Nara, Diplomat Muda Kejutkan Sidang PBB
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Nara, Diplomat Muda Kejutkan Sidang PBB

Seorang diplomat muda Indonesia membuat takjub para pemimpin dunia yang menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Meski masih junior, Nara Marsita Rakhmatia, 33 tahun menjawab telak kritik tentang Papua dari dua Presiden dan tiga Perdana Menteri.

Mengutip postingan laman Facebook FORUM JOGJA dan rilis Abc.net.au, ketiga pemimpin dunia itu adalah Presiden Nauru dan Presiden Kepulauan Marshall serta Perdana Menteri Vanuatu, PM Kepulauan Solomon, PM Tuvalu, dan PM Tonga.

Para pemimpin negara di wilayah Asia Pasifik ini menyatakan Indonesia telah melakukan pelanggaran HAM berat di Papua. Untuk itu, mereka mendesak Indonesia memerdekakan Papua. Kritik tersebut disampaikan secara terbuka dalam sidang PBB beberapa waktu lalu.

Tak disangka, Nara yang ditunjuk mewakili Indonesia dalam forum tersebut memberikan jawaban yang membuat mata dunia tertegun. Secara tegas, Nara menyatakan kritik enam pemimpin negara rumpun Melanesia itu bermotif politik.

Menurut Nara, para pemimpin tersebut sengaja menggunakan Sidang Majelis Umum PBB untuk mengalihkan perhatian dunia dari pelbagai masalah dalam negeri mereka masing-masing.

Mewakili Indonesia, Nara juga menyatakan kritik para pemimpin enam negara itu sengaja dibuat untuk mendukung kelompok separatis yang berusaha menciptakan situasi tidak aman. Pernyataan tersebut sangat disesalkan dan berbahaya.

Nara juga menyampaikan sejumlah argumen telak atas langkah-langkah nyata yang sudah dilakukan Indonesia terkait dengan HAM. Nara menganggap para pemimpin tersebut telah menyalahgunakan posisi PBB untuk mendukung gerakan yang mengganggu stabilitas keamanan Indonesia.

Dalam sidang kali ini, Indonesia mengutus diplomat juniornya untuk menjajal kemampuan di kancah dunia. Langkah ini termasuk jarang dilakukan negara-negara lain. Bahkan tanggapan yang hanya disampaikan oleh diplomat junior tersebut dianggap sebagai tamparan bagi para pemimpin negara-negara Pasifik tersebut.

Nara merupakan lulusan Sekolah Departemen Luar Negeri angkatan 33 tahun 2008. Dia ditugaskan pertama kali di New York. Wanita lulusan SMA 70 Jakarta itu menempuh jenjang S1 Jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia dan lulus pada 2002.

Nara sempat menjadi peneliti di Center for Research on Inter-group Relations and Conflict Resolution (CERIC) dan Center for East Asia Cooperation Studies (CEACS), dua lembaga dibawah naungan UI. Nara lalu mendaftar menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Luar Negeri (Kemlu).

Nara juga punya sejumlah artikel yang dimuat di beberapa jurnal kebijakan luar negeri. Satu di antara tulisannya adalah artikel berjudul ‘Instrate Conflict Management: The Twin Track Approach, the United Nations and ASEAN in Myanmar, 2010’.

Sebelum bertugas di New York, Nara sempat bertugas di Direktorat Kerjasama Antar Kawasan pada Direktorat Jenderal Urusan Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu. Spesialiasi Nara ada pada Organisasi Kerjasama Ekonomi Asia psifik APEC dan sempat menjabat sebagai Head of Section for The Budget and Management Committee APEC. Saat ini, Nara tengah menempuh jenjang pendidikan magister di Universitas St Andrews, Inggris. (sak/ist)