM Sampoerna kepada kota Surabaya. HoS terus berkomitmen mendukung perkembangan seni, budaya, sejarah dan pariwisata melalui berbagai agenda kegiatan yang mengedepankan nilai-nilai edukatif dan sosial bekerja sama dengan berbagai komunitas dan pemerintahan.

Usaha keras HoS mendapat apresiasi dari Indonesia dan internasional dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan nusantara dan asing yang mencapai 193.000 orang di 2015, dan diraihnya berbagai penghargaan, salah satunya adalah ‘Top 10 Museum di Indonesia’ dari TripAdvisor sejak 2013–2015 dan ‘Top Choice Destination’ yang diberikan Lianorg.com China. (sak)