Pabrik Gula Glenmore Jadi Kebanggaan
EKONOMI BISNIS PERISTIWA

Pabrik Gula Glenmore Jadi Kebanggaan

Keberadaan pabrik gula modern di Glenmore Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi sebuah kebanggaan. “Setelah 31 tahun, hari ini dilakukan giling perdana di pabrik gula modern yang semuanya dikerjakan benar-benar dari nol oleh putra-putri Indonesia,” kata Menteri BUMN Rini Soemarno.

Pernyatan Rini disampaikan di sela kunjungan kerja saat hiling tebu perdana PG Glenmore, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Selasa (2/8) lalu. PT Industri Gula Glenmore (IGG), satu-satunya perusahaan gula termodern dan terintegrasi di Indonesia untuk mendorong pengembangan industri gula nasional.

PT IGG dengan nilai investasi senilai Rp 1,5 triliun ini akan memproduksi gula putih premium dengan target awal sebesar 6.000 ton tebu per hari (TTH). “Saya bangga dengan giling perdana di Glenmore ini, karena semua dikerjakan oleh putra bangsa dan saya harap semua industri gula di Indonesia bisa modern seperti di sini (IGG),” jelas Rini.

Total keseluruhan pabrik gula di Indonesia, sambung Rini, berjumlah 62 pabrik. Namun tak semuanya dikatakan layak lantaran ada beberapa pabrik yang dianggap pemerintah perlu direvitalisasi untuk menjadi lebih modern seperti PG Glenmore. Meski begitu, Rini belum menyebutkan jumlah pabrik gula yang akan direvitalisasi.

“Masih akan kita cek berapa yang perlu di revitalisasi. Tapi kami ingin semua pabrik gula di Indonesia bisa seperti di Banyuwangi,” imbuh Rini. BUMN melalui sinergi PTPN XI dan PTPN XII telah mendirikan PT IGG di Banyuwangi. Pabrik gula tersebut diharapkan bisa mengatrol produksi gula nasional.

Dirut IGG, Ade Prasetyo mengungkapkan, PG pelat merah ini akan melakukan giling tebu hingga 90 hari ke depan. Pabrik yang dibangun di atas lahan seluas 3.110 hektar ini, pada bulan Agustus dirancang berkapasitas 6.000 TTH dan bisa ditingkatkan hingga 8.000 TTH pada 2019 mendatang. Pada tahun 2018 mendatang, IGG akan bekerjasama dengan 120 hektar lahan rakyat dan 1.000 hektar lahan tebu dari swasta.

“Dengan alat-alat yang ada, efektifitas sebanding dengan rendemen yang dihasilkan. Kapasitas awal kita 6.000 TTH sebanding dengan 58 ton gula kristal per hari dan 2019 menjadi 8000 TTH atau 72 ton gula kristal per hari. Ya, lebih ringan untuk mencapai hasil rendemen 8.5-9 persen,” pungkasnya.

Normalnya, pabrik gula tebu bisa menghasilkan rendemen senilai 6,5 hingga 7 persen namun hasil rendemen gilingan tebu di PG Glenmore mencapai 8,5-9 persen.

Selain menjadi pabrik gula baru yang modern kedepannya IGG juga disiapkan menjadi wisata edukasi industri berbasis tebu. “Kami juga menyiapkan lokasi ini menjadi wisata edukasi. Kami telah menyiapkan 20 mess dan aula untuk itu,” imbuh Ade.

Direktur Utama PTPN XII Irwan Basri mengemukakan PG Glenmore menggunakan sistem karbonasi, di mana pengolahannya tidak menggunakan asam sulfat. Sehingga gula yang dihasilkan berupa gula kristal putih premium.

“Pada produksi gula ada istilah ICUMSA yang disepakati secara internasional. ICUMSA menunjukkan kadar warna gula. Untuk gula premium warnanya putih bersih dengan ICUMSA di bawah 100. Sedangkan gula yang kualitasnya kurang, ICUMSA-nya 300-500,” papar Irwan.

IGG ini dirancang sebagai pabrik modern, pasalnya limbah yang dihasilkan dikelola menjadi produk sampingan yang bermanfaat. Seperti mampu menghasilkan daya listrik 6 Mega Watt (MW), bioethanol, pupuk organik, dan pakan ternak.

“Listrik yang dihasilkan mencapai 2 x 10 megawatt. Listrik didapatkan dari ampas tebu atau bagas yang diproses dengan sistem cogeneration. Ke depan, bahkan akan kami olah lagi menjadi bioetanol dari tetes tebu. Perkiraan bioetanol yang bisa dihasilkan sekitar 80 KL per hari. Bioetanol ini untuk campuran BBM, sehingga bisa membantu pemerintah dalam memenuhi ketahanan energi nasional,” tutur Irwan. (sak)