Nostalgia Menpora Tidur di Masjid Diponegoro
PERISTIWA PROFIL

Nostalgia Menpora Tidur di Masjid Diponegoro

Sekitar pukul 13.30 wib, Sabtu (3/9) siang Menpora Imam Nahrawi tiba-tiba menghentikan mobilnya yang masuk dalam iring-iringan di sebelah kiri Jalan Diponegoro, Surabaya.

Puluhan orang dengan berkopiah dan baju batik tiba-tiba sudah berdiri menyambut kedatangan Menpora di depan masjid kecil yang bernama Masjid Diponegoro. Ada cerita apa sebenarnya dibalik Masjid Diponegoro dan Menpora?

Masjid kecil yang dulunya masih mushola tersebut ternyata menjadi tempat bersejarah bagi Imam Nahrawi ketika memulai perjalanan hidupnya hijrah dari Madura ke Surabaya.

Menpora pada tahun 1996 ketika kuliah UINSA ternyata selain fokus di balik meja kuliah, menteri asal Bangkalan ini juga menyalurkan bakatnya menjadi guru dengan mengajar ngaji di mushola tersebut. “Mushola ini memiliki perjalanan dan sejarah yang luar biasa bagi saya. Dulu saya sering mengajar ngaji dan tidur di tempat ini,” kata Menpora.

Ketika sampai di masjid tersebut Menpora langsung mengambil air wudhu untuk melakukan sholat Duhur berjamaah. Beberapa orang yang dulu menjadi teman Menpora mengajar ngaji dan tidur di mushola tersebut juga ikut sholat berjamaah.

Menpora pun menjadi imam dalam sholat tersebut. Usai sholat Menpora menceritakan masa-masa perjuangannya ketika mengajar ngaji di masjid tersebut.

“Masyaallah, saya senang bisa bertemu dengan teman-teman saya yang dulu sama-sama berjuang menjadi tamir di masjid ini. Dulu ketika saya mengajar ngaji di sini masih mushola dan alhamdulilah sekarang sudah menjadi masjid. Dan yang paling mengesankan, waktu itu sekitar tahun 1996 saya hanya dibayar 50 ribu setiap bulan untuk mengajar ngaji, dan itu semua saya lakukan dengan ikhlas,” kata Imam Nahrawi

Menpora juga bernostalgia dengan melihat meja untuk mengajar ngaji yang sampai sekarang masih ada, bahkan lantai tempat dia tidur juga masih utuh.

Hubungan Menpora dengan tetangga sekitar masjid juga sangat baik, Menpora juga berjalan keliling menyapa para tetangga sebelah masjid. Yang menarik Menpora juga bertemu dengan salah satu murid nya yang dulu dia ajar mengaji. “Ya Allah, bagaimana kabarmu sehat gak,” kata Menpora kepada salah satu muridnya yang disapa dengan Eni.

Salah satu teman Menpora di masjid tersebut Usman Mpan atau yang biasa dipanggil Mbah Londo mengatakan senang bisa bertemu Imam Nahrawi yang sekarang bisa menjadi seoarang menteri.

“Saya senang, dulu saya makan, tidur dan ngajar ngaji bersama Pak Imam, sekarang sudah menjadi menteri. Saya sangat senang melihatnya,” kata Mbah Londo yang sudah terlihat tua dengan rambutnya yang beruban. (sak)