Ojung, Kesenian Khas Tengger Pasuruan
PERISTIWA SENI BUDAYA

Ojung, Kesenian Khas Tengger Pasuruan

Tarian Ojung atau Ojung-Ojungan selalu ditampilkan pada perayaan upacara Karo masyrakat Tengger di Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan. Ojung atau ada yang menyebut Ujung merupakan salah satu rangkaian dari ritual upacara yang wajib ditarikan setiap upacara tahunan itu digelar.

Ojung sendiri merupakan perpaduan seni menari dan olahraga yang dilakukan dua orang lelaki dewasa. Berbekal cambuk rotan ukuran sekitar 1 meter dua lelaki saling bergantian mencambuk punggung satu sama lainnya dengan bertelanjang dada. Iringan musik gamelan lengkap diringi bertalu-talu seolah menyemangati pemain Ojung saling beradu kekuatan.

Kendati Ojung mengandung unsur kekerasan, namun oleh masyarakat Tengger, ritual ini justru untuk mempererat hubungan kekeluargaan. Ojung justru dipercaya menjauhkan hal-hal negatif yang memecah belah antara sesama keturunan Tengger.

Meski sifatnya kesenian, bagi yang tak terbiasa melihat bisa miris melihat dua lelaki saling bergantian adu sabetan. Para penari berusaha mencari celah dan kelemahan agar bisa menyabetkan rotannya pada bagian belakang tubuh lawannya. Bilur-bilur merah terlihat jelas pada punggung pemain.

Edy Priyanto, Kepala Desa Jetak, Kecamatan Tosari, Kab Pasuruan mengatakan, tarian Ojung merupakan tarian tradisional yang ditarikan sebagai penutup rangkaian upacara Karo. “Itu memang tarian dari penutup upacara Karo. Tapi sekarang ini Ojung-Ojungan justru jadi tontonan menghibur bagi warga. Kami sering diminta tampil di luar upacara Karo, seperti sekarang ini,” kata Edy yang malam itu memimpin rombongan kesenian.

Dikisahkan Edy, tarian yang ditampilkan pada komunitaas #BicaraSurabaya itu sebetulnya punya tujuan tertentu. Yakni meminta turun hujan agar usai melakukan upacara Karo tanah warga Tengger kembali subur dan makmur.

Maklum, masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Bromo mengandalkan lahan pertanian. Kentang, wortel, daun prei serta kobis, selain padi nampak menghiasi sepanjang perjalanan dari Pasuruan menuju Penanjakan, Tosari.

Terpisah Plt Camat Tosari Kartono mengatakan, masyarakatnya sangat menggantungkan air hujan agar sawah dan ladang warganya subur. Untuk itulah, Ojung ditampilkan dengan musik tradisional dan tembang-tembang pujian dari sinden yang biasanya perempuan. (sak)