Mobil Sapu Angin ITS Rebuilding
KOMUNITAS PERISTIWA

Mobil Sapu Angin ITS Rebuilding

Tim Sapu Angin ITS tetap bersemangat ikut lomba ajang EcoShell Marathon Challenge Divers World Championship (DWC) di London, Inggris. Tujuh mahasiswa dan seorang dosen pembimbing hingga Jumat (1/7) siang, masih terus berkutat dan berusaha keras mengembalikan wujud mobil Sapu Angin agar bisa jalan dan ikut lomba.

“Selesai membersihkan puing-puing dari sisa terbakarnya mobil, kami berusaha mendesain ulang dari sisa bahan yang masih bisa digunakan. Pihak panitia juga memberikan kesempatan untuk bisa tetap ikut lomba,” kata Ir Witantyo MEngSc, dosen pembimbing yang ikut mendampingi tim Sapu Angin.

Witantyo menjelaskan chasis dan sebagian body mobil, serta beberapa mesin masih bisa digunakan. “Kami desain ulang Sapu Angin dari sisa bahan yang telah hangus terbakar. Bentuknya jelek tapi kami berharap performance dan endurancenya bisa seperti saat latihan terakhir menjelang berangkat ke Inggris,” katanya.

Terakhir performance yang dicatat Sapu Angin mencapai kecepatan 250 km per jam dan bahkan bisa ditingkatkan jadi 300 km per jam. Di atas kertas, dengan konsumsi bahan bakar yang disediakan 90 persen dari apa yang pernah dicapai saat di Filipina, bisa keluar sebagai juara.

“Mohon doa restunya. Tantangan terberat kami adalah berpacu dengan waktu. Bisa masuk, sekaligus lolos dari technical inspection, sehingga mobil bisa masuk arena lomba. Secara prinsip panitia mempersilahkan kami mendesain ulang mobil yang terbakar,” katanya.

Wiyantyo berusaha memupuk semangat mahasiswa setelah sebelumnya sempat syok melihat mobilnya terbakar. “Tapi kini mereka kembali bersemangat mewujudkan mimpinya bisa tetap lomba,” katanya.

Mahasiswa juga masih menjalankan ibadah puasa meski harus bekerja keras, dengan waktu berpuasa lebih 19 jam. “Mudah-mudahan semangat ini masih terus terjaga. Kami bukan hanya ingin mempersembahkan kemenangan buat ITS tapi juga buat bangsa Indonesia,” kata Witanyo. (sak)