Menkop Usul Dana Bergulir Ditambah
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Menkop Usul Dana Bergulir Ditambah

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop dan UKM) AAGN Puspayoga mengusulkan adanya tambahan dana pada Lembaga Pembiayaan Dana Bergulir (LPDB) sebanyak Rp 2 Triliun pada tahun 2017. Sekarang ini, dana yang sudah berputar Rp 5 triliun.

“Kami mengusulkan supaya dana LPDB ditambahkan dari APBN. Kita mohon kepada pemerintah agar dana LPDB bisa ditambahkan melalui APBN pada tahun depan. Yang diusulkan tambah lagi Rp. 2 triliun,” kata Puspayoga saat menyaksikan Penyerahan Dana Bergulir Melalui Loan Agreement sebagai Upaya Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Melalui Penguatan Akses Pembiayaan Koperasi dan UMKM di Jawa Timur, di Bank Jatim Surabaya, Sabtu (10/9) pagi.

Menteri Puspayoga mengatakan, saat ini, pemerintah sudah menurunkan suku bunga di LPDB menjadi 0,2 persen sebulan. Ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing.

“Kalau bunga LPBD tinggi, maka kita tidak bisa bersaing di MEA. Dengan bunga sebesar 0,2 persen sebulan ini, kita bisa bersaing. Namun sayangnya dananya di LPDB belum banyak. Untuk itulah kita mengusulkan adanya tambahan dana di LPDB tahun depan,” jelasnya.

Lebih lanjut disampaikannya, sekarang telah banyak bergulir kredit usaha rakyat (KUR). Dulu KUR bunganya mencapai 22 persen, sedangkan bunga untuk pengusaha besar sebanyak 12 persen.

“Ini sungguh tidak adil. Untuk itu, sekarang suku bunga KUR bisa turun menjadi 9 persen. Tahun depan bunganya akan diturunkan menjadi 7 persen,” tuturnya.

Menurut Puspayoga, ini sebagai wujud kepedulian negara yang hadir untuk mengantisipasi dan berpihak pada koperasi dan UMKM kita.

“Memang negara harus hadir untuk koperasi dan UMKM. Seperti di Jatim ini, saya lihat luar biasa sekali kepeduliannya terhadap koperasi dan UMKM. Ini adalah satu bentuk intervensi pemerintah untuk melindungi masyarakat kecil,” imbuhnya.

Menkop dan UKM juga menjelaskan, situasi perekonomian dunia unpredictable dan berpengaruh pada seluruh dunia. Indonesia memiliki pengalaman menangani krisis tahun 1998. Tahun 1998 itu NPL perbankan kredit macetnya sampai 30 persen.

Banyak bank yang bangkrut. Pertubumbuhan ekonomi minus 13 persen. Dengan adanya koperasi dan UMKM dalam waktu sekitar 5 tahun, pertumbuhan ekonomi mencapai 4 persen.

“Jika dibandingkan krisis ekonomi global sekarang ini tidak perlu khawatir. Pertumbuhan kita masih di atas 5 persen, NPL masih di bawah 5 persen,” tuturnya. (sak)