Menteri 33 Negara Hadiri Prepcom 3
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Menteri 33 Negara Hadiri Prepcom 3

Konferensi internasional The Third Preparatory Committe (Prepcom) for UN Habitat III yang diselenggarakan di Kota Surabaya, 25-27 Juli 2016 dihadiri 33 menteri dari negara-negara anggota PBB. Kegiatan ini juga dihadiri ratusan delegasi dari 193 negara yang hadir di Grand City Convex & Mall di Surabaya sebagai lokasi acara.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, Senin (25/8) mengatakan, hingga Minggu (24/8) ada 33 menteri yang sudah mendaftar. Ada 4.500 peserta konferensi juga sudah melakukan registrasi, dimungkinkan bertambah saat pelaksanaannya.

Pembahasan Prepcom3 for UN Habitat III di Indonesia, juga difokuskan untuk membawa suara dari negara-negara kepulauan yang rentan terdampak perubahan iklim. Di Indonesia agenda ini sesuai dengan program target 100-0-100.

“100 yang pertama adalah bagaimana akses air minum terpenuhi untuk masyarakat tercapai 100 persen, 0 (nol) yang ke dua adalah bagaimana kawasan kumuh itu hilang hingga target 0 persen, dan 100 yang ke tiga adalah bagaimana sanitasi lingkungan terpenuhi dengan baik,” ujar Basuki.

Sebelumnya, untuk meramaikan gelaran internasional tersebut, Pemerintah Kota Surabaya menyelenggarakan Fun Bike yang dimulai pukul 06.00 WIB dengan rute dari Taman Surya-Walikota Mustajab-Pemuda-Panglima Sudirman-Urip Sumoharjo–Darmo-Putar Balik (depan Taman Bungkul) kembali ke Taman Surya.

Acara dilanjutkan dengan Media Briefing yang dihadiri oleh narasumber Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR, Velix Wanggai dan perwakilan dari UN Habitat, Tobias Kattner. Sjumlah kegiatan dan acara juga sudah disiapkan Pemkot Surabaya guna menyambut tamu-tamu negara tersebut.

Puji Kenjeran
Basuki juga memberikan pujian pada Pemkot Surabaya yang dinilainya berhasil menata kawasan Kenjeran jadi lebih cantik dan berdaya secara ekonomi.

Menteri kelahiran Surakarta ini mengatakan, langkah Pemkot Surabaya bisa jadi contoh bagus bagi negara-negara di dunia dan juga pemerintah daerah. Bahwa, penataan sebuah kawasan haruslah terencana dan mengedepankan perbaikan.

“Penataan kawasan Kenjeran ini menjadi contoh bagus. Ini warganya tidak dipindah tetapi tempatnya yang diperbaiki. Sanitasi diperbaiki dan kawasan ekonominya dibangun. Seperti ada tempat kuliner bagus dan juga Jembatan Suroboyo dengan air mancur menarinya,” tegas Menteri Basuki.

Menteri PUPR memang diajak Walikota Surabaya Tri Rismaharini melihat langsung ‘wajah baru’ kawasan Kenjeran pada Minggu (24/7) malam. Selain menyaksikan eksotisme air mancur warna warni menari di Jembatan Suroboyo, menteri pemegang gelar S3 Teknik Sipil Colorado State University, Amerika Serikat ini juga diajak menikmati ikan bakar di Sentra Ikan Bulak (SIB).

Disampaikan Menteri Basuki, seandainya yang dibangun jalan tol, bukan jembatan, maka penduduk sekitar Kenjeran bakal dipindah dari tempat tinggalnya. “Tetapi Bu Risma punya rencana lebih baik. Ini menjadi contoh penataan kawasan yang terencana,” sambungnya.

Beberapa tahun lalu, menurut menteri kelahiran 5 Nopember 1954 ini, bila diprosentase, ada 20 persen saja pembangunan yang tidak direncanakan. Selebihnya pembangunan yang dilaksanakan. Sementara tahun ini, prosentase pembangunan yang tidak direncakanan itu menjadi 50 persen. Ketidakmampuan pemerintah daerah mengatur pembangunan lebih awal inilah yang disebutnya menjadikan masalah urbanisasi di perkotaan menjadi lebih buruk.

PrepCom 3 for UN Habitat III dilaksanakan untuk mempersiapkan isu-isu perkotaan yang kemudian disusun menjadi sebuah Zero Draft New Urban Agenda yang akan dibawa ke gelaran Habitat III di Quito, Ekuador pada Oktober 2016.(sak)