Nyaman Berkarpet Merah di Muzdalifah
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Nyaman Berkarpet Merah di Muzdalifah

Setelah terbenam matahari pada 9 Dzulhijjah, jutaan jemaah haji, termasuk jemaah Indonesia diberangkatkan menuju Muzdalifah. Mereka melakukan prosesi mabit (menginap) di sana sembari mencari batu kerikil untuk melontar jumrah di Jamarat.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, hamparan luas Muzdalifah di 6 sektor jemaah haji Indonesia dilengkapi dengan karpet merah seukuran 1,5 x 2 meter. Pantauan tim Media Center Haji (MCH) Kemenag di sektor satu maktab 10, jemaah haji merasa nyaman dengan fasilitas tambahan yang disediakan Muassasah Asia Tenggara.

“Alhamdulillah bagus dan nyaman,” kata beberapa jemaah dari Bombana Kolaka kompak, Senin (11/09) tengah malam, sembari duduk santai di atas karpet merah yang tersedia. Sebagian lainnya terlahat tiduran menikmati suasana malam di Muzdalifah usai mengimpulkan batu kerikil untuk lontar Jumrah di sana.

“Alhamdulillah sekarang menjadi tidak kotor lagi,” tambah jemaah lainnya. Sebelumnya mereka perlu membawa bekal alas, kini tidak perlu lagi dan bisa langsung beristirahat setibanya di Muzdalifah. “Nyaman, enak, duduknya tertib,” kesan lain yang dirasakan jemaah haji lainnya.

Sejumlah karpet merah tampak menghampar di beberapa titik, terutama di areal terdekat kumpulan baru kerikil yang telah disiapkan Pemerintah Saudi dan juga dekat tempat buang air kecil (toilet). Penambahan fasilitas karpet merah tahun ini baru diberlakukan Muasasah Asia Tenggara di maktab-maktab negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Namun demikian, karpet merah yang disediakan belum menutup seluruh hamparan muzdalifah. Beberapa bagian masih terbuka dan jemaah harus menggelar alas untuk beristirahat di sana. “Nyaman, bagus, apalagi kalau karpetnya bisa semua,” demikian harapan jemaah lainnya agar karpet merah diperbanyak jumlahnya.

Hal sama disampaikan Tini, jemaah asal kloter satu Embarkasi Surabaya (SUB 01). Dia mengaku merasa nyaman dengan adanya fasiltas karpet di muzdalifah. Meski demkian, dia berharap jumlahnya diperbanyak sehingga semua jemaah haji Indonesia bisa merasakannya.

“Lebih nyaman. Enak tidak usah ada alas lagi dan bisa langsung duduk di karpet. Pengennya tetap dikasih karpet dan lebih luas lagi,” harapnya. Melewati tengah malam (muntashif al-lail), jemaah haji mulai diberangkatkan secara bergelombang menuju Mina untuk menginap di sana.

Jemaah haji Indonesia mulai melakukan wajib haji lainnya, yaitu lontar Jumrah Aqabah sebelum mereka bertahallul dan mengganti pakaian ihramnya dengan baju biasa. Sebagian jemaah ada juga yang memilih langsung menuju Masjidil Haram untuk melakukan Tawaf Ifadlah dan bertahallul di sana, sebelum melakukan Jumrah Aqabah. (sak)