Menuju 90 Tahun, Mengenal Gontor
HIBURAN PERISTIWA

Menuju 90 Tahun, Mengenal Gontor

Usia Pondok Modern Darussalam Gontor bakal menginjak angka 90 pada 22 September nanti. Angka yang tak lagi terbilang minim bagi usia manusia. Berbicara tentang Gontor, kita akan memasuki sebuah dunia proses yang begitu panjang dan melelahkan. Gontor dapat berdiri tegak dan maju hingga kini, tentunya melalui sebuah perjuangan, pengorbanan, dan kebersamaan para pendiri, guru-guru, hingga santri.

Perjalanan panjang Pondok Modern Darussalam Gontor bermula pada abad ke-18. Pondok Tegalsari sebagai cikal bakal Pondok Modern Darussalam Gontor didirikan oleh Kyai Ageng Hasan Bashari. Ribuan santri berduyun-duyun menuntut ilmu di pondok ini. Saat pondok dipimpin Kyai Khalifah, terdapat santri yang sangat menonjol dalam berbagai bidang.

Namanya Sulaiman Jamaluddin, putera Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Ia sangat dekat dengan Kyainya dan Kyai pun sayang padanya.

Maka setelah santri Sultan Jamaluddin dirasa telah memperoleh ilmu yang cukup, ia dinikahkan dengan putri Kyai dan diberi kepercayaan untuk mendirikan pesantren sendiri di desa Gontor.

Gontor adalah sebuah tempat yang terletak lebih kurang 3 km sebelah timur Tegalsari dan 11 km ke arah tenggara dari kota Ponorogo. Pada saat itu, Gontor masih merupakan kawasan hutan yang belum banyak didatangi orang. Bahkan hutan ini dikenal sebagai tempat persembunyian para perampok, penjahat, penyamun bahkan pemabuk.

Dengan bekal awal 40 santri, Pondok Gontor yang didirikan Kyai Sulaiman Jamaluddin ini terus berkembang pesat, khususnya ketika dipimpin putera beliau yang bernama Kyai Anom Besari. Ketika Kyai Anom Besari wafat, Pondok diteruskan generasi ketiga dari pendiri Gontor Lama dengan pimpinan Kyai Santoso Anom Besari.

Setelah perjalanan panjang tersebut, tibalah masa bagi generasi keempat. Tiga dari tujuh putra-putri Kyai Santoso Anom Besari menuntut ilmu ke berbagai lembaga pendidikan dan pesantren, dan kemudian kembali ke Gontor untuk meningkatkan mutu pendidikan di Pondok Gontor. Mereka adalah KH Ahmad Sahal (1901-1977), KH Zainuddin Fanani (1908-1967) dan KH Imam Zarkasyi (1910-1985)

Mereka memperbaharui sistem pendidikan di Gontor dan mendirikan Pondok Modern Darussalam Gontor pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345, dalam peringatan Maulid Nabi.

Pada saat itu, jenjang pendidikan dasar dimulai dengan nama Tarbiyatul Athfal. Kemudian, pada 19 Desember 1936 yang bertepatan dengan 5 Syawwal 1355, didirikanlah Kulliyatu-l-Muallimin al-Islamiyah, yang program pendidikannya diselenggarakan selama enam tahun, setingkat dengan jenjang pendidikan menengah.

Perjuangan dan keikhlasan para pendiri Gontor, mencapai puncaknya saat penyerahan piagam wakaf kepada umat Islam. Ini merupakan bentuk keikhlasan yang memuncak dan tak terbantahkan.

Padahal, pada tahun 1958, tahun di mana Gontor diwakafkan, pondok ini sudah memiliki ratusan santri, aset bergerak dan tak bergerak yang tidaklah sedikit. Inilah yang menjadi titik balik Gontor, dari yang sebelumnya merupakan lembaga milik keluarga pendiri, menjadi milik umat Islam seluruh dunia.

Lambat laun, Gontor mulai dikenal. Para alumninya mulai dipandang. Sistem, kurikulum, disiplin, hingga tata cara berpakaian para santrinya pun diikuti. Gontor mulai diperhitungkan.

Terutama sejak lembaga-lembaga pendidikan formal yang digalakkan pemerintah, menunjukkan hasil yang tidak memuaskan. Mereka mulai melirik kepada sistem pendidikan pesantren, terutama Gontor. Apalagi, saat para alumni Gontor dapat mendirikan pondok-pondok pesantren lain, yang kemudian dengan cepat dikenal dan diterima baik masyarakat.

Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo saat ini dipimpin oleh KH Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi, KH Hasan Abdullah Sahal dan KH Syamsul Hadi Abdan.

Kini, Gontor menatap usianya yang ke-90 tahun. Di usianya yang tak lagi muda, Gontor terus maju dengan tetap menjaga nilai-nilai yang telah ditanamkan sejak didirikan.

Jujur, memegang teguh nilai, visi, dan misi yang sama, selama 90 tahun itu tidak mudah. Perbedaan zaman, keadaan, situasi politik, hingga kondisi perekonomian, memaksa sebuah institusi untuk mengubah cara pandangnya agar dapat diterima zaman.

Namun hal tersebut tak berlaku bagi Gontor. Tetap teguh pada prinsipnya, berdiri di atas kakinya sendiri, di atas hanya Allah, di bawah hanya tanah. (sak/sumber www.gontor.ac.id)

Comments are closed.